Kementerian Kesehatan Fokus Putuskan Mata Rantai Virus Hepatitis dari Ibu ke Anak

Menyambut hari Hepatitis Dunia yang akan dirayakan pada 28 Juli mendatang, pihak Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan tentang akibat yang ditimbulkan oleh virus hepatitis
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  06:25 WIB
Kementerian Kesehatan Fokus Putuskan Mata Rantai Virus Hepatitis dari Ibu ke Anak
Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Dr. dr. Andri Sanityoso Sulaiman Sp.PD KGEH dan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan pada Senin(22/7/2019) - Ria Theresia Situmorang

Bisnis.com, JAKARTA - Menyambut hari Hepatitis Dunia yang akan dirayakan pada 28 Juli mendatang, pihak Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan pengetahuan tentang akibat yang ditimbulkan oleh virus hepatitis. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes saat berbicara di Gedung Kemenkes pada Senin (22/7/2019), menyebutkan hepatitis secara harafiah adalah peradangan hati yang paling banyak disebabkan oleh virus. Selain itu jugaa disebabkan lemak di hati, parasit hingga alkohol dan obat-obatan.

"Diantara lima jenis hepatitis, yang paling banyak di Indonesia adalah hepatitis B dan C. Penularan utama hepatitis B terutama yang kita fokuskan yakni secara vertikal adalah dari ibu ke anaknya. Ibu dengan hepatitis B diperkirakan 90 hingga 95 persen pasti menularkan virus ke anaknya," ucapnya.

Dr. dr. Andri Sanityoso Sulaiman Sp.PD KGEH dari Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia menyebutkan kalau hepatitis B bukannya penyakit keturunan namun virus ini lebih cepat menular dari darah sesaat setelah bayi dilahirkan. 

"Hepatitis B di Indonesia sangat tinggi angka penularannya dari ibu ke anak. Saat ini ada sekitar 1 dari 10 penduduk Indonesia mengidap penyakit hepatitis B. Kebanyakan orang tidak tahu kapan komplikasinya. Biasanya datang ke layanan kesehatan sudah sirosis atau kanker hati," ujarnya. 
 
Untuk itu, keduanya menyarankan ibu hamil untuk melakukan deteksi dini hepatitis dini yakni skrining Rapid Diagnostic Test (RDT) HBsAG dan pemberian imunisasi pasif bagi bayi untuk meningkatkan upaya perlindungan terhadap penularan hepatitis B.
 
Selanjutnya, Wiendra Waworuntu menjelaskan kerugian negara akibat hepatitis B kronis yang akhirnya akan menimbulkan penyakit yang lebih parah seperti sirosis menghabiskan dana sekitar 1 miliar, sedangkan penyakit lainnya yakni kanker hati dapat menghabiskan dana sekitar 5 miliar. 
 
"Maka dari itu kita mengimbau ibu hamil untuk segera memeriksakan dirinya agar jika terbukti positif mata rantai penyakitnya bisa kita putus sesegara mungkin. Karena obatnya sudah ada, cuma memang pasiennya yang sedang kita cari," tutupnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hepatitis

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top