Geliat Konten Platform Video Streaming

Nama platform viddeo streaming seperti Netflix atau Amazon Prime tentu tidak lagi asing bagi para penikmat film di seluruh dunia.
Syaiful Millah | 08 Juni 2019 19:12 WIB
Netflix - Digitaltrends

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring dengan kemajuan teknologi, industri perfilman global terus mengalami perkembangan. Dari segi konten, kuantitas dan kualitas film-film anyar tentu dibuat sedemikian rupa sehingga menyuguhkan berbagai sajian yang menarik bagi penonton.

Tak hanya dari segi konten, perkembangan teknologi juga mendonrong industri perfilman berkembang lebih luas lagi dengan hadirnya platform video streaming atau video on demand yang sekarang terus bertambah, bahkan melibatkan para pelaku industri hiburan kenamaan.

Ya, nama platform seperti Netflix atau Amazon Prime tentu tidak lagi asing bagi para penikmat film di seluruh dunia. Layanan-layanan seperti itu pada awalnya hanya menyajikan konten yang merupakan siaran ulang dari program acara televisi atau film yang tayang di bioskop.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu platform tersebut mulai mengembangkan konten mereka sendiri dalam berbagai bentuk. Tak bisa dipandang sebelah mata, konten buatan platform layanan video streaming juga memiliki kualitas jempolan dan mendapatkan tempat tersendiri bagi penonton.

Artinya, konten dari layanan yang masih baru di industri perfilman itu bisa bersaing dengan konten-konten yang dihasilkan secara konvensional. Banyak pihak yang menengarai hal ini sebagai persaingan antara layanan over the top dengan bioskop, tapi ada juga yang melihat sebagai kolaborasi dalam menumbuhkan ekosistem industri keseluruhan.

Pada awal 2019 terjadi sebuah peristiwa besar dalam industri perfilman global yang menuai banyak respons pro dan kontra. Adalah film original Netflix yang berjudul Roma menjadi nominasi peraih Piala Oscar untuk 10 kategori, termasuk nominasi sebagai film terbaik di ajang film internasional itu.

Hasilnya Roma memang tidak keluar sebagai penyandang gelar film terbaik tahun ini, tapi juga tidak mengecewakan dengan memboyong 3 penghargaan dari kategori sutradara terbaik, sinematografi, dan film terbaik berbahasa asing.

Keberhasilan konten orisinil dari Netflix tersebut memang tak lepas dari kontroversi yang melibatkan banyak pelaku industri perfliman global, termasuk salah satunya adalah sutradara kawakan Steven Spielberg yang meminta Academy of Motion Picture Arts and Scineces (AMPAS) tidak mengikutsertakan platform video seperti Netflix dalam perebutan piala Oscar.

Bagaimana pun, hal ini menunjukkan bahwa para penyedia layanan video streaming mampu menghadirkan konten-konten berkualitas bagi para penggemar yang mencakup berbagai negara di dunia. Lantas bagaimana dengan kondisi layanan serupa di dalam negeri?

Tidak bisa dipungkiri bahwa penyedia layanan video on demand di pasar dalam negeri masih dinikmati oleh para pemain global atau regional. Netflix tentu tak absen, yang lainnya adalah Viu, Hooq, dan Iflix. Sementara layanan lokal yang cukup terdengar adalah Maxstream milik Telkomsel.

Muatan Lokal

Menariknya, kendati merupakan platform yang berasal dari luar negeri, para penyedia layanan tersebut berbondong-bondong menghadirkan konten dengan muatan lokal, tentu untuk dinikmati lebih intim bagi para penggemar di Indonesia.

Tetapi juga menjadi hal positif, karena layanan-layanan tersebut menjangkau pasar dari beberapa negara di kawasan regional hingga internasional. Artinya, bahwa konten-konten lokal bisa bersanding di pasaran yang lebih luas dan ternyata hasilnya cukup positif.

Beberapa konten original Viu Indonesia mendapatkan penghargaan dalam ajang Asian Academy Creative Awards. Detilnya adalah karya berjudul The Publicist memenangkan kategori drama serial terbaik, aktris pendukung terbaik, dan promo atau cuplikan (trailer) terbaik. Aktor pendukung terbaik untuk film Kenapa Harus Bule dan lagu tema terbaik untuk lagu Matahari.

Adapun di luar penghargaan resmi, banyak konten original lokal buatan para penyedia platform yang bekerja sama dengan pelaku industri film dalam negeri mendapatkan sambutan positif dari para penggemar.

Misalnya saja Cek Toko Sebelah The Series, Keluarga Badak, dan Brata dari layanan Hooq. Halustik dan Knock Out Girl dari Viu atau Magic Hour dari Iflix yang tahun telah memulai musim keduanya dan masih banyak lagi serial yang dinantikan oleh para penonton setia layanan video on demand masing-masing.

Country Head Hooq Indonesia Guntur Siboro mengatakan bahwa selain menjadi distribusi tambahan bagi film yang telah tayang di bioskop, platform video seperti ini memang sudah harus membuat konten original sendiri yang akan menjadi kekuatan utama bagi pelanggan.

Sementara itu, Viu Senior Vice President Marketing Indonesia Myra Suraryo mengatakan kehadiran layanan video ini dapat melengkapi dan meningkatkan ekosistem industri perfilman dalam negeri untuk terus berkembang.

Tak bisa dipungkiri memang kehadiran platform tersebut menjadi alternatif para sineas untuk berkarya selain dari jalur konvensional dan indie. Ada jalur tambahan melalui kerja sama dengan penyedia layanan video streaming itu dengan berbagai kelebihan yang dimiliki. Sangat menggiurkan.

Baik Guntur maupun Myra sebagai pelaku dalam industri ‘baru’ perfilman ini optimistis bahwa layanan ini akan terus berkembang dari jumlah penonton dan variasi konten di pasar Indonesia. Keduanya berharap keberadaan mereka bisa memberikan hiburan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Hiburan

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top