Agar Wastra Bisa Go Internasional, Begini Caranya

Wastra Nusantara tidak sebatas pada batik tetapi juga banyak kain tradisional lainnya yang mulai go global, seperti kain tenun.
Asteria Desi Kartika Sari | 24 April 2018 17:12 WIB
Pameran songket khas Nusantara di Museum Tekstil - Bisnis.com/Reni Efita Hendry

Bisnis.com, JAKARTA -- Wastra (kain tradisional Indonesia yang memiliki makna dan simbol tersendiri) Nusantara tidak sebatas pada batik tetapi juga banyak kain tradisional lainnya yang mulai go global, seperti kain tenun.

Ada pendapat bahwa mengenakan kain tradisional terlalu etnik, atau bahkan seperti seragam sehingga susah diterima oleh masyarakat internasional. Selain itu, kain tradisional memiliki makna tertentu yang sudah menjadi pakem dari nenek moyang sehingga untuk menggunakannya perlu hati-hati.

Seorang desainer juga perlu memerhatikan etika saat merancang busana dengan kain tradisional. Bahkan, terkadang etika ataupun aturan dalam penggunaan kain tradisional menjadi ketakutan dari desainer. Hal itu bisa mengurungkan niat untuk mencoba merancang busana dengan kain tradisional.

Oleh karena itu, Presiden Asosiasi Perancang Pengusaha Muda Indonesia (APPMI) Poppy Dharsono mengungkapkan bahwa perancangan busana berbahan dasar kain daerah perlu perhatian dan pemahaman yang benar. Desainer juga harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, atau bagaimana dari tidak boleh menjadi boleh.

“Itu semua dibutuhkan edukasi kepada masyarakat dan juga kepada pembuat fesyen itu sendiri,” ujarnya.

Batik di Jawa ada yang digunakan khusus untuk memperingati kematian serta upacara adat lainnya. Bahkan, batik motif Parang tidak boleh dipakai oleh kaum awam ketika berada di keraton, karena motif Parang hanya digunakan oleh keturunan raja. Jadi, sebaiknya desainer juga perlu mengerti pakem batik karena merusak pakem juga tidak bijak karena dapat mengurangi nilai budaya itu.

“Misalnya, batik sudah susah dibuat, digunting-gunting, digabungan-gabungkan dengan renda. Desainer yang memiliki pendidikan harus memahami hal tersebut. Jika ingin menyatukan pun harus dengan jeli agar tidak saling menabrak.”

Menurut Poppy, produk dalam negeri yang berbasis kebudayaan berarti dia tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Oleh karena itu, sustainable fashion itu benar sekali, serta dapat membantu memperkuat UKM di daerah, seperti perajin kain tradisional. “Tanpa menggunakan itu kita tidak mampu bersaing dengan merek terkenal lainnya. seperti Channel, Gucci yang sudah menjadi industri,” tegasnya.

Tag : tradisional
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top