Mengenang Tiga Desainer Kenamaan yang Bunuh Diri, Duka di Balik Industri Fesyen

Industri fesyen kembali berduka. Kematian Kate Spade yang diduga karena gantung diri menjadi peristiwa tragis terbaru yang dilakukan perancang busana kenamaan.
Renat Sofie Andriani | 06 Juni 2018 09:47 WIB
Kate Spade. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Industri fesyen kembali berduka. Kematian Kate Spade yang diduga karena gantung diri menjadi peristiwa tragis terbaru yang dilakukan perancang busana kenamaan.

Dalam 8 tahun terakhir, tercatat dua desainer ternama lainnya telah bunuh diri dengan cara yang sama, yakni Alexander McQueen pada 2010 dan L'Wren Scott pada 2014.

Alexander McQueen, 2010

Desainer ternama asal Inggris ini gantung diri di lemari apartemennya di London dan meninggalkan surat bunuh diri pada Februari 2010.

Pihak berwenang kemudian memutuskan penyebab kematian perancang busana berusia 40 tahun ini karena asfiksia (kondisi kekurangan oksigen) dan tergantung. Meski demikian, petugas tidak mengungkapkan isi surat yang ditinggalkannya.

McQueen, yang rancangannya dikenakan bintang-bintang besar seperti Sarah Jessica Parker, Nicole Kidman, dan Rihanna, bunuh diri sembilan hari setelah kematian ibunya. Dia mengungkapkan kehancurannya atas kematian sang ibu dalam akun Twitter-nya beberapa hari sebelum meninggal.

Editor Vogue Inggris Alexandra Shulman menyebut McQueen sebagai seorang 'jenius yang modern'.

“Imajinasi briliannya tidak mengenal batas,” tuturnya pasca kematian McQueen, seperti dilansir dari CNN.

L'Wren Scott, 2014

Scott ditemukan tewas di apartemennya di New York pada Maret 2014, tergantung dengan syal di lehernya, dalam usia 49 tahun. Petugas berwenang memutuskan bunuh diri sebagai penyebab kematiannya.

Rancangan Scott digunakan oleh sejumlah selebriti, termasuk sang 'Material Girl' Madonna. Sebelum meninggal, dia merupakan pasangan penyanyi Mick Jagger selama lebih dari satu dekade, serta membantu membentuk tampilan Jagger untuk tur ulang tahun ke-50 The Rolling Stones.

Seorang juru bicara untuk Jagger mengungkapkan bahwa dia “benar-benar terkejut dan hancur" oleh kabar itu.

Scott dibesarkan di Utah oleh orang tua angkatnya. Dengan rambut gelap yang indah, dia memulai karirnya sebagai model di Paris sebelum menjadi stylist dan desainer.

Kecintaannya terhadap fesyen dimulai ketika dia membuat pakaiannya sendiri saat remaja. Sebagai model di Paris, Scott mengaku lebih tertarik dalam membuat pakaian daripada terus berkecimpung di dunia model.

Kate Spade, 2018

Dunia fesyen baru saja diguncang kabar kematian desainer kenamaan Kate Spade, yang diduga bunuh diri di apartemennya di Park Avenue pada Selasa (5/6/2018) waktu setempat.

Spade ditemukan dengan posisi tergantung oleh pengurus rumah tangganya, seperti dilaporkan The New York Times. Pengurus rumah tangga segera menghubungi pihak otoritas setempat dan Spade dinyatakan tewas di tempat kejadian pada pukul 10.26 pagi.

Desainer yang identik dengan rancangan tas uniknya ini menikahi Andy Spade, kakak aktor David Spade, pada 1994. Pernikahan mereka membuahkan seorang anak perempuan bernama Frances Beatrix pada 2005.

Kate Spade membuka toko resmi pertama mereka di SoHo, New York. Pada periode 1997-2000, akan sangat jarang melihat perempuan di New York tidak menggunakan tas nilon milik Kate Spade ini.

Pada Februari 2014, Kade Spade New York berubah nama menjadi Kate Spade & Company, dengan Craig A. Leavitt menjadi CEO. Pada Mei 2017, perusahaan saingan Kate Spade, Coach. Inc resmi mengakusisi Kate Spade senilai US$2,4 miliar.

Selama berkarir sebagai seorang desainer, Kate sudah membawa pulang banyak penghargaan dalam dunia fesyen, di antaranya America's New Fashion Talent in Accessories oleh The Council of Fashion of Fashion Designer of America (CFDA) .

'Duka Cita' Industri Fesyen

Kelly Cutrone, seorang penerbit fesyen ternama yang secara pribadi mengenal Spade, menunjukkan duka mendalam ketika mendengar kabar kematiannya. Dia memuji pengaruh Spade pada industri fesyen.

“Dia adalah versi wanita Ralph Lauren. Dia membawa kembali era Americana ke dalam fesyen," ucap Cutrone.

“Industri ini endemik dengan bunuh diri, kebangkrutan, depresi, dan kecanduan. Banyak orang di industri fesyen mengalami kesulitan. Proporsinya sangat tinggi,” tambahnya, seperti dilansir The Daily Beast.

Robert Verdi, seorang stylist dan pakar fesyen televisi yang mengenal Spade secara profesional, mencoba menerka apa yang dialami Spade sebelum dia meninggal.

"Sangat tragis untuk berpikir bahwa di bawah bisnis luar biasa yang telah menjadi brand ini ada kesedihan dan awan gelap. Apa sebenarnya yang dia pikirkan selama beberapa menit terakhir?," ujarnya.

Celebrity stylist Phillip Bloch, yang telah mengenal Spade selama beberapa dekade, mengungkapkan kekecewaan serupa atas bagaimana tekanan industri fesyen tampaknya memperburuk perjuangan pribadi individu yang terlibat.

“Ada banyak tekanan pada orang untuk menjadi relevan. Ritel adalah bencana. Penjualannya buruk. Tidak ada loyalitas dan itu sangat bergolak. Semua orang mencintaimu kemarin, tetapi hari ini mereka tidak menyukaimu dan besok siapa yang tahu?” ungkapnya.

"Anda dapat memiliki semua kesuksesan dan itu bisa terlihat begitu hebat, tetapi Anda masih bisa merasa gagal," tutup Bloch.

Tag : fesyen, bunuh diri
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top