MASALAH BERAT BADAN: Diet Asyik ala Light Weight Challenge

Berat badan ideal memang menjadi dambaan setiap orang. Salah satunya Mega Edyawati. Dia berhasil menurunkan berat badan lebih dari 20 kg hanya dalam waktu 12 minggu.
Tisyrin Naufalty Tsani | 02 Januari 2016 19:10 WIB
ilustrasi diet - bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Berat badan ideal memang menjadi dambaan setiap orang. Salah satunya Mega Edyawati. Dia berhasil menurunkan berat badan lebih dari 20 kg hanya dalam waktu 12 minggu.

Mega mengungkapkan ingin mendapatkan berat badan ideal demi menunjang karirnya kelak. Mahasiswa berusia 20 tahun ini adalah pemenang ajang Light Weight Challenge (LWC) 2015. Program tersebut merupakan program penurunan berat badan komprehensif yang diadakan oleh Klinik Lighthouse.

Tidak hanya melibatkan dokter gizi saja, tetapi juga melibatkan dokter olahraga, perawat, ahli gizi, dan psikolog. Peserta program harus menghindari makanan yang mengandung gula, tepung, dan minyak karena dapat memicu pertambahan berat badan.

"Saya suka makan mie instan dan cakue, pantas saja dulu gemuk," kata Mega. Selama mengikuti program, Mega diajari untuk mengontrol diri sendiri dalam hal makan, karena itu program tersebut melibatkan psikolog.

Program tersebut juga memanfaatkan alat bantu, seperti aplikasi dan permainan edukatif. Program Light Weight telah terbukti 3,5 kali lebih efektif untuk menurunkan berat badan dibandingkan dengan konsultasi dan terapi konvensional biasa yang banyak ditemui di klinik penurunan berat badan lainnya.

Menurut pendiri Light House Grace Judio-Kahl, dalam menurunkan berat badan seseorang tidak bisa melakukannya hanya dengan mengatur pola makan saja. Namun, dia juga harus belajar mengontrol diri sendiri.

Dia menjelaskan naik turunnya berat badan seseorang berkaitan erat dengan metabolisme tubuh. Metabolisme pada dasarnya semua proses kimiawi yang terjadi dalam tubuh untuk mengubah zat gizi menjadi energi.

Energi tersebut akan digunakan tubuh untuk bekerja menjalankan fungsinya. Energi dapat diibaratkan sebagai 'bensin'. Seberapa cepat dan seberapa banyak tubuh memakai 'bensin' itulah yang mempengaruhi berat badan.

Jika tubuh cepat memakainya artinya tergolong boros, mengisi 'bensin' sebanyak apapun tetap kurang, sehingga dia susah gemuk. Pada sisi lain, ada orang yang metabolismenya lambat alias 'irit bensin'.

Dia sudah olah raga mati-matian tetapi pemakaiannya sedikit sehingga 'bensin' ditabung dan berat badannya naik. "Itu yang disebut dengan metabolisme lambat dan itu mengganggu penurunan berat badan," kata pemerhati gaya hidup sekaligus dokter ini.

Tidak semua orang dikaruniai sistem metabolisme yang sempurna. Selain faktor ge netik, ada beberapa hal yang memicu me ta -bolisme menjadi lambat yaitu diet yang salah, misalnya asal-asalan mengurangi kalori, konsumsi makanan dengan gizi tidak berimbang, atau kebiasaan makan yang tidak stabil.

Kebiasaan makan yang tidak stabil misalnya hari ini banyak makan, kemudian esok harinya diet, akan membuat tubuh 'irit bensin' karena tubuh tidak tahu kapan akan ada asupan makanan lagi. Selain itu, kebiasaan makan hanya sekali dalam sehari karena diet ketat juga dapat memicu metabolisme menjadi lambat.

Dengan metabolisme yang lambat, tubuh pun berisiko menjadi gemuk. Untuk menjaga metabolisme, seseorang dapat melakukan olah raga dua kali seminggu kemudian menjaga pola makan yang konsisten.

Ada beberapa makanan yang konon dapat meningkatkan metabolism, seperti teh hijau, kopi, dan cabai. Namun, untuk memperoleh khasiatnya perlu dikonsumsi dalam jumlah sangat banyak.

Konsumsi obat juga dapat membantu mempercepat metabolisme pada kasus-kasus tertentu. Lalu bagaimana pola makan yang baik?

Grace menganjurkan agar mengikuti kebutuhan tubuh, yaitu makan saat merasa lapar. Biasanya, seseorang akan merasa lapar pada pukul 6 pagi, 12 siang, dan pukul 6 sore. Jika terbangun di tengah malam pun biasanya akan merasa lapar. "Harus mendengarkan bahasa tubuh," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diet, berat badan

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (1/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top