Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bangkitnya Label Makeup Independen di Indonesia

Setahun belakangan, dunia makeup and beauty di Indonesia menuai momentum kebangkitannya, seiring dengan meledaknya pergerakan beauty society di berbagai forum media sosial.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 25 Juni 2016  |  11:44 WIB
Ilustrasi - beautymnl.com
Ilustrasi - beautymnl.com

Bisnis.com, JAKARTA - Setahun belakangan, dunia makeup and beauty di Indonesia menuai momentum kebangkitannya, seiring dengan meledaknya pergerakan beauty society di berbagai forum media sosial.

Booming komunitas kecantikan tersebut turut melahirkan fenomena baru, yaitu kemunculan berbagai label kosmetika mandiri (independent/indie). Label-label indie makeup terus bermunculan dengan kualitas yang semakin bersaing.

Indie makeup bukan label abal-abal yang tidak melalui proses uji klinis dan perizinan yang memadai. Produk buatan perusahaan indie sama terstandarnya dengan produksi perusahaan makeup besar, hanya saja skala hitungan kapital/modalnya lebih kecil.

Alhasil, industri kosmetika pun tidak lagi didominasi oleh pemain-pemain besar yang sudah senior di bidangnya. Merek-merek kosmetika indie memberi warna baru pada dunia kecantikan dan geliat kompetisi bisnis yang memecahkan rekor sejarah.

Di hampir semua negara, merek-merek kosmetika indie bahkan mulai merebut pangsa pasar industri kosmetika mainstream melalui jaminan kualitas. Tidak hanya itu, kosmetika indie juga menjangkau ceruk pasar yang tidak terjamah industri besar.

Beberapa label indie makeup yang terkenal misalnya Sugarpill, Morphe, Melt Cosmetics, Jeffree Star Cosmetics, Violet Voss, Makeup Geek, Girlactick, SauceBox Cosmetics, Gerard Cosmetics, EX1, Velour Lashes, ColourPop, Sigma Beauty, Zoeva, dan lain-lain.

Setahun belakangan, demam label kosmetika indie juga mulai merasuki Indonesia. Berbagai merek indie makeup lokal terus bermunculan, dan menyedot atensi para beauty enthusiasts Tanah Air.

Spektrum pasar kosmetika lokal pun semakin melebar. Masyarakat tidak lagi hanya mengidentikkan makeuplokal dengan merek-merek mainstreamseperti Sari Ayu Martha Tilaar, Mustika Ratu, Viva, Red-A, Wardah, Makeover, PAC atau Biokos.

Salah satu pemilik perusahaan kosmetika indie adalah Sonia Dewi Wiriadinata yang mendirikan label Cascara Cosmetics. Label tersebut terkenal akan produk lip cream dengan seleksi palet warna yang variatif dan sesuai untuk segala usia.

Lantas, bagaimana Sonia menjalankan bisnis kosmetika indie? Apa yang menginspirasinya dan bagaimana dia menghadapi kompetisi kosmetika indiedi Tanah Air yang semakin ketat? Berikut penuturannya:

Bagaimana awal mula membentuk label kosmetika indie?

Pada dasarnya saya sudah berkecimpung di dunia kecantikan selama 10 tahun lebih. Sebelumnya, saya memiliki bisnis klinik kecantikan yang sudah memiliki 10 cabang dan tersebar di Jawa Barat.

Nah, label Cascara Cosmetics ini sebenarnya merupakan kelanjutan dan pengembangan dari bisnis klinik kecantikan itu. Saya mulai mendirikan label tersebut sekitar 4 bulan yang lalu, dengan produk awal berupa lip cream.

Saya membuat lip cream karena memang saat ini produk pewarna bibir sedang sangat tren. Namun, ke depannya saya akan melengkapi produk dekoratif Cascara dengan perlengkapan untuk alis, bedak, dan sebagainya.

Mengapa memilih lip cream sebagai ‘produk perkenalan’?

Selain karena lipstik cair sedang sangat populer, saya merasa bahwa produk lipstik fleksibel untuk dipakai siapa saja, mulai dari usia remaja hingga dewasa. Para remaja yang baru mulai belajar merias wajah, pasti pertama kali mengenal produk kecantikan adalah lipstik.

Dalam mendirikan label kosmetika indie, apakah Anda berkolaborasi dengan mitra atau perusahaan kosmetika lain?

Saya tidak berkolaborasi dengan perusahaan kosmetika lain. Label ini murni saya dirikan secara mandiri. Namun, untuk formulasi dan produksi, saya bekerjasama dengan pabrik kosmetik.

Bagaimana penentuan kerjasamanya?

Jadi, saya yang bertugas menentukan warna. Lalu, pabrik yang memberi saran formulanya dan memproduksinya. Namun, untuk formula, tetap saya yang menentukan sesuai keinginan saya.

Saya ingin menciptakan brand image yang kuat, sehingga saat orang mencari lipstik, mereka akan mencari Cascara. Untuk itu, saya membuat banyak pilihan warna. Sejauh ini ada 15 pilihan warna dalam koleksi kami.

Saat ini saya sedang mengembangkan 6 warna lagi, sehingga nantinya akan ada 21 warna lip cream. Dibandingkan dengan merek kosmetika indie lokal lainnya, kami yang memiliki seleksi warna terbanyak sejauh ini.

Jika dilihat dari trennya, kapan sebenarnya label kosmetika indie ini menjadi booming di Indonesia? Apa yang memengaruhi?

Label makeup indie ini baru populer sekitar 6 bulan hingga 1 tahun lalu di Indonesia, akibat pengaruh pergerakanbeauty society di Instagram dan YouTube. Banyak beauty vlogger danblogger yang memberi ulasan terhadap suatu produk dan menjadikannya populer.

Salah satu produk yang paling banyak diulas oleh mereka adalah lipstik cair. Pada awalnya, mereka hanya me-review produk kosmetika indie impor yang sangat laku di dunia, seperti Girlactick, Ofra, atau L.A. Girl.

Dari sana, lama-kelamaan para pengusaha lokal mulai melirik pangsa pasar tersebut. Sebab, belum ada produsen makeup lokal yang membuat produk serupa. Akhirnya banyak yang berpikir, ‘Kenapa tidak membuat sendiri? Toh kualitas kosmetika lokal tidak kalah.’

Akhirnya, perusahaan lokal mulai beramai-ramai membuat produk kosmetika yang sedang populer di dunia. Sejalan dengan itu, label-label kosmetika baru pun semakin bermunculan. Dan, tren boomingkosmetika indie lokal ini diprediksi akan terus berlanjut sampai 2-3 tahun ke depan.

Sebesar apa ceruk pasar kosmetika indie di Indonesia, jika dibandingkan dengan merek-merek yang sudah mapan atau kosmetika impor?

Menurut saya cukup bagus. Itu tercermin dari jumlah permintaan untuk produk Cascara saja. Kami terus melakukan evaluasi. Pada produksi tahap pertama, kami membuat 5.000 pieces lipstik cair.

Ternyata, dalam waktu kurang dari dua bulan produk kami habis terjual. Padahal, kami adalah merek baru yang, pada waktu itu, relatif belum dikenal. Itu menunjukkan beauty society saat ini lebih berani bereksmerimen dan mencoba merek baru yang dinilai inovatif.

Siapa pangsa pasarnya?

Pangsa pasarnya adalah perempuan mulai dari usia 15 hingga 40 tahun, alias perempuan pada usia produktif. Kami sudah menjual produk kami ke seluruh Indonesia.

Bagaimana strategi pemasarannya?

Pada awalnya kami hanya melakukan promosi melalui Instagram, dan melakukan endorse melalui parabeauty blogger dan vlogger maupun melalui selebgram. Namun, ke depannya kami akan merambah strategi baru.

Kami sudah membuka kesempatan untuk menjadi open reseller. Rencana ke depannya, kami akan menggandeng distributor di setiap provinsi dan kota. Sejauh ini, yang sudah deal adalah di Sulawesi dan Bali.

Selain itu, kami akan terus memperkuat brand image dengan menghadirkan booth-booth di pusat-pusat perbelanjaan. Sehingga, konsumen tidak hanya bisa mendapatkan produk kami melalui media online, tapi bisa langsung melihatnya di konter-konter.

Bicara soal produk, apa yang membedakan label Anda dengan label kosmetika indie lain?

Cascara Cosmetics memiliki rangeharga yang cukup mahal untuk standar kosmetika indie. Satu item kami banderol dengan harga Rp135.000, padahal merek-merek indie lokal lain menjual rata-rata pada kisaran harga Rp50.000-Rp60.000.

Meskipun agak sedikit mahal, saya bisa memastikan produk Cascara aman dan teruji. Meskipun dalam bentuk lipstik cair, produk kami lembab dan tidak membuat bibir kering. Saya mengujikannya pada bibir saya sendiri.

Bibir saya ini sangat sensitif. Jika terkena produk yang membuat kering sedikit saja, pasti akan langsung mengelupas. Jadi, saya selalu berpesan kepada formulatornya untuk membuat produk yang tidak kering di kulit.

Sebelum diproduksi dalam jumlah banyak, saya selalu mencobanya terlebih dahulu. Kalau di bibir saya cocok, baru saya berani lepas ke pasar. Saya juga mencoba merek-merek indielainnya, dan saya rasa kebanyakan dari mereka membuat bibir kering.

Keunggulan lainnya, saya selalu bereksperimen dengan warna dan tidak sekadar mengikuti tren atau apa yang disarankan oleh formulator. Itulah mengapa warna-warna dalam produk kami tidak ada yang bisa menyamai persis. Selain itu, produk kami sangat berpigmen tinggi.

Apa tantangan membangun brand image dari kosmetika indie di Indonesia?

Karena persaingan yang sudah semakin ketat, kami harus terus berinovasi. Saya ingin terus memproduksi barang yang tidak dimiliki oleh label lain. Jadi, tidak asal mengikuti tren di dalam negeri.

Saya terus memperhatikan tren yang sedang berkembang di luar, tapi belum diproduksi oleh perusahaan kosmetika manapun di dalam negeri. Rencananya saya akan membuat brow pomade seperti Anastasia Beverly Hills.

Jadi, kuncinya buatlah sesuatu yang beda dan belum diproduksi kompetitor di dalam negeri. Jadilah pioneer.

Dari segi prospek bisnis, apakah Anda merasa booming kosmetikaindie ini bisa sustain?

Ya, kalau saya lihat, tren ini akan berkembang dan berlanjut terus. Sebab, yang namanya kosmetik, setiap perempuan pasti membutuhkan. Makanya, kami harus terus berinovasi. Jangan terpatok pada satu produk.

Misalnya, karena sudah sukses dengann lip cream, jangan hanya terpatok pada produk itu. Tren akan terus berkembang. Jadi, kita harus terus berkembang juga. Dan, yang namanya produk kecantikan, pasti seumur hidup akan terus dibutuhkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tren kecantikan
Editor : Andhina Wulandari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top