Kartini Abad Digital : Perempuan di Balik Sukses Bubu.com

Pepatah mengatakan di balik laki-laki hebat ada perempuan kuat. Namun di abad digital ini, pepatah tersebut bisa berubah menjadi 'di balik perusahaan teknologi yang sukses, ada sosok-sosok perempuan hebat', sebagaimana di balik suksesnya bubu.com, ada tangan dingin Shinta Dhanuwardoyo.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 20 April 2019  |  17:03 WIB
Kartini Abad Digital : Perempuan di Balik Sukses Bubu.com
Pembicara Shinta W. Dhanuwardoyo dari Bubu.com - ANTARA/Dodo Karundeng

Bisnis.com, JAKARTA - Pepatah mengatakan di balik laki-laki hebat ada perempuan kuat. Namun di abad digital ini, pepatah tersebut bisa berubah menjadi 'di balik perusahaan teknologi yang sukses, ada sosok-sosok perempuan hebat', sebagaimana di balik suksesnya bubu.com, ada tangan dingin Shinta Dhanuwardoyo.

Perempuan 49 tahun ini mengawali bubu.com sebagai perusahaan web development pada 1996, menjadikannya salah satu pionir perusahaan teknologi di Indonesia. Kini, bubu.com telah bertransformasi menjadi sebuah agensi digital dengan berbagai macam bisnis di ranah daring.

Melalui bubu.com, Shinta juga menginisiasi Bubu Awards, sebuah ajang penghargaan dua tahunan bagi pelaku industri digital Tanah Air, pertama kali digelar pada 2001. Selain itu, dia juga rutin menggelar IDByte, sebuah forum yang mempertemukan pelaku industri digital lokal dan global. Tahun ini Bubu Awards akan menginjak pelaksanaan ke-11, sedangkan IDByte telah 5 kali diselenggarakan.

Tak hanya berhenti disana, peran Shinta di industri digital juga merambah angel investor bagi sejumlah startup. Pada 2013, dia mendirikan Bubu Ventures dan sebelumnya menjadi Managing Partner di Nusantara Ventures, salah satu firma venture capital pertama di Indonesia.

Ditemui Bisnis di kantornya, Shinta bercerita bahwa saat ini peran perempuan di industri digital sudah banyak berubah, jika dibandingkan saat pertama kali dia mengembangkan bubu.com. Dia mengatakan, tidak sedikit perempuan mendirikan startup dan mampu meraih sukses. Hal yang sama juga bisa ditemui pada posisi-posisi startegis di perusahaan teknologi yang dijabat oleh perempuan.

Meski secara proporsi, jumlah laki-laki pelaku industri digital masih mendominasi, tetapi perempuan Indonesia saat ini sudah memiliki banyak pilihan untuk memiliki kiprah.

"Sebenarnya bukan masalah perempuan tidak bisa menjalankan teknologi, tetapi masalah choice apakah mereka punya interest di dunia digital atau tidak," ujar Shinta.

Dia melanjutkan, karena titik tekannya ada pada minat dan ketertarikan perempuan, maka yang harus diupayakan oleh semua statekholder adalah membuka mata semua orang bahwa bukan hal yang tidak mungkin bagi perempuan untuk memiliki peran penting di masa dimana teknologi menguasai segala sektor lini kehidupan. Maka dari itu, menjadi penting untuk menghadirkan role model perempuan yang mampu bertahan dan sukses mengambil peran di industri digital.

Di samping batasan-batasan bagi perempuan yang sudah dikikis oleh hadirnya teknologi, perempuan Indonesia, menurutnya, masih terkungkung oleh sistem sosial dan kultur.

"Kita masih percaya kalau perempuan sudah punya anak ya ngurusin anaknya saja. Padahal dengan teknologi, misalkan dia mau stay at home dan mulai bisnis di dunia digital, bisa banget," katanya.

Shinta percaya bahwa melalui teknologi, perempuan harus berdaya dan diberdayakan. Hal itu mengingat peran sentral perempuan sebagai manajer keuangan keluarga, karenanya dapat diambil kesimpulan bahwa ekonomi Indonesia ada di tangan perempuan. Contoh lain, sebagian pedagang di pasar-pasar adalah perempuan. Teknologi, lanjut Shinta akan mampu memudahkan peran perempuan, di satu sisi sebagai agen penggerak ekonomi, di sisi lain sebagai ibu rumah tangga.

Melalui Bubu Awards dan IDByte, Shinta turut mendorong keterlibatan perempuan di industri yang 23 tahun digelutinya itu. Pada penyelenggaraan IDByes yang terakhir, Shinta menggelar diskusi panel bertajuk Women In Tech, menghadirkan sosok perempuan di industri digital, baik lokal dan global. Dia juga aktif menjadi pembicara di berbagai forum internasional.

Selain itu, Shinta pun turut mendukung gerakan-gerakan dan komunitas pemberdayaan perempuan di industri teknologi seperti Generation Girl, Girls In Tech, Coding Mum, dan lain-lain.

"Perempuan-perempuan yang punya startup yang minta bertemu, saya temui dan saya coba bantu mentor sebisa saya," ujar Shinta.

Ke depan dia melihat akan lebih banyak lagi perempuan yang terjun ke industri digital, didukung banyaknya komunitas dan gerakan pemberdayaan tersebut.

Selain memimpin Bubu dan Bubu Ventures, Shinta juga aktif di KKamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, sebagai Ketua Komite Tetap Industri Media Online. Melalui perannya di badan tersebut, Shinta tengah mengembangkan platform dan ekosistem bagi pelaku startup di Indonesia.

Platform tersebut nantinya akan mempertemukan pelaku startup, venture capital, angel investor, serta inkubator startup dalam satu wadah. Inisiasi tersebut dia mulai berawal dari banyaknya founder startup yang mengirimkan proposal pendanaan kepadanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, hari kartini

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top