Perjalanan Marco Polo ke Sumatra, Terkesima Melihat Sagu

Ratusan tahun lalu, penjelajah Italia Marco Polo pernah menginjakkan kakinya di bumi Sumatra. Semua itu tertulis dalam manuskrip kuno Le Devisement du Monde yang ditulis oleh Rustichello de Pisa, seorang penulis yang ditemuinya di penjara setelah pulang ke Venesia pada 1290-an.
Ilman A. Sudarwan | 28 April 2018 19:51 WIB
Sagu, sumber pangan dan energi. - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Ratusan tahun lalu, penjelajah Italia Marco Polo pernah menginjakkan kakinya di bumi Sumatra. Semua itu tertulis dalam manuskrip kuno Le Devisement du Monde yang ditulis oleh Rustichello de Pisa, seorang penulis yang ditemuinya di penjara setelah pulang ke Venesia pada 1290-an.

Dalam manuskrip kuno tersebut, Polo (foto en.wikipedia) menyebut Sumatra sebagai la menour ille de iana atau pulau Jawa kecil. Dia berkunjung ke kerajaan Fansur atau Barus yang berada di Utara Sumatra. Dia terkesima melihat satu pohon yang menjadi sumber pangan masyarakat Barus.

“Mereka tidak memiliki gandum tetapi mereka memakan nasi dengan kelapa dan daging [rendang]. Dan mereka meminum anggur dari sebuah pohon yang akan saya ceritakan. Saya akan mengajak Anda kepada sebuah keajaiban yang mengagumkan,” tulis de Pisa.

Dia mendeskripsikan pohon tersebut sebagai pohon besar dengan kulit yang tipis. Di dalam batangnya, ada tepung yang menurutnya sangat enak untuk dimakan. Dia meng

atakan, Polo bahkan sempat mencoba membuat roti dengan tepung tersebut, dan hasilnya sangat enak.

Apa yang dimaksud oleh Polo adalah pohon sagu atau metroxylon sagu. Catatan ini membuktikan bahwa sagu juga pernah umum dikonsumsi hingga Sumatra. Indonesia pernah memiliki kera

gaman pengolahan pangan yang luar biasa.

Dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu, wartawan dan pegiat diversifikasi pangan Ahmad Arif mengatakan, penanaman sagu juga dilakukan di daerah pesisir utara Jawa. Contohnya, di daerah Cirebon, Jawa Barat, dan Pandeglang, Banten dapat ditemui beberapa artefak pengolahan sagu.

 

Secara bahasa pun, dia menduga kata sangu dalam bahasa Sunda atau sego dalam bahasa Jawa untuk merujuk pada nasi, sejatinya berasal dari kata sagu. Artinya, sagu bukanlah suatu makanan yang asing bagi masyarakat di luar kawasan timur Indonesia.

Namun, keragaman pengolahan dan konsumsi yang ada kini mulai tergerus akibat kebijakan politik pangan dan pertanian dari pemerintah yang bias. Selain itu, reduksi nilai-nilai kultural seperti sosok Dewi Sri menjadi dewi padi semata, membuat orang menghindari pangan pokok selain beras.

“Dewi Sri itu sebenarnya bukan dewi padi, tetapi dewi kesuburan. Artinya, Dewi Sri ini adalah sosok dewi keragaman pangan,” tegasnya.

Tag : diversifikasi pangan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top