Begini Cara Asyik Belajar Sejarah

Belajar sejarah tidak hanya melalui buku. Namun juga bisa dilakukan dengan cara yang lebih asyik yaitu mereka ulang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah. Kegiatan ini biasa disebut dengan istilah re-enactment.
Dika Irawan | 30 Desember 2017 06:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Belajar sejarah tidak hanya melalui buku. Namun juga bisa dilakukan dengan cara yang lebih asyik yaitu mereka ulang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah. Kegiatan ini biasa disebut dengan istilah re-enactment.

Kini komunitas-komunitas reenactor pun sudah bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia. Mereka biasa menggelar kegiatan merekonstruksi ulang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah. Ciri khas komunitas ini adalah para pelakunya mengenakan pakaian ala tentara pada masa lalu. Mulai dari Tentara Keamanan Rakyat hingga prajurit asing.

Boy Aries Tjahyono dari Paguyuban Reenactor Indonesia berbagi cerita tentang kegiatan reenactmen bersama komunitasnya. Berikut petikan wawancara Bisnis dengannya melalui sambungan telepon:

Bisa dijelaskan latar belakang berdirinya komunitas ini?

Jadi awalnnya itu dari [kegiatan] air soft gun. Namun, dalam perjalanannya beberapa dari kami mulai memperhatikan detail-detail sejarah. Kok bajunya zaman modern. Akhirnya kami gali literatur-literatur sejarah untuk mengetahui seperti detail-detail seragam yang dipakai perang pada saat itu. Kami juga bertanya dengan pelaku-pelaku sejarah. Dari situlah kami akhirnya menemukan detail-detailnya. Tidak hanya seragam, tetapi juga detail kejadian penting dalam sejarah. Entah itu di luar negeri maupun di dalam negeri.

Kami juga telah bekerjasama dengan pemkot dan pemda untuk menggelar kegiatan seputar reenactment seperti di Surabaya, Bekasi, dan Bandung. Rencananya kami akan menggelar even nasional dengan latar belakang perang dunia II, sekitar Februari di Bukit Sentul. Saat ini terdaftar 35 orang pegiat reenactmen dari berbagai daerah. Termasuk dua jurnalis dari Jerman yang mau meliput kegiatan ini.

Bagaimana dengan riset sejarahnya?

Kami biasa mengunjungi museum-museum untuk melihat-lihat detail-detail seragam perang. Kemudian membaca buku. Kami ingin tahu pula taktik perang seperti apa yang merka gunakan. Apalagi sekarang ada internet riset jadi lebih mudah.

Anggotanya dari kalangan mana saja? Ada syarat khususkah?

Beranekaragam mulai dari mahaiswa, pelajar, pengusaha hingga Tni, dan Polri. Walau beragam tetapi tujuan kami sama yaitu memperhatikan sejarah. Kita tidak ada persyaratan khusus yang penting ada kemauan belajar sejarah. Untuk anggota yang aktif ada sekitar 35 – 40 orang.

Bagaimana persiapan sebelum melakukan reka ulang pertempuran?

Biasanya kami jika hendak melakukan kegiatan ini tentu izin terlebih dahulu kepada pihak terkait. Kalau masalah detail seragam dan lainnya, kami bicarakan di grup Whatsapp. Selain itu kami kadang-kadang di-videoin. Kemudian juga foto. Adegannya tidak harus perang, tetapi kami juga menampilkan adegan humanis seperti tentara sedang membaca surat dari keluarga, bagi-bagi rokok hingga mengelap senjata.

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk kostum-kostum tentara?

Kalau biaya relatif. Biasanya teman-teman yang memiliki usaha konveksi membuat seragam-seragam tersebut. Tetapi mereka pelajarai dahulu detail-detail seragam itu untuk mendekati aslinya. Setelah itu mereka menjualnya. Jadi ada tiga kategori terkait seragam ini. Ada replika lokal, model dan polanya sama dengan seragam asli hanya bahannya berbeda. Harganya pun lebih murah.

Terus ada replika luar negeri. Bahan da polanya sama dengan seragam asli. Cuma harganya lebih mahal. Nah ada lagi relik. Kalau seragam ini betul-betul yang dikenakan tentara pada saat itu. Harganya lumayan mahal. Kebanyakan kalau relik untuk koleksi.

Kalau seragam rata-rata harganya Rp700 ribu hingga Rp1,5 juta. Lain halnya dengan seragam tentara Jerman itu satu setnya harganya Rp5 juta. Sedangkan seragam tentara Amerika itu agak murah Rp2 juta. Untuk senjata bisa menggunakan air soft gun,harganya memang mahal sekitar Rp7 juta dan paling mahal Rp16 juta. Jika tidak memungkinkan, kami juga biasa menggunakan replika senjata yang terbuat dari kayu harganya RP500 ribuan.

Dengan kegiatan ini belajar sejarah jadi lebih mengasyikan ya?

Betul. Melalui kegiatan ini kami juga mengajak anak muda untuk mari bersama belajar sejarah. Anak muda sekarang malas baca. Main sebar berita tau-tau hoax. Biasanya kalau di reenactor akan kelihatan mana yang sering baca dan tidak dari seragamnya.

Bagaimana peminatnya?

Sudah mulai berkembang. Ada beberapa mahasiswa dan pelajar juga yang antusias mengikuti kegiatan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sejarah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top