Kehadiran Sapardi, Lewat Mana Lagi?

Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.
David Eka Issetiabudi | 26 Maret 2017 12:25 WIB
Sapardi Djoko Damono - Antara

“Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.”

Kutipan puisi Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari, rasanya menjadi bingkisan sederhana dalam perayaan lahir kembalinya Penyair Senior Sapardi Djoko Damono.

Enam buku puisi dan satu novel, menjadi kado bagi pencinta karya Tuan Sapardi, sekaligus sebagai penanda bahwa pensiunan Guru Besar Universitas Indonesia ini tetap segar dan renyah dalam berkarya.

Dari tujuh buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, hanya satu karya terbaru Sapardi, yaitu novel Pinkan Melipat Jarak.

Novel ini merupakan bagian dari trilogi Hujan Bulan Juni, sedangkan enam buku puisi merupakan kumpulan karya yang sebelumnya sudah pernah diterbitkan. Dalam perjalanan pengkaryaannya, sosok gaek ini, mengaku belum memiliki karya terbaik.

Dia berkelakar, karya terbaik adalah karya yang belum ditulisnya. “Tapi kalau yang paling serius, itu [puisi] Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari. Lha yang terbaik itu, karya yang belum saya buat,” ujarnya.

Dalam usia yang menginjak 77 tahun, Sapardi menampik bahwa peluncuran tujuh bukunya dikaitkan dengan keberuntungan.

“Takhayul. Ya kalau ada yang percaya dan benar-benar bagus membawa keberuntungan untuk karyakarya ini yang baik juga kan,” katanya.

Penerbitan tujuh buku karya Sapardi pada dasarnya adalah bukti bahwa di usia yang tak lagi muda, dan pembawaan fi sik yang mulai renta, tidak membuat Sapardi mengalah pada keterbatasan.

Dia tetap aktif berkarya. Dia mengaku jika tidak aktif berkarya akan berdampak negatif. “Bahaya, bisa pikun,” ujarnya.

Selama ini, penggemar karya Sapardi Djoko Damono datang dari lintas generasi. Khusus penggemar muda, apresiasi yang didapatkan Sapardi begitu beragam.

Apresiasi ala generasi muda ini menjadi tergambar dari kegelisahan tokoh Sarwono dengan sikap Pingkan, dalam novel Hujan Bulan Juni.

Perubahan zaman yang sedemikian cepat seringkali membuat generasi muda tidak mengenal puisi karya penyair ini, apalagi penyairnya langsung.

Musikalisasi puisi, yang digaungkan oleh Ari Malibu - Reda Gaudiamo atau Tatyana Soebianto - M. Umar Muslim, justru menjadi pintu masuk karya Sapardi agar dapat dikenal oleh khalayak.

Tren musikalisasi puisi Sapardi mulai dikenal pada kahir 1980-an, dan terus berkembang hingga saat ini. Musikalisasi puisi tersebut bahkan digunakan hingga ke bangku sekolah untuk dijadikan sarana edukasi kesusastraan Indonesia.

Menjadi wajar jika nama Sapardi baru dikenal setelah karyanya hadir dalam bentuk lain, mengingat kebudayaan sastra lisan Indonesia yang begitu kental.

Tren musikalisasi puisi tersebut bahkan tidak luput dari perbincangan kalangan penyair sendiri. Terbukti dari pengakuan Penyair Joko Pinurbo bahwa karya puisi yang dimusikalisasi membuka pintu karya sastra untuk semakin diterima dan dipahami oleh publik.

“Konten bisa dihasilkan dengan berbagai cara, dan tentu tidak mengorbankan isi,” ujar Sapardi.

MEDIUM KARYA

Terkait perubahan medium dari karya puisinya, Sapardi mengaku tidak ambil pusing atau khawatir karya terbaru yang berubah bentuk akan merusak makna dari produk originalnya.

Dia mencontohkan rencana pembuatan fi lm Hujan Bulan Juni, yang diadaptasi dari novelnya. Sembari bergurau dia mengatakan jika film laku keras, akan berdampak positif baginya, tetapi jika gagal mendapatkan apresiasi dari penikmat, maka semua itu kesalahan sang pembuat film. “Ya bagus kalau dibuat fi lm, kan saya ikut dapat rezeki,” tuturnya.

Joko Pinurbo yang mengikuti proses berkarya Sapardi mengungkapkan bahwa penyair besar itu tidak pernah berhenti pada zona nyaman.

“Kegelisahan terus dicarinya. [Karyanya] mulai dari DukaMu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, hingga novel Hujan Bulan Juni yang disajikan dengan bahasa yang sedang ‘tune in’ merupakan bukti,” ujarnya.

Dia mengatakan upaya Sapardi untuk menggunakan gaya bahasa yang biasa digunakan oleh Generasi Y bertujuan untuk mendekatkan diri dengan pembacanya. “Apakah masih mudah diterima jika penyajian sastra hadir masih dengan gaya Ronggowarsito, tentu tidak masuk,” kata Joko.

Khalayak pencinta puisi pasti melihat bahwa Sapardi tetap ‘muda’ dilihat dari penggemar yang lahir dari era-90an.

Publik terus menunggu ‘kesaktian’ Sapardi melalui karyanya yang tidak hanya mampu menurunkan hujan di kala kemarau, tetapi juga membuat embun terus bersemayam di tengah terik kota. Dirgahayu Tuan Sapardi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokoh sastra, Sapardi Djoko Damono

Sumber : Bisnis Indonesia (25/03/2017)

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top