Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Mengapa Saat Lapar Jangan Bikin Keputusan Penting

lmuwan mengatakan, tak boleh membuat keputusan penting saat perut lapar.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 12 Mei 2016  |  02:40 WIB
Ilustrasi kelaparan - Istimewa
Ilustrasi kelaparan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA- lmuwan mengatakan, tak boleh membuat keputusan penting saat perut lapar.

Ini karena hormon yang disebut ghrelin yang diproduksi oleh lambung saat mengantisipasi makanan, memiliki dampak negatif terhadap pengambilan keputusan.

Hormon yang meningkatkan selera makan tersebut juga mengurangi kemampuan mengendalikan dorongan yang muncul dari dalam diri kita.

“Untuk kali pertama kami bisa menunjukkan bahwa peningkatan ghrelin ke  level-level yang biasa terlihat sebelum kita makan atau saat berpuasa, menyebabkan otak untuk bertindak secara impulsif dan juga mempengaruhi kemampuan untuk mengambil keputusan yang rasional,” kata Karolina Skibicka dari Akademi Sahlgrenska, Universitas Gothenburg.

Tim peneliti yang dipimpin Skibicka mengeksplorasi dorongan tersebut yang bisa dibagi menjadi tindakan impulsif (ketidakmampuan untuk menahan respons motorik) dan pilihan impulsif (ketidakmampuan untuk menunda kepuasan).

Tikus

Dengan mempelajari tikus, para peneliti menemukan bahwa, seperti kita manusia, hewan tersebut juga sulit untuk menahan diri untuk menyantap makanan ringan, meski mereka tahu makan malam akan segera dihidangkan.

Tikus-tikus tersebut dilatih untuk mengharapkan imbalan yang manis saat mereka menekan tuas “go” atau saat mereka bisa menahan diri untuk tidak menekan tuas lainnya yang bertuliskan “no go”.

Tikus-tikus ini diperintahkan untuk melakukan tindakan yang mana dengan menggunakan sinyal berbentuk sinar lampu atau bunyi berdengung.

Dalam eksperimen ini, ketidakmampuan hewan-hewan itu untuk menahan diri untuk tidak menekan tuas “no go” menunjukkan sebuah dorongan.

Kemampuan Menunda

Para peneliti menemukan bahwa tikus-tikus yang mengirimkan ghrelin langsung ke otak (mirip dengan perut yang memberitahu kita kapan saatnya untuk makan), memiliki kecenderungan lebih besar untuk menekan tuas daripada menunggu meski mereka tahu tindakan itu akan membuat mereka kehilangan imbalan.

Kemampuan untuk menunda kepuasan demi mendapatkan imbalan yang lebih bagus kemudian adalah ukuran yang sebanding dengan pilihan impulsif.

Seseorang yang memilih kepuasan yang lebih cepat daripada keuntungan jangka panjang disebut sebagai sosok yang impulsive yang menunjukkan kurangnya kemampuan dalam membuat  keputusan yang rasional.

Para peneliti menemukan, bahwa tingkat ghrelin yang lebih tinggi membuat tikus-tikus tersebut tak mau menunggu untuk mendapatkan imbalan mereka.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perut lapar

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top