Inilah Keistimewaan Tenun Ikat Sumba

Dataran savana di belahan Indonesia bagian Timur memang elok rupanya. Sayang, daerah ini minim kesejahteraan akibat pembangunan infrastruktur yang belum merata. Namun, di balik itu, semangat mempertahankan warisan budaya masih sangat terasa.
Nirmala Aninda | 18 Agustus 2017 07:28 WIB
Seorang perajin tenun ikat Sumba Timur menjemur hasil tenunnya di Kampung Adat Raja Prailiu di Waingapu, Sumba Timur NTT, Selasa (4/7). Tenun ikat Sumba Timur harganya berkisar dari Rp500-Rp15 juta perkain tenun tergantung proses dan kesulitan pembuatannya. ANTARA FOTO - Kornelis Kaha

Bisnis.com, JAKARTA - Dataran savana di belahan Indonesia bagian Timur memang elok rupanya. Sayang, daerah ini minim kesejahteraan akibat pembangunan infrastruktur yang belum merata. Namun, di balik itu, semangat mempertahankan warisan budaya masih sangat terasa.

Mereka adalah kelompok perajin Lukamba Nduma Luri (benang yang memberi ruh) yang mencukupi kebutuhan hidupnya dari membuat kain di tengah mayoritas penduduk yang bertumpu pada usaha bertani dan beternak.

Ketua Lukamba Nduma Luri Fidelis Tasman Amat, mengatakan proses pembuatan kain tenun ikat Sumba tak hanya melibatkan tangan para perajin, juga banyak melibatkan campur tangan alam.

Dari awal, proses pembuatan kain berbahan baku kapas asli ini menggunakan teknik ikat dengan memanfaatkan daun gewang untuk menciptakan motif. Setelah itu, kain dijemur dalam sepekan setiap sekali pencelupan warna.

Setelah semua warna sudah selesai, kain dicelup dengan minyak kemiri. Setelah kering, kain ditaruh di dalam keranjang untuk proses pemeraman atau pematangan selama sebulan.

"Dalam proses pembuatan kain, terkadang kami harus menunggu tanpa melakukan apa-apa. Proses ini lamanya sekitar satu bulan agar warna semakin matang. Kami memang sering tergoda untuk melewatkan proses ini. Namun, itu sama saja mengurangi nilainya," ujarnya, belum lama ini.

Membuat kain Sumba, lanjutnya, berbeda dengan memelihara sapi. Semakin tua sapi, semakin kurus dan semakin murah harganya. Sementara kain Sumba, semakin lama disimpan, semakin mahal harganya karena semakin matang warnanya.

Demi menjaga nilai luhur, kain tenun Sumba hingga kini masih menggunakan pewarna alam, yakni akar mengkudu untuk warna merah, daun indigo untuk warna hitam, dan kayu kuning atau sogan untuk warna kekuningan. Palet warna inilah yang menjadi pembeda kain Sumba.

Motif

Motif dengan bentuk bervariasi dibentuk dengan ukuran yang masif. Banyak motif yang terinspirasi dari hewan, misalnya motif kuda yang melambangkan harga diri perempuan, maka kain ini juga digunakan sebagai mas kawin.

Selain hewan, kain papanggan atau kain yang memvisualisasikan prosesi pemakaman raja, juga sering dipakai saat acara adat.

Dengan waktu sekitar enam bulan, pengerjaan dan keterampilan pemotifan khusus, tak heran kain ini dihargai pada kisaran Rp10 juta – Rp300 juta.

Hal ini langsung menyita perhatian lembaga baru yang digagas oleh Dian Sastrowardoyo dan rekan-rekannya. Yayasan Dian Sastrowardoyo berupaya menjembatani para perajin dengan pecinta kain tradisional yang banyak tersebar di perkotaan.

Salah satunya menggalang dana melalui penjualan kain tenun koleksi kelompok penenun Lukamba Nduma Luri. Keuntungan dari penjualan akan digunakan untuk pengadaan akses air bersih di Wairinding, Kecamatan Pandawai bekerja sama dengan Waterhouse Project dan renovasi rumah adat Prainatang, Sumba Timur.

Hal ini disebabkan penduduk Wairinding masih keterbatasan dengan akses air bersih. Mereka harus berjalan sekitar 2 jam untuk mencapai sumber mata air yang terletak di bukit yang sulit dijangkau.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tenun ikat

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top