Gangguan Tidur: Sleep Apnea Membuat Badan Letih dan Tak Segar

Tidur yang lelap dan berkualitas memberi dampak positif bagi kesehatan. Sebaliknya, gangguan tidur seperti yang diakibatkan sleep apnea ternyata menjadi penyebab orang merasa letih dan tidak segar saat bangun di pagi hari.
Ramdha Mawaddha
Ramdha Mawaddha - Bisnis.com 17 Maret 2017  |  20:43 WIB
Gangguan Tidur: Sleep Apnea Membuat Badan Letih dan Tak Segar
Ilustrasi - covingtonsmiles.com

Bisnis.com, JAKARTA—Tidur yang lelap dan berkualitas memberi dampak positif bagi kesehatan. Sebaliknya, gangguan tidur seperti yang diakibatkan sleep apnea ternyata menjadi penyebab orang merasa letih dan tidak segar saat bangun di pagi hari.

Hal ini dikarenakan napas mereka menjadi pendek atau bahkan sempat berhenti sejenak saat tidur di malam hari. Kondisi ini mengkhawatirkan karena penderita mengalami sesak napas dan sering terbangun akibat rendahnya tingkat oksigen di dalam tubuh dan otak.

Menurut studi dari American Academy of Sleep Medicine, gejala umum dari sleep apnea adalah kelelahan, sulit berkonsentrasi, kehilangan memori, sakit kepala, insomnia, lekas marah serta penyakit jantung dan depresi.

Sementara itu dalam sebuah Jurnal Penyakit Dalam Indonesia disebutkan bahwa hampir 24% dari populasi menderita sleep apnea. Jumlah pria dengan sleep apnea empat kali lebih banyak dibandingkan perempuan. Dalam kelompok usia di atas 65 tahun, 10 persennya memiliki kondisi tersebut.

"Saat ini belum ada penelitian nasional mengenai prevalensi sleep apnea, sebuah studi yang dilakukan hanya di wilayah Jakarta menunjukkan bahwa prevalensi di Ibu Kota negara mencapai 16%-17%," kata Dr. Rimawati Tedjakusuma, Sps, RPSGT dari Rumah Sakit Medistra dalam siaran pers dari Royal Philips, Jumat (17/3/2017).

"Sleep apnea bisa menjadi silent killer dengan gejala—seperti mendengkur, berhenti bernapas sesaat, sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil, tersedak, tercekik waktu tidur, bangun tidak segar, mengantuk berlebihan, sakit kepala di pagi hari, merasa lelah sepanjang hari—seringkali diabaikan, atau ada juga penderita berusaha mencoba mengatasi kondisi ini dengan berbagai cara. Dengan tingkat prevalensi di Indonesia, individu didorong untuk memeriksakan diri apakah ia menderita sleep apnea, karena ini berpotensi memburuk jika tidak ditangani," kata Rimawati.

Ada berbagai jenis kondisi apnea, dan dengan diagnosa yang tepat akan membantu penderita dalam memilih perangkat yang tepat untuk mengatasi dampak apnea yang tidak nyaman.

Royal Philips memperingati Hari Tidur Sedunia atau World Sleep Day tahun 2017 dengan membangun kesadaran tentang bahaya sleep apnea dan pentingnya tidur yang berkualitas.

"Di Philips, kami memahami bahwa kualitas tidur yang baik akan membuat kehidupan seseorang lebih berkualitas. Ini adalah salah satu alasan mengapa kami fokus pada upaya inovasi kami untuk menangani sleep apnea," kata Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia.

Tanggal 17 Maret adalah Hari Tidur Sedunia yang memberikan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan sleep apnea. Dengan begitupenderita atau mereka yang berpotensi menderita dapat menemukan cara untuk memulihkan kualitas tidur mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : Saeno
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top