MSG Aman, Tapi Menutupi Cita Rasa Asli Hidangan

Monosodium glutamat (MSG) yang biasa terkandung dalam penyedap makanan ternyata aman dikonsumsi. Dampak negatif MSG justru dari segi cita rasa yang tidak orisinal sehingga orang tidak lagi mengenal rasa asli suatu menu hidangan.
Nindya Aldila | 18 Februari 2018 02:01 WIB
Peserta mengikuti Festival Rendang di kawasan GOR Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, Selasa (6/2). Sebanyak 134 orang mengikuti festival memasak rendang tersebut dalam rangka memeriahkan Hari Pers Nasional 2018. ANTARA FOTO - Iggoy el Fitra

Bisnis.com, JAKARTA—Monosodium glutamat (MSG) yang biasa terkandung dalam penyedap makanan ternyata aman dikonsumsi. Dampak negatif MSG justru dari segi cita rasa yang tidak orisinal sehingga orang tidak lagi mengenal rasa asli suatu menu hidangan.

Nuri Andarwulan, Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center (Seafast Center) Institut Pertanian Bogor, mengatakan sebenarnya monosodium glutamat (MSG) atau garam natrium asam glutamat aman dikonsumsi.

Hal ini didasarkan pada sumber pustaka yang tidak menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antara tingkat kognitif seseorang terhadap tingginya konsumsi makanan mengandung vetsin atau MSG.

“Studi keamannnya sudah amat lengkap. Semua negara sudah mengikuti Codex. Studi apapun dengan hewan coba dan bukti ilmiah berdasarkan pustaka tidak ada yang menyataan soal batas aman konsumsi MSG,” katanya.

Namun, memang ada beberapa orang yang menunjukkan sesitivitas setelah memakan makanan yang banyak mengandung MSG.

Menurut Nuri, MSG adalah kristal yang ditambahkan kepada produk pangan. Jika dalam konsentrasi relatif tinggi dan karena rasanya gurih sekali, kristal ini bisa bereaksi pada rasa gatal di tenggorokan. 

Nuri menyebutkan, MSG memiliki manfaat karena menyumbang energi kepada usus halus saat melakukan penyerapan dan gerakan peristaltik.

Selain itu, perlu diketahui bahwa MSG tidak sepenuhnya sintetik, karena glutamat yang ada pada MSG berasal dari bahan alami yakni tebu.

Lebih jelasnya, glutamat berasal dari mikroba yang dihasilkan dari fermentasi molase (hasil samping pengolahan tebu menjadi gula pasir). Lalu, glutamat tersebut dibuat menjadi kristal dengan penambahan Natrium sodium sehingga jadilah MSG.

Namun, tak bisa dipungkiri, dengan rasa umami yang dihasilkan vetsin, timbul semacam adiksi sehingga orang yang mengkonsumsinya cenderung ingin tambah terus. “Kalau sudah begitu, itu yang jadi masalah,” katanya.

Konsumsi Berlebihan

Di sisi lain, pemerhati kuliner Indonesia Kevindra Soemantri mengatakan micin atau vetsin banyak dibawa oleh pengaruh masakan China, seperti bakso dan siomay. Secara kultur, masakan China membawa bumbu-bumbu yang banyak mengandung glutamat.

Glutamat itulah yang menghasilkan rasa umami atau rasa gurih yang sangat cocok denan hampir semua kalangan. Meski dibawa oleh masakan China, produsen pertama vetsin berasal dari Jepang yakni Nissin dan Ajinomoto.

Seiring industrialisasi pada produk pangan, vetsin telah menjadi bahan tambahan pangan hampir di setiap jenis produk, seperti mie instan, snack, saus, bumbu masak dan masih banyak lagi.

Sayangnya, penggunaan vetsin dinilai sudah berlebihan. Padahal, makanan pada masa lampau tidak banyak menggunakan vetsin. Hal ini terlihat dari buku Mustikarasa yang diprakarsai oleh mendiang Presiden Soekarno.

Menurut Kevin, terlalu banyak paparan vetsin pada seseorang akan membatasi menutupi rasa asli dari makanan tersebut.

“Lidah kita didesain seperti spons yang menyerap segala rasa, maka setiap orang punya selera berbeda. Kalau dari kecil diekspos dengan rasa yang tidak riil, maka mereka tidak akan mengenal rasa aslinya,” tuturnya.

Sejatinya, banyak bahan alami yang mengandung glutamat, seperti tomat dan kaldu dari daging. Untuk itu, penggunaan bahan alami lebih dianjurkan lebih karena untuk mengenal rasa asli masakan Indonesia.

Tag : makanan
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top