Film Berlatar Era Kolonial Segera Hiasi Layar Bioskop Tanah Air

Film baru bernuansa zaman kolonial tidak lama lagi akan menghiasi layar lebal Indonesia. Film berjudul 'Sara & Fei, Stadhuis Schandaal akan segera tayang di bioskop Tanah Air mulai 26 Juli 2018 mendatang.
Rayful Mudassir | 20 Juli 2018 15:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Film baru bernuansa zaman kolonial tidak lama lagi akan menghiasi layar lebal Indonesia. Film berjudul 'Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ akan segera tayang di bioskop Tanah Air mulai 26 Juli 2018 mendatang.

Film ini diproduksi oleh XELA Pictures, rumah produksi baru yang meramaikan industri perfilman Indonesia. Kiprah perdana XELA Pictures ini melihat adanya geliat industri film yang semakin bergairah dengan jumlah penonton film yang menjadi pasar potensial.

"Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke manca negara termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film perdana kami ini", ujar Alexander Sutjiadi, Pemilik XELA Pictures dan Produser Eksekutif Film 'Sara 8: Fei, Stadhuis Schandaal’.

Pada film perdananya ini, XELA Pictures menggandeng sutradara senior, Adisurya Abdy untuk menghadirkan sebuah film berlatar belakang jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun Ialu namun dikemas dengan gaya kekinian.

"Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal”, jelas sutradara era tahun 1980an itu.

Kolaborasi perdana antara XELA Pictures dengan sutradara Adisurya Abdy ini pun melahirkan sebuah drama thriller dan misteri yang mampu menarik minat penonton usia muda. Segmen ini disasar karena paling diminati penonton.

"Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian, tetapi unsur-unsur historisnya tetap terpenuhi. Sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejarah yang belum terungkap," papar Adisurya.

Dengan kekuatan cerita, Omar Jusma yang menjadi Produser pun optimis film 'Sara & Fei, Stadhuis Schandaal' dapat meraup banyak penonton. Tim produksi memasang bintang berpotensi dan memiliki karakter yang sesuai dengan film.

Seputar penggunaan kata berbahasa Belanda, Stadhuis Schandaal pun merupakan unsur kesengajaan. Seperti yang dijelaskan oleh sang sutradara. Gunanya agar penonton sejak awal mengetahui bahwa film ini memiliki latar belakang jaman Belanda.

Tak pelak, ini merupakan sebuah film drama yang meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini.

Konsep artistik disesuaikan dengan jaman itu. Sampai-sampai sang sutradara, Adisurya Abdy membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi visual effect, sebagimana digunakan oleh industri perfilman modern saat ini.

”Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di lndonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami Iakukan. Untuk itu maka kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas," terang sang sutradara.

Beberapa wajah baru disodorkan di film ini seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie. FiIm ini juga menghadirkan pemain pendukung yaitu Anwar Fuady, George Mustafa Taka, Rowiena Umboh, Rensy Millano, Tio Duarte.

Septian Dwi Cahyo, Iwan Burnani, Julian Kunto, Aby Zabit El Zufri serta beberapa pemain pendukung Iainnya seperti Lady Salsabyla, Ricky Cuaca, Stephanie Ady, Iqbal Alif, Andhika Ariesta dan Yurike Cindy juga akan beradu peran.

Penata musik film ini, dikerjakan oleh Areng Widodo, pemusik senior yang pernah beberapa kali bekerjasama dengan Adisurya Abdy dengan menyajikan kembali Iagu ciptaannya berjudul ‘Syair Kehidupan’yang cukup populer dan diaransemen ulang serta dinyanyikan oleh Hilda Ridwan Mas.

Film ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ berkisah tentang mahasiswi, Fei. Saat melakukan riset di kota tua Batavia, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Fei didatangi gadis blasteran Belanda - Jepang bernama Sara.

Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fatahilah. Dulunya, gedung ini adalah balai kota bernama Stadhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari sini cerita semakin menarik, penuh misteri dan pesan.

Tag : film indonesia
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top