Memahami dan Menciptakan Fesyen Berkelanjutan

Peristiwa ambruknya gedung Rana Plaza di Dhaka, Bangladesh pada 24 April 2013 menjadi sebuah awal mula timbulnya gerakan revolusi fesyen. Gedung tersebut merupakan sebuah tempat untuk memproduksi produk tekstil dan garmen.
Asteria Desi Kartika Sari | 18 Juni 2018 11:49 WIB
Busana rancangan Merdi Sihombing dipamerkan di Jakarta Fashion Week 2016, Senin (26/10/2015). - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA--Peristiwa ambruknya gedung Rana Plaza di Dhaka, Bangladesh pada 24 April 2013 menjadi sebuah awal mula timbulnya gerakan revolusi fesyen. Gedung tersebut merupakan sebuah tempat untuk memproduksi produk tekstil dan garmen.

Pada peristiwa tersebut sebanyak 1.133 korban meninggal akibat dari kelalaian industri fesyen.Fashion Revolution adalah sebuah global movement yang dapat dilakukan selama satu tahun penuh. Ia diperingati pada 24 April sebagai penghormatan atas insiden Rana Plaza. Lengkap cerita, sebelumnya para pekerja Rana Plaza sudah melaporkan keretakan tembok gedung beberapa hari sebelum kejadian, namun mereka dipaksa untuk melanjutkan pekerjaan.

Di Indonesia sendiri, gerakan ini dimulai pada tahun 2016, tepatnya ketika Lucy Siegle, Executive Director film The True Cost melakukan screening film yang bercerita mengenai insiden Rana Plaza ini di Jakarta Fashion Week.

Hal tersebut merupakan sebuah upaya edukasi untuk mewujudkan sistem industri fesyen yang lebih transparan. Untuk membuka mata dunia bahwa proses produksi baju yang berkualitas tinggi itu tidak mudah.

Desainer Merdi Sihombing mengatakan, tren fesyen yang dikerjakan dengan garmen memuliki tuntutan yang cepat, tetapi tidak memikirkan sisi kemanusiaan. Pasalnya, menurutnya banyak pekerja garmen yang yang dipekerjakan tidak manusiawi, termasuk pekerja yang di bawah umur. Oleh karena itu, sejumlah pihak perlu memikirkan "slow fashion" atau busana yang dirancang dengan bahan ramah lingkungan. "Slow fashion adalah fesyen yang proses pembuatannya memiliki kemahiran tertentu, contohnya kain tenun,” kata
Merdi.

Menurutnya slow fashion juga lebih memerhatikan lingkungan sekitar yang terdampak atau sering kali disebut sustainable fashion. Meskipun, tak dapat dipungkiri proses pengerjaan
busana dengan sistem tersebut jauh lebih lama. "Slow fashion yang pekerjaannya lama, craftmanship seperti tenun dan sulam. Bukan hanya pakai warna alam, kimia juga tapi lebih
dipikirkan lagi. Jadi satu produk pengerjaannya lama," tuturnya.

Mode slow fashion, lanjutnya, membutuhkan kerja tim yang harus kuat dari isi fondasi hingga sumber daya manusia. Oleh karena itu, pihaknya berharap ada peran pemerintah untukmengangkat fesyen berbasis budaya tersebut. Hal itu harus segera diwujudkan oleh

Indonesia, pasalnya karena saat ini Indonesia sudah tertinggal dari negara-negara lain. "Cepat atau lambat harus melakukan itu,” ujarnya.

Salah satu desainer muda Indonesia, Wilsen Willim guna mengoptimalisasi komponen-komponen sustainable fashion dalam memproduksi sebuah karya busana, menurutnya tidak hanya menyangkut tren fesyen yang ramah lingkungan saja untuk mencapai tujuan tertentu.

Namun, lebih kepada bagaimana pelaku industri fesyen dapat membantu berputarnya siklus di sekitar mereka. Siklus tersebut merupakan gabungan dari menciptakan lingkungan yang lebih layak secara ekologis, sosial, maupun ekonomi.

“Bagi saya sustainable fashion adalah seperti membuat dunia menjadi lebih indah, [untuk komponen-komponen] masing-masing negara pasti memiliki standar yang berbeda.Namun saya akan memberikan hal yang terbaik untuk menjadi sustainable dengan brand saya,” jelas Wilsen.

 

Tag : fesyen, desainer
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top