Upaya Shafira Promosikan Wastra Nusantara ke Pasar Fesyen Global

Beberapa tahun belakangan para pelaku industri fesyen Indonesia kian getol mempromosikan kain tradisional alias wastra Nusantara ke kancah internasional. Hal itu juga dilakukan oleh label busana santun (modest wear) Shafira.
Wike Dita Herlinda | 24 April 2018 18:42 WIB
Ilustrasi - jibi

Bisnis.com, JAKARTA-Beberapa tahun belakangan para pelaku industri fesyen Indonesia kian getol mempromosikan kain tradisional alias wastra Nusantara ke kancah internasional. Hal itu juga dilakukan oleh label busana santun (modest wear) Shafira.

Perusahaan tersebut pernah memboyong songket Silungkang dari Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat ke ajang New York Fashion Week 2015. Songket yang di dalam negeri saja kalah populer dari songket Palembang itu ditawarkan ke pasar Barat dalam balutan desain yang berkelas.

Upaya Shafira tersebut selain ditujukan untuk mempromosikan wastra Nusantara, sekaligus digunakan sebagai batu lompatan bagi cita-cita Indonesia untuk merajai pasar modest wear dunia pada 2020.

Selain itu, promosi tersebut dilakukan untuk menonjolkan produk berbasis kerajinan tangan yang berkarakter Indonesia serta bernilai tinggi. Sebab, jika harus bersaing dengan bahan pabrikan, Indonesia jelas kalah telak dari negara pesaing seperti China.

Lantas, seperti apa tantangan mempromosikan wastra Nusantara di kancah global? Berikut penjelasan COO Shafira Corporation, Sunandar:

Apa tujuan mengguanakan wastra Nusantara untuk promosi ke pasar internasional?

Sejak awal kami memang konsisten mengangkat koleksi busana berbasis budaya nasional. Kami sudah banyak menggunakan kain-kain tradisional dari berbagai daerah pada setiap peluncuran koleksi kami.

Dari situ lalu kami memiliki misi untuk juga mempromosikan kain-kain khas Indonesia dalam balutan modest wear ke pasar internasional dengan tujuan mengangkat citra budaya lokal. Dalam menjalani misi itu, kami lebih memilih mengeksplorasi kain-kain tradisional yang masih jarang terekspose. Itulah yang menjadi ciri khas dan andalan koleksi kami setiap tahun.

Apa saja wastra nusantara yang pernah dipromosikan Shafira? Di ajang apa saja selain NYFW?

Kami sudah cukup banyak melakukan pergelaran fesyen di dalam dan luar negeri dengan mengangkat kain tradisional. Selain songket Silunkang, kami pernah mengangkat tema sarung Majalaya, sulam dan bordir Bukittinggi, tenun Garut, dan lain-lainnya.

Terkahir, pada Oktober 2017 kami diundang Swarovski untuk membuat koleksi produk-produk fesyen yang diluncurkan di ajang Shafira x Swarovski for Dubai Sparkling Couture Infinity 2017 di Uni Emirat Arab.

Bagaimana respons pasar di luar negeri terhadap kain tradisional Indonesia?

Sejauh ini sambutannya sangat baik. Mereka tertarik dengan apa yang kami angkat. Mereka tertarik dengan kain-kain tradisional Indonesia yang belum pernah mereka lihat. Dari beberapa negara yang pernah kami bidik, yang paling sukses adalah New York.

Konsumen New York adalah salah satu yang memberikan tanggapan paling positif terhadap modest wear berbasis kain tradisional songket Silungkang. Mereka cukup kritis dan memiliki selera fesyen yang tinggi. Namun, saat melihat kain tradisional ternyata bisa diaplikasikan ke dalam rancangan busana malam premium, mereka menjadi antusias.

Bagaimana pula dengan potensi pasarnya? Siapa pangsa yang dibidik?

Pangsa pasar yang kami bidik di luar negeri adalah konsumen-konsumen yang aware terhadap fesyen, serta lebih mementingkan kualitas serta nilai dari sebuah label fesyen. Itu pasar yang kami incar sejak awal.

Itulah mengapa kami konsisten memunculkan koleksi-koleksi dan mengenalkan pada dunia internasional bahwa Shafira adalah brand premium. Saat pasar mengetahui bahwa kain tradisional ternyata bisa diolah menjadi modest wear premium, mereka akan lebih antusias dengan produk kami. Apalagi, pangsa pasar modest wear global semakin lama semakin membesar.

Apa tantangan dalam mengelola wastra Nusantara menjadi produk fesyen bertaraf internasional?

Tantangannya pasti ada. Sebab, belum banyak orang di pasar global yang mengenal detail dan ciri khas kain-kain tradisional Indonesia yang kami presentasikan melalui koleksi kami. Itulah tantangan bagi kami.

Guna menjembataninya, kami menonjolkan promosi bahwa produk kami bertaraf premium. Kami menyosialisasikan kepada pasar bahwa koleksi kami dibuat dengan tangan, melalui proses yang cukup panjang, memiliki detail-detail yang unik, juga teknik khusus untuk mengaplikasikan kain tradisional ke dalam busana.

Apa saja yang harus diperhatikan dalam penggunaan wastra Nusantara agar bisa diterima di pasar global?

Bagi kami, pada dasarnya yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengaplikasikan kain-kain tradisional tersebut ke dalam koleksi-koleksi dengan desain yang modern dan sesuai dengan selera pasar yang kami bidik. Kami juga selalu mengedepankan kenyamanan penggunaan dan kualitas premium.

Selain melalui promosi di ajang-ajang fesyen internasional, apalagi yang bisa dilakukan untuk mempromosikan wastra Nusantara?

Melalui kemitraan. Misalnya, kami bekerja sama dengan salah satu brand internasional untuk perhiasan, yaitu Swarovski. Kerja sama yang terbangun sejak 2013 itu ditujukan untuk meningkatkan citra busana-busana kami menjadi lebih premium.

Jadi, dengan kerja sama tersebut, kami dapat mengaplikasikannya ke pada kain-kain tradisional yang digunakan dalam koleksi kami supaya terkesan lebih mewah dan dapat diterima oleh pasar internasional. Sejauh ini hasil dari kerja sama ini cukup positif, dan beberapa kali kami didukung untuk melakukan kegiatan di luar negeri.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top