Teknik Pewarna Kuno Tak Lekang oleh Waktu

Ada beraneka ragam kain tradisional yang dibuat dengan berbagai teknik. Misalnya seperti batik dan juga tie and dye. Teknik Tie dye sendiri merupakan teknik pewarnaan kain dengan cara melipat, memutar, dan mengikat kain kemudian dicelup zat warna, sehingga timbul reaksi antara serat tekstil dan zat warna itu.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 15 Januari 2019  |  18:46 WIB
Teknik Pewarna Kuno Tak Lekang oleh Waktu
Perajin menjemur batik jumputan di Sanggar Jumputan Maharani, Kampung Wisata Tahunan, Umbulharjo Yogyakarta, Jumat (17/3). - Antara/Andreas Fitri Atmoko

Bisnis.com, JAKARTA - Ada beraneka ragam kain tradisional yang dibuat dengan berbagai teknik, seperti batik dan tie and dye. Teknik tie dye sendiri merupakan teknik pewarnaan kain dengan cara melipat, memutar, dan mengikat kain kemudian dicelup zat warna, sehingga timbul reaksi antara serat tekstil dan zat warna itu.

Sementara, teknik yang dipilih tergantung dari motif yang ingin dibentuk. Teknik ini juga melibatkan perpaduan warna unik untuk memberikan kesan artistik di setiap helai kainnya.

Di Indonesia, teknik tersebut sudah lama digunakan, hanya saja istilahnya kurang terkenal. Tenik tersebut lebih dikenal dengan jumputan, triktik, bahkan sasirangan di Kalimantan. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok dari beberapa kain tersebut. Seiring berjalannya waktu, banyak modifikasi yang dilakukan. Sehingga tercipta motif-motif baru sebagai bentuk inovasi.

Lantas bagaimana tren teknik motif tersebut di era milenial? Meski memasuki 2019, seni tekstil zaman dulu seperti tie dye tak pernah luntur. Bahkan, tak beberapa desainer mancanegara seperti Stella McCartney membawakan teknik tersebut dalam koleksi busananya menjadi lebih modern.

Teknik itu cukup populer di Amerika saat menentang perang Vietnam pada 1954-1975. Amerika Serikat membantu Vietnam dalam perjuangan melawan komunis. Pada akhir 1960-an, orang muda Amerika memberontakterhadap aturan berpakaian yang konservatif. Pemberontakan tersebut menghasilkan kerjainan sederhana, seperti tie dye.

Jauh sebelum perang Vietnam, sebenarnya teknik tersebut juga sudah digunakan di India yang disebut Bandhani, dan Jepang dengan Shibori. Bahkan lebih lawas ditemukan di Peru. Desain yang ditemukan meliputi lingkaran dan garis kecil dengan warna terang , seperti merah, biru, kuning, dan hijau.

Teknik tersebut kini diinovasi ke dalam beragam motif dengan berbagai potongan busana. Tak jarang, perancang busana Indonesia mengombinasikan beberapa motif dengan negara lain, namun tetap mempertahankan ciri khas Indonesia.

Novita Yunus menjadi salah satu perancang busana Indonesia mencoba mengembangkan teknik itu ke dalam koleksinya. Dia mengatakan teknik kuno tersebut tetap bisa menjadi tren di 2019. Tak heran di 2019, label Batik Chic dan NY masih konsisten memakai teknik tie dye. Hanya saja, lanjutnya, teknik tie dye yang diterapkan dalam label NY lebih rumit.

“Teknik memang lebih rumit dan eksperimental menggunakan pewarna alam seperti indigo vera. Sedangkan untuk Batik Chic tekniknya lebih sederhana dan kasual, bahan ringan, dan cocok untuk busana ready to wear[siap pakai],” ujar Novita kepada Bisnis dikutip Selasa (15/1/2019).

Dia mengaatakan teknik tie dye banyak digunakan di beberapa daerah seperti jumputan di Palembang, kemudian Yogyakarta , dan juga Kalimantan dengan sasirangan. Tidak mengherankan, apabila pembuatan motif dengan teknik tie dye sudah sangat akrab dengan masyarakat Indonesia.

“Makanya, kita masih terus memakai dan mengembangkannya,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga ingin menunjukan bagaimana cara kerja akulturasi Indonesia dengan Jepang. Novita menilai Indonesia dan Jepang memiliki kesamaan mengenai seni dan keahlian. Hal tersebut diaplikasikan lewat teknik batik dikombinasikan dengan teknik shibori.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion, batik

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top