Saat Nuansa Timur dan Barat Bertemu di Kotak Kuning

Berbentuk kotak, terdiri atas batang-batang kuning, dan memiliki empat pintu. Itulah A Journey Towards Peace And Serenity, karya instalasi milik arsitek Cosmas D. Gozali.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 02 Agustus 2016  |  10:02 WIB
Saat Nuansa Timur dan Barat Bertemu di Kotak Kuning
A Journey Towards Peace And Serenity - domusweb.it

Bisnis.com, JAKARTA- Berbentuk kotak, terdiri atas batang-batang kuning, dan memiliki empat pintu. Itulah A Journey Towards Peace And Serenity, karya instalasi milik arsitek Cosmas D. Gozali.

Karya tersebut terinspirasi dari bangunan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.  Namun dia hanya mengadaptasi filosofi bangunan candi terbesar di dunia itu.  
 
Secara filosofis bangunan candi itu menggambarkan proses perjalanan menuju pencapaian jiwa tertinggi dalam konsep kebudhaan.
 
"Selain candi, saya juga mengambil filosofi kelontongan bambu yang mampu memberikan suara-suara alami. Jadi begitu orang masuk, bambu-bambu itu akan berbunyi," ujarnya dalam sebuah diskusi di Instituto Italiano di Cultura, Jakarta, Kamis 16 Juni lalu.
 
Di sisi lain, melalui instalasinya ini Cosmas juga ingin unsur ketimuran dapat dirasakan pada karya yang bernuansa kontemporer ini. Dengan demikian, ada paduan antara budaya barat dan timur di dalamnya pada karyanya tersebut.
 
Lantaran konsepnya itu Cosmas diundang arsitek dari Italia untuk memamerkan karyanya di sana. Alhasil pada Februari dan April tahun ini, karya instalasi Cosmas telah dipamerkan di di Museum Maxximus di Roma dan Museum The National Museum of Science & Technologi, Milan, Italia.
 
"Kebetulan Indonesia belum tapi jika ada peluang saya akan pameran," tuturnya, Selasa (2/8/2016).
Dirancang pada 2015, secara spesifik instalasi ini berbentuk kotak persegi empat yang terdiri atas batang-batang pipa kuning. Pipa-pipa tersebut bermaterial alcantara berupa paduan polyester 68% dan polyurethane 32% kemudian dilapisi paper cup.
 
"Dari luar terlihat benda itu begitu sederhana dan abstrak sehingga orang penasaran untuk masuk ke dalamnya," ujarnya.
 
Kemudian di kotak ini ada empat pintu masuk yang menyimbolkan arah arah mata angin yakni timur, barat, utara, dan selatan. Adapun ketinggiannya hanya dibuat 1,5 m. Alasannya, menurut Cosmas hal tersebut sesuai dengan tradisi filosofi budaya timur yakni ketika kita memasuki rumah orang lain maka harus membungkukkan sedikit badan sebagai tanda hormat.
 
Saat di dalam instalasi, seseorang akan merasa pengalaman spiritual baru sebagaimana yang tercipta pada bangunan Borobudur dengan tingkatan Kamadhatu dan Rupadhatu. Berlanjut ke tengah, mereka akan berada pada titik puncaknya atau berada di posisi Arupadhatu.
 
Cosmas menyebutnya ketika berada di tengah-tengah kotak ruang instalasinya seseorang akan merasa kedamaian dan keheningan. Nuansa tersebut akan semakin terasa dengan efek sinar-sinar lampu yang temaram. Mulai dari masuk pintu hingga berada di tengah-tengah ruangan seseorang akan merasakan proses menuju kedamaian.
 
Meski sebagai karya seni instalasi bernuansa budaya timur dan barat, Cosmas mengatakan karyanya ini bisa dijadikan untuk tempat bermeditasi di rumah. Namun dia belum memikirkan lebih jauh untuk memproduksi massal karyanya itu.
 
"Pengunjung pameran di Italia banyak bilang saya butuh tempat ini di rumah. Memang ketika berada di dalam, kita akan merasakan keheningan karena tujuannya saya memang itu mencapai kedamaian," imbuhnya.
 
Mengenai pemilihan kuning, Cosmas sengaja ingin menonjolkan nilai-nilai kebudhaan dalam karyanya. Sebab warna-warna kuning biasa terdapat pada pakaian biksu. Selain itu, warna ini dipilih karena merepresentasikan bambu sebagai simbol kebudayaan timur. Bambu juga bagi masyarakat timur kerap digunakan untuk kerajinan-kerajinan tangan.
 
"Saya sengaja tidak memilih bambu asli, hanya mencoba menghadirkan sifat-sifat bambu itu seperti warna dan bentuknya. Jadi timur itu lebih ke konsepnya, kemudian aplikasinya kontemporer yang mewakili barat," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
arsitektur

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top