Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gaya Indo Kolonial di Apotek Chung Hwa

Terletak di sudut jalan Pancoran 6 Grogol Jakarta Barat, bangunan tua eks Apotheek Chung Hwa berada di lokasi yang strategis. Sebab, bangunan yang berdiri sejak 1928 ini berada di gerbang masuk ke kawasan Kota Tua Jakarta dan pintu gerbang ke daerah Pecinan.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 05 Januari 2016  |  08:40 WIB
Gaya Indo Kolonial di Apotek Chung Hwa
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA - Terletak di sudut jalan Pancoran 6 Grogol Jakarta Barat, bangunan tua eks Apotheek Chung Hwa berada di lokasi yang strategis. Sebab, bangunan yang berdiri sejak 1928 ini berada di gerbang masuk ke kawasan Kota Tua Jakarta dan pintu gerbang ke daerah Pecinan. Eks Apotheek Chung Hwa merupakan satu dari 17 bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta yang sedang direvitalisasi Jakarta Old Town Revitalization Corps (JOTRC).
 
Bangunan tua yang sebelumnya tidak terawat dan mengalami kerusakan karena pemotongan jalan dan proses pelapukan, kini tampil cantik sebagai Pantjoran Tea House dengan gaya arsitektur Indo Kolonial bernuansa China Town. Bagian eksterior bangunan masih mempertahankan bentuk bangunan lama dengan gaya arsitektur indo kolonial. Sementara pada bagian interiornya bernuansa China Town.
 
Arsitek sekaligus Project Manager PT Pembangunan Kota Tua Jakarta Anneke Prasyanti menjelaskan gaya arsitektur Indo Kolonial arsitektur yang muncul setelah era kemerdekaan, akibat dari pengaruh Belanda tetapi juga mengadopsi kearifan lokal. Adaptasi terlihat dari penggunaan bentuk kuda-kuda sebagai struktur atap.
 
Pada umumnya, bentuk kuda-kuda terlihat pada hunian lokal masyarakat Jawa, Sunda, dan lain lain. Bentuk kuda-kuda sebagai struktur atap ini berfungsi untuk mengurangi udara panas pada ruangan. 
 
Dia menjelaskan gaya arsitektur Indo Kolonial diciptakan oleh insinyur Belanda dengan membawa teknologi dari negara asalnya untuk diaplikasikan di Indonesia. Pada saat itu, arsitektur hunian yang dibawa tidak menerapkan bentuk kuda-kuda sebagai struktur atap. Namun, hal ini justru menyebabkan bangunan lembab dan panas pada ruangannya. Hingga kemudian, mereka mengadopsi kearifan lokal pada gaya arsitektur mereka.
 
“Berat jenis udara panas lebih tinggi dari udara dingin. Sehingga udara panas ada di atas, udara dingin ada di bawa. Jadi ketika bangunan tinggi, kita tidak terasa panas. Sebab, udara panas akan keluar melalui kisi-kisi genteng tersebut,” jelasnya.

Sementara, sentuhan China Town tampil pada interior bangunan seperti, lattice dan ubin. Lattice berupa ukiran kayu dengan ornamen China, yang menggantikan fungsi dinding.

Nafas China Town juga tampil melalui ubin berukuran 25x25 cm dengan ornamen China. Ubin disusun sebagai pusat lantai yang membentuk border. Deretan jendela yang berada di lantai dua memberikan keuntungan pada cahaya alami yang masuk ke ruangan. Namun, ini sekaligus membuat keadaan dalam ruang menjadi panas. Hal ini dapat disiasati dengan membuka jendela seluruhnya untuk pergantian udara.
 
 
 
 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

arsitektur
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top