Pameran Ulos Digelar di Museum Tekstil Mulai 20 September

Keindahan motif ulos akan dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta pada 20 September sampai 7 Oktober 2018 untuk memantik masyarakat menggunakan kain tenun khas suku Batak itu sebagaimana batik.
Sri Mas Sari | 15 September 2018 18:43 WIB
Ilustrasi: Presiden Joko Widodo (kanan) menerima sematan Kain Ulos khas Batak dari perwakilan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Pandumaan Sipituhuta Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut usai acara Pencanangan Pengakuan Hutan Adat Tahun 2016 di Istana Negara, Jakarta, Jumat (30/12/2016). - Antar/Widodo S. Jusuf

Bisnis.com, JAKARTA -- Keindahan motif ulos akan dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta pada 20 September sampai 7 Oktober 2018 untuk memantik masyarakat menggunakan kain tenun khas suku Batak itu sebagaimana batik.

Pameran persembahan Yayasan Del dan Tobatenun yang didukung Kementerian Pariwisata itu akan menampilkan koleksi pribadi Devi Pandjaitan dan Kerri Na Basaria.

Dengan tema Ulos, Hangoluan, dan Tondi, pameran merepresentasikan karya tenun yang menyimbolkan ikatan kasih sayang, restu, dan persatuan dalam setiap tahapan kehidupan masyarakat Batak.

"Hangoluan berarti kehidupan dan tondi berarti jiwa. Hal ini menggambarkan kain ulos merupakan gambaran kehidupan dan jiwa masyarakat Batak," jelas Devi Pandjaitan dalam siaran pers, Sabtu (15/9/2018).

Berkolaborasi dengan desainer interior muda Mita Lukardi, pameran akan menampilkan kain-kain ulos dalam berbagai bentuk instalasi dekor yang menceritakan tahapan kehidupan.

"Salah satu instalasi modern yang ada di pameran adalah motif ulos yang tertuang pada anyaman rotan sepanjang 25 meter," tutur Devi. 

Dia mengatakan pameran bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap kain tenun ulos pada generasi muda. Dia berharap masyarakat menggunakan kain bermotif ulos dalam berbagai acara. 

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata N.W. Giri Adnyani mengatakan ulos lebih dari sekadar tradisi. Ulos tidak mudah lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

"Ulos tidak hanya menyimpan tradisi Batak yang kental dan sarat makna, tetapi juga prestise dari modernisasi proses akulturasi," ujarnya.

Tidak hanya Indonesia, menurut Giri, sejumlah museum dan universitas di Singapura, Amerika Serikat, Inggris, dan Beland, ikut mengkaji ulos karena dianggap unik dan sangat tua.

"Dominasi warna hitam, merah, dan putihnya dinilai punya daya pikat. Warna merah melambangkan keberanian, putih melambangkan kesucian, dan hitam melambangkan kekuatan," tuturnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya melihat ulos sebagai kebanggaan Indonesia. Pasalnya, saat IMF Meeting di Washington DC beberapa waktu lalu, ulos harungguan dipakai oleh para pemimpin keuangan dari berbagai negara yang hadir.

“Sudah pasti kita sangat bangga. Bayangkan, karya tangan-tangan terampil para penenun, bisa terekspos di perhelatan penting keuangan dunia,” ujarnya.

Dia berpendapat pameran ulos di Museum Tekstil penting dihadiri untuk mengetahui perjalanan sejarah pertenunan ulos yang sudah berusia puluhan tahun. Apalagi, pameran juga menampilkan koleksi yang sudah berumur puluhan tahun.

Ulos merupakan produk penting asal salah satu peradaban tertua di Asia. Usianya diperkirakan sudah 4.000 tahun. Ulos bahkan disebut-sebut telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil. 

"Ulos juga disebut sebagai representasi dari semesta alam. Pada masa lampau, perempuan-perempuan Batak bangga menenun, memakai, dan mewariskannya kepada keluarga sebagai suatu pusaka," tutur Arief.

Tag : tenun
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top