Mikroplastik, Berbahayakah Jika Masuk ke Dalam Tubuh?

Risiko apa yang timbul jika tubuh terus-terusan mengonsumsi minuman yang dinyatakan tercemar mikroplastik tersebut?
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 16 Maret 2018 13:43 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Isu air minum kemasan yang tercemar partikel mikroplastik menimbulkan pertanyaan besar terkait kesehatan. Risiko apa yang timbul jika tubuh terus-terusan mengonsumsi minuman yang dinyatakan tercemar mikroplastik tersebut?

Mikroplastik adalah partikel yang besarnya tidak lebih dari 1 milimeter dan berasal dari bahan baku plastik. Bahaya dari konsumsi makanan atau minuman yang terpapar mikroplastik dengan ukuran 1-5000 mikron dikatakan bisa menimbulkan masalah serius bagi kesehatan. Namun, hal itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

Kepala Pusat Peneliti Oseanografi LIPI Dirhamsyah menjelaskan kepada Bisnis bahwa belum pernah dilakukan penelitian terhadap bahaya mikroplastik atau yang disebut juga sebagai nano plastik di dalam tubuh manusia.

Namun, dalam sebuah penelitian yang dilakukan pusat penelitian di Swedia, mikroplastik yang ditemukan di otak ikan membuat terjadinya perubahan perilaku terhadap gerak dan pola makan ikan tersebut.

“Jadi kalau penelitian terhadap manusia belum pernah dilakukan atau belum ada datanya sampai saat ini. Kalau terhadap biota sudah ada di Swedia, tim peneliti di sana pernah meneliti dampak mikroplastik terhadap ikan, dan ditemukan adanya perubahan perilaku pada gaya gerak dan pola makan, si ikan tersebut makan lebih sedikit dan geraknya menjadi lamban,” ungkap Dirham,  demikian dia disapa, Jumat (16/3/2018).

Diungkap Dirham, jika mikroplastik yang dikonsumsi tubuh semakin banyak dan menumpuk dapat terjadi indikasi tumbuhnya sel tumor. Itu terjadi karena partikel mikroplastik bisa saja menyumbat peredaran darah di sel-sel darah. Namun, ia menegaskan, itu hanyalah sebuah indikasi dan belum terbukti secara ilmiah.

“Melihat dari hasil penelitian terhadap ikan tersebut, ya bisa terjadi indikasi bahwa konsumsi mikroplastik yang banyak di dalam tubuh dapat menimbulkan tumor, tapi ini baru indikasi ya. Belum ada penelitian ilmiah yang secara rinci menjelaskan bagaimana dampak sesungguhnya jika mikroplastik dikonsumsi manusia,” tambah Dirham.

Ahli Gizi dari SlimGourment Premium Healty Catering, Desy Nur Arista mengatakan meski belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan dampak negatif bagi kesehatan, isu tentang mikroplastik perlu diperhatikan.

“Iya perlu untuk tetap diperhatikan ya, karena ditakutkan [mikroplastik dalam tubuh] menjadi pemicu kanker apabila terakumulasi banyak dan lama di dalam tubuh, dan ada kemungkinan ginjal dan hati juga dapat terganggu,” ungkap Desy.

Peneliti dari Pusat Peneliti Oseanografi Muhammad Reza Cordova menyebutkan pentingnya mengurangi konsumsi plastik  dalam kehidupan sehari-hari. Meski saat ini masyarakat tidak perlu khawatir karena belum adanya penelitian ilmiah tentang dampak negatif mikroplastik terhadap tubuh manusia, dia mengingatkan pentingnya mengurangi dampak plastik terhadap alam.

“Pertama, kurangi konsumsi plastik, jangan terlalu sering menggunakan kresek [plastik] diganti menggunakan tas daur ulang untuk belanja, lalu jangan menggunakan kosmetik yang mengandung microbeads,” kata Reza.

Polemik mikroplastik bermula dari temuan pecahan mikroplastik pada sampel air minum kemasan yang diteliti State of New York bersama Orb Media.

Dari 259 botol air minum dan 11 merek yang dijual di seluruh dunia, salah satunya Indonesia, ditemukan bahwa 93% air minum kemasan terdapat mikroplastik sebesar 6,5 mikrometer atau setara dengan ukuran sel darah merah manusia.

Tag : kesehatan
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top