Sustainable Fashion Digadang-Gadang Mampu Cerahkan Industri Fesyen Dalam Negeri

National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma mengugkapkan bahwa potensi industri fesyen, terkhusus busana muslim atau modest fashion memiliki potensi untuk berkembang dengan sangat pesat.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 22 April 2019  |  16:03 WIB
Sustainable Fashion Digadang-Gadang Mampu Cerahkan Industri Fesyen Dalam Negeri
National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma - Bisnis/Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma mengugkapkan bahwa potensi industri fesyen, terkhusus busana muslim atau modest wear memiliki potensi untuk berkembang dengan sangat pesat.

“Bukan hanya pasar Indonesia, ternyata pasar dunia juga merespon bahwa busana muslim memiliki potensi pasar yang besar,” tuturnya dalam konferensi pers Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2019, Senin (22/4/2019).

Ali menjelaskan, sustainable fashion merupakan strategi yang tepat dalam bersaing dengan produk-produk fesyen luar negeri. 

"Sustainable fashion ini penting, kenapa? Karena marak produk luar negeri yang ada di Indonesia. Mungkin masih lebih dari 50% produk fesyen di sini berasal dari luar negeri," jelasnya. 

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh para pelaku di industri fesyen muslim dalam menerapkan konsep sustainable fashion.

Diantaranya, harus memiliki identitas ke-Indonesia-an dengan menggunakan kekayaan lokal. Identitas tersebut diharapkan bisa mengenalkan Indonesia lebih luas kepada dunia fesyen internasional. 

"Tidak kalah penting, modest fashion sudah banyak aturan dan etikanya, seperti harus menutup aurat, bisnis fesyen perlu mengikuti aturan tersebut agar bisa berkelanjutan," jelasnya.

Lebih lanjut, Ali menyinggung bahwa masih banyak bahan-bahan material fesyen yang tidak ramah lingkungan dari luar negeri sehingga menjadi sampah fesyen.

Oleh sebab itu, Indonesia bisa mengambil peran besar dalam rangka menyediakan bahan-bahan tekstil yang ramah lingkungan. Dengan menggarap tekstil dalam negeri, diharapkan bisa mendominasi pasar.

"Inilah yang membedakan jika Indonesia membesarkan sustainable fashion. Indonesia bisa bersaing di segi kualitas dan cara bekerjanya,” terangnya. 

Satu strategi lagi yang juga sangat penting di samping produk yang made in Indonesia adalah harga yang kompetitif. 

“Terakhir adalah people fashion. Ini artinya, fesyen tidak perlu muluk-muluk hanya diproduksi untuk kalangan atas saja, tetapi juga middle dan low market," katanya. 

Dalam kesempatan yang sama, terkait dengan pasar yang luas, Andi Djoewarsa selaku VP Marketing Tokopedia mengatakan bahwa ada sekitar 750.000 pelaku fesyen, dimana 50% diantaranya adalah fesyen muslim. Jika dilihat dari sisi pertumbuhan market kelas menengah, ada pertumbuhan sekitar 5%--7% pada produk fesyen muslim, mengutip data Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Sementara dari sisi ekonomi, pelaku dan pasar pertumbuhannya juga sangat tinggi. Menurutnya, pasar menggunakan modest wear tidak hanya untuk menutup aurat, tetapi lebih dari itu, untuk penampilan sehari-hari.

"Indonesia tidak hanya jadi pasar, tetapi juga produsen. Setiap bulan pengunjung Tokopedia mencapai 90 juta pengunjung, artinya ada peluang produk-produk dalam negeri terlihat oleh pasar,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top