Tahukah Anda, Kesepian Bisa Bikin Demensia?

Di antara beragam faktor risiko munculnya demensia, merasa kesepian adalah salah satunya.
Newswire | 29 September 2018 16:49 WIB
Ilustrasi kesepian - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Di antara beragam faktor risiko munculnya demensia, merasa kesepian adalah salah satunya.

Menurut spesialis saraf dari FK Unika Atma Jaya, Dr Yuda Turana, bahwa kesepian yang dimaksud adalah bukan sekadar ditinggal sendiri, tetapi merasa tak diperhatikan.

“Bisa saja seseorang, di tengah-tengah keluarganya, tetapi merasa kesepian. Kesepian jangka panjang itu juga faktor risiko demensia," ujar Yuda  usai peresmian ATZI Center oleh Alzheimer Indonesia bersama UNIKA Atma Jaya di Jakarta, Jumat (28/9/2018).

Kondisi ini dialami seorang dengan demensia bernama Suwarti (79). Putra Suwarti, Gerry Saleh, berkisah kalau ibundanya terdiagnosis menderita penyakit Alzheimer pada usia 72 tahun, tak lama sejak ditinggal wafat sang suami--ayah Gerry.

 "Makin lama, Alzheimer-nya makin jelas. Mulai kelihatan tahun 2011. Pemicunya psikologis, saat ayah saya meninggal. Jadi ada seperti sisi traumatis kehilangan, kesepian yang membuat dia merasa ada di dunia berbeda," tutur Gerry.

Demensia, mengutip dari laman Alzheimer Indonesia, menggambarkan serangkaian gejala seperti kehilangan memori, perubahan suasana hati, kesulitan berpikir dan pemecahan masalah hingga bahasa.

Kondisi ini terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit semisal Alzheimer dan serangkaian stroke.

Yuda mengatakan, khusus untuk penyakit Alzheimer, penderita biasanya terlebih dulu gangguan kognitif seperti lupa menyimpan barang. Perlahan, penderita juga mengalami gangguan perilaku misalnya mudah marah.

 "Penyakit Alzheimer sebetulnya gangguan kognitif dan juga perilaku. Awalnya gangguan kognitif dulu, lupa-lupa, nyimpen barang lupa. Tetapi, lambat laun atau 3-4 tahun kemudian, itu bisa gangguan perilaku. Ngamuk enggak pada tempatnya, emosi, halusinasi," kata dia.

"Pada masa tahap awal gangguan kognitif, apalagi pada orangtua, dianggap biasa, sehingga datangnya (periksa) saat pasien sudah mengalami gangguan perilaku. Padahal, kalau sudah gangguan perilaku, itu terlambat sekali," sambung Yuda.

Sumber : Antara

Tag : kesehatan, Demensia
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top