5 Mitos dan Fakta Imunisasi yang Patut Anda Tahu

Zaman sekarang, masih banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 22 April 2019  |  11:43 WIB
5 Mitos dan Fakta Imunisasi yang Patut Anda Tahu
Vaksinasi malaria - Reuters/Joseph Okanga

Bisnis.com, JAKARTA - Zaman sekarang, masih banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak. 

Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur, tubuh bayi, anak, dan remaja dirangsang oleh vaksin untuk membentuk zat kekebalan spesifik untuk mencegah penularan penyakit. 

Dalam acara Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Seimbang Untuk Mendukung Indonesia Lengkap oleh Nestle Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin (22/4/2019), disampaikan mitos dan fakta tentang imunisasi berikut ini: 

1. Imunisasi sebabkan autisme, lumpuh, dan beracun

Banyak orangtua yang ragu memberi imunisasi pada anak karena menyebarnya isu efek samping negatif dari imunisasi. Salah satunya adalah vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak atau sebabkan kelumpuhan. Padahal berbagai penelitian ilmiah pada 2014-2019 telah menyimpulkan bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme atau berbahaya.

2. Demam setelah imunisasi berbahaya

Memang, setelah imunisasi ada sebagian anak yang mengalami demam, kemerahan, dan bengkak di area suntikan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar dan tidak berbahaya. Hal ini tidak berkaitan dengan kualitas vaksin. Kalau anak demam, berikan anak obat penurun panas tiap 4 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter. 

3. Tidak masalah kalau terlewat jadwal

Hal ini tentu salah kaprah. Kekebalan dan perlindungan penyakit akan optimal kakau imunisasi sesuai jadwal dan jarak yang direkomendasikan. Jika terlewat atau tertunda, anak belum memiliki kekebalan spesifik sehingga masih rentan penyakit. Kekebalan menjadi tidak optimal jika jarak antar imunisasi yang sama terlalu jauh atau terlalu dekat dari jadwal yang dianjurkan. 

4. Imunisasi bayi-balita sudah cukup, vaksinasi remaja dan dewasa tidak perlu

Hal ini salah besar karena imunisasi saat remaja bahkan dewasa masih diperlukan karena kekebalan dapat menurun seiring waktu setelah imunisasi pada saat bayi. Selain itu anak usia sekolah dan remaja makin banyak berinteraksi dengan orang lain sehingga berisiko tertular penyakit. Oleh karena itu IDAI menganjurkan imunisasi lanjutan pada usia sekolah dan remaja.

5. Imunisasi yang disubsidi pemerintah saja, yang lain tidak perlu

Sesungguhnya semua imunisasi itu penting namun pemerintah Indonesia masih menyediakan subsidi untuk sebagian vaksin seperti hepatitis B, polio, BCG, DPT-Hib, campak rubela, DT, dan Td. Sementara itu vaksin pneumokokus, HPV, JE, dan rabies diprioritaskan di beberapa provinsi tertentu. 

Walau begitu, vaksin yang belum disubsidi pemerintah seperti pneumokokus, rotavirus, influenza, japanese encephalitis B, rabies, MMR, demam tifoid, cacar air, hepatitis A, HPV, dan meningitis sama pentingnya untuk diberikan untuk perlindungan tubuh.

Dokter spesialis anak Soedjatmiko dari IDAI mengatakan untuk melawan hoaks antivaksin adalah dengan cara jangan membaca hoaks, jangan ditanggapi, dan jangan dipercaya. "Manfaat imunisasi sudah terbukti di semua negara, jadi hoaks anti imunisasi tak perlu dipercaya," katanya. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
imunisasi, vaksinasi

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top