Prabowo Kritik Soal Gizi Buruk dan Stunting, Istana: Pemerintah Terus Bekerja Keras

Prabowo Kritik Soal Gizi Buruk dan Stunting, Istana: Pemerintah Terus Bekerja Keras
Yodie Hardiyan | 12 Oktober 2018 23:20 WIB
Calon Presiden Prabowo Subianto menunjukan dua jari seusai mengikuti pengundian dan penetapan nomor urut di gedung KPU, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA--- Calon presiden dalam Pemilihan Presiden 2019, Prabowo Subianto, mengkritik kondisi rakyat Indonesia yang disebutnya banyak mengalami kekurangan gizi dan stunting atau tidak tumbuh sempurna. Kritik itu disampaikan oleh Prabowo ketika menghadiri acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta pada Kamis (11/10/2018).

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan dirinya menjadi calon presiden di tengah keadaan negara yang sedang dalam kondisi tidak baik. "Dari semua ukuran, semua indikator. Salah satu indikator adalah rakyat kita banyak yang kurang gizi. Hanya kita ini kadang-kadang nggak mau bicara apa adanya, kurang gizi padahal artinya lapar," kata Prabowo.

Pernyataan itu ditanggapi oleh Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika. Menurutnya, masalah stunting dan gizi buruk memang belum tuntas, tetapi pemerintah terus bekerja keras melalui berbagai program dan komitmen anggaran.

"Pemerintah mulai 2015 telah berupaya menyelesaikan masalah stunting dengan mengambil beberapa langkah strategis," kata Erani dalam pesan tertulis, Jumat (12/10/2018).

Menurutnya, langkah pertama adalah peningkatan anggaran kesehatan menjadi 5% dari APBN, sesuai dengan mandat UU No.36/2009 tentang Kesehatan. Pada periode sebelumnya, anggaran kesehatan hanya berkisar antara 2,5-3,5%.

Langkah kedua adalah program pencegahan stunting didesain melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Hasilnya, prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak bawah dua tahun (Baduta) menurun dari 32,9% (2014) menjadi 28,8% (2018).

Selain itu, langkah ketiga, dalam penanganan gizi buruk, pemerintah melaksanakan program perbaikan gizi ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dengan pemberian makanan tambahan (PMT). Hasilnya, secara nasional, cakupan ibu hamil KEK mendapat PMT tahun 2017 adalah 82,83% yang disebutnya sudah memenuhi target Renstra tahun 2017, yaitu 65%.

Sementara itu, langkah keempat, program pemerintah mendorong agar bayi baru lahir dapat menyusu dini, mendapat ASI eksklusif dan vitamin A. Hasilnya, secara nasional persentase bayi baru lahir yang mendapat inisiasi menyusu dini (IMD) sebesar 73,06% atau melampaui target Renstra 2017, yaitu 44%.

"Hasil lainnya, cakupan bayi mendapat ASI eksklusif sebesar 61,33% (melampaui target Renstra 2017, yaitu 44%) dan cakupan pemberian vitamin A pada balita 6-59 bulan di Indonesia berdasarkan Pemantauan Status Gizi 2017 adalah 94,73%," papar Erani.

Tag : prabowo subianto, Pilpres 2019
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top