Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Membuat Benang dari Kapas a la Penenun Sabu

Pada acara Wallacea Week 2018 di Perpustakaan Nasional, para penenun asal Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur memperkenalkan teknik menenun dari mulai membuat benang dari kapas.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 16 Oktober 2018  |  19:59 WIB
Tahap 3 dari proses membuat benang dari kapas adalah memintal kapas bergabung dengan tali benang - Gloria Fransisca Katharina
Tahap 3 dari proses membuat benang dari kapas adalah memintal kapas bergabung dengan tali benang - Gloria Fransisca Katharina

Bisnis.com, JAKARTA – Pada acara Wallacea Week 2018 di Perpustakaan Nasional, para penenun asal Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur memperkenalkan teknik menenun dari mulai membuat benang dari kapas.

Pengrajin kain tenun ikat Sabu atau kain Savu, Ice Tede Dara menampilkan proses membuat benang sebagai bahan dasar tenun ikat. Ice menjelaskan, kapas yang didapatkan adalah kapas yang berasal langsung dari pohon kapas. Tak heran jika masih banyak biji-bijian yang harus dipisahkan dari kapas tersebut.

Jangan salah, proses pemisahan kapas dari bijinya juga tidak mudah lho! Anda harus bersabar dengan cara menggilas kapas di atas papan kayu dengan stik kayu sampai halus. Artinya, kapas harus dipisahkan dari bijinya secara bersih tanpa bekas tercerabut. Sebab, jika kapas yang dihasilkan masih sangat kasar, maka akan mengganggu proses pembuatan benangnya.

“Nama proses ini Mengeru Wengu. Ini tahap pertamanya,” kata Ice kepada Bisnis di Perpustakaan Nasional, Selasa (16/10/2018). Ice menjelaskan Wengu adalah bahasa daerah Sabu untuk menyebut kapas. Mengeru itu menggilas atau menghaluskan kapas.

Tahap kedua, setelah semua kapas dipisahkan dari bijinya adalah menyisir ulang kapas menjadi lebih halus. Penyisiran kapas ini memakai sisir bambu yang bergerigi. Sebutan untuk sisir bambu itu adalah Kekedi.

Setelah kapas sudah semakin halus, tahap ketiga adalah memintalkan kapas ke benang. Tahap ini menggunakan landasan kepala kerrang laut dan sebuah tongkat kecil dililit benang. Selanjutnya, tali benang harus diputar dari balutannya menyatu dengan kapas hingga akhirnya seluruh kapas bisa tergabung dalam tali benang.

Untuk keseluruhan proses pembuatan benang dari kapas ini bisa memakan waktu seminggu lebih jika penenun hendak membuat kain sarung. Seperti yang diketahui kain sarung asal Sabu berukuran lebih dari 1,5 meter atau sampai 2 meter. Satu sarung saja sudah bisa digunakan untuk membuat dua rok panjang.

Kain Sabu memang sengaja dibuat berbentuk sarung karena pada zaman dahulu sarung ini menjadi pakaian masyarakat.  Yang menutupi dari kaki sampai leher. Kain sarung dengan metode tenun ikat ini juga terbukti cukup hangat di tengah musim dingin.

Sementara itu salah seorang aktivis tenun ikat asal NTT, Yovita Meta Bastian, yang akrab disapa Mama Yovita, satu dari sepuluh penerima penghargaan dari Belanda, Prince Claus Award pada 2003. Dia terpilih atas dedikasinya terhadap pelestarian tenun. Dia menceritakan kecemasan dia pada hilangnya tenun ikat NTT.

Yovita yang juga pengrajin tenun Biboki, asal Timor Tengah Utara, NTT ini mengatakan produk tenun bisa disebut sebagai sektor ekonomi kreatif tradisional yang tidak mudah mengalami disrupsi. Sangat berbeda dengan karakter ekonomi tradisional lain seperti memanen bahan makanan yang bisa saja mengalami kendala cuaca.

 Sektor ini bisa resisten karena terus menampilkan kreativitas dan keunikan. Sayang, para pegiat tenun ikat kini mulai mencemaskan tradisi menenun ikat bisa hilang seiring dengan terkikisnya keinginan generasi muda untuk belajar menenun.

"Saya khawatir kalau tenun bisa hilang kalau tidak ada latihan untuk anak-anak. Maka kami buat pendekatan dengan sekolah untuk anak-anak bisa latihan tenun, karena anak-anak di sekolah tidak diajar tentang tenun," ungkap Yovita kepada Bisnis.

Mama Yovita menceritakan, kecemasan dia yang paling utama adalah melihat banyak anak perempuan yang bersekolah di NTT kini tidak mau belajar menenun. Semua anak perempuan yang sekolah mereka dibebankan tugas kurikulum. Alhasil, anak-anak yang tetap menenun adalah anak yang tidak sekolah.

 "Kalau yang sekolah hampir tidak ada waktu. Jadi itu membuat cemas tenun bisa hilang juga," imbuhnya.

 Pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, Yayasan Tafean Pah yang artinya membangun dunia ini menceritakan model pendekatan tenun diawali dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai anak tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Jadi, ada pendekatan tergantung pada anak yang suka saja. Kalau anak yang tidak suka, kita tidak paksa," ujar Mama Yovita.

Misalnya ada 80 anak, ada ekstrakurikuler anak sekolah tentang menenun menggunakan pewarna kimia. Mama Yovita beralasan penggunaan warna kini karena anak sekolah masih belajar mengenal warna.

"Jadi pakai kimia biar lebih mudah dan bahannya lebih mudah didapat," terangnya.

Ada alasan kuat bago Yovita mengutamakan teknik tenun ada sejak SD sampai SMA, sebab, tenun ikat di NTT telah terbukti membangun perekonomian keluarga dari tangan para ibu. Misalnya saja, ada anak sekolah mulai SD kelas 2 sampai SMA sudah bisa menenun dengan baik. Nantinya, dia akan mendapatkan hibah alat tenun, sehingga ketika dia pindah ke universitas atay harus sekolah di tempat lain mereka bisa membawa alat tenun untuk membantu keuangan mereka.

"Jadi saat sekolah dia bisa menenun, hasilnya dia bisa jual bantu untuk uang sekolah atau beli buku atau apapun itu," terangnya.

 Selain fokus pada anak-anak dan generasi muda, juga mencemaskan hilangnya tenun ikat karena waktu kerja perempuan terlalu banyak. Hingga akhirnya suatu saat orang berpikir berhenti menenun.

"Padahal tenun ini kan masih kami gunakan juga untuk upacara adat," terang Yovita.

Oleh sebab itu, agar mendapatkan dampak yang signifikan bagi pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi di NTT, Mama Yovita mengimbau kepada pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi NTT untuk bisa memasukkan budaya menenun sebagai bagian dari muatan lokal. Dia berharap ada satu gerakan memasukkam kurikulum menenun untuk semua sekolah.

"Padahal di sekolah ada hari pengembangan bakat. Itu hari Sabtu san hari pengembangan bakat itu bisa digunakan untuk latihan tenun," sambungnya.

Sejauh ini bersama LSM Tafean Pah, dia telah mencoba menggelar kegiatan menenun bersama di tiga sekolah di Kefamenanu, NTT. Yovita berharap inisiatif ini bisa berkembang di daerah-daerah lain seluruh sekolah di pelosok NTT.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenun ikat
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top