Ketua DPR Soroti Kasus Stunting di Indonesia

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyoroti masalah gizi buruk dan stunting yang masih ditemukan di Indonesia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 Agustus 2018  |  10:03 WIB
Ketua DPR Soroti Kasus Stunting di Indonesia
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyoroti masalah gizi buruk dan stunting yang masih ditemukan di Indonesia.

Bamsoet, demikian sapaan Ketua DPR RI, mengingatkan pemerintah untuk terus bersinergi mengatasi kasus gangguan pertumbuhan akibat gizi buruk kronis atau stunting.

"Saya mengkhawatirkan masih adanya kasus stunting di sejumlah daerah di Indonesia," katanya melalui pernyataan tertulis, diterima di Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Bambang menyebutkan hal itu menanggapi kasus stunting yang terjadi di Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat, yang melampaui angka 40%, serta di Kota Cimahi, Jawa Barat, tercatat sebanyak 7.965 anak mengalami stunting.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), tercatat sekitar 7,8 juta balita penderita stunting atau sekitar 35,6% dari total 23 juta balita di Indonesia . Dari jumlah 7,8 juta balita tersebut, sebanyak 18,5% berkategori sangat pendek dan 17,1% berkategori pendek.

Bamsoet meminta Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), untuk bersinergi memaksimalkan pelaksanaan program penanganan stunting sebagai upaya penanggulangan masalah kurang gizi di Indonesia.

Dalam pandangannya, pemerintahan Presiden Joko Widodo memiliki perhatian besar terhadap persoalan stunting, dan bahkan Presiden telah memimpin langsung Gerakan Nasional Pencegahan Stunting.

Politisi Partai Golkar tersebut berharap kementerian dan lembaga (K/L) yang terkait dengan giri buruk dapat menggenjot upaya pencegahan stunting.

Bamsoet mengimbau Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggerakkan Pemda untuk mendorong masyarakat di pedesaan memanfaatkan dana desa guna mendirikan Posyandu, membangun fasilitas kesehatan maupun sanitasi yang layak.

Kemenkes diharapkan terus melakukan edukasi dan kampanye manfaat air susi ibu (ASI) eksklusif bagi bayi, sebab ASI eksklusif memiliki kontribusi penting bagi pertumbuhan dan daya tahan anak.

"Sekaligus mensosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan pola hidup sehat agar terhindar dari segala macam penyakit," kata Bamsoet.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
stunting

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top