Ini Kesalahan Orangtua Saat Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Setiap orang tua tentu ingin memastikan pendidikan terbaik bagi si buah hati, mulai dari playgroup hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 02 Agustus 2019  |  13:50 WIB
Ini Kesalahan Orangtua Saat Menyiapkan Dana Pendidikan Anak
Ilustrasi menabung - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Setiap orang tua tentu ingin memastikan pendidikan terbaik bagi si buah hati, mulai dari playgroup hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Untuk dapat mewujudkannya, dibutuhkan perencanaan keuangan dengan mengalokasikan anggaran khusus Dana Pendidikan dengan pemilihan instrument simpanan yang tepat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kenaikan biaya pendidikan bisa mencapai 10% setiap tahunnya sehingga perencanaan dan pemilihan investasi Dana Pendidikan sebaiknya yang dapat menutupi kenaikan biaya pendidikan yang terjadi setiap tahunnya.

Perencana Keuangan dari Oneshildt Financal Budi Raharjo mengatakan bahwa dana pendidikan harus direncanakan sejak anak lahir. Sayangnya, tidak semua orang tua yang mempersiapkan hal tersebut.

Padahal, biaya pendidikan terus meningkat setiap tahunnya, apalagi di sekolah swasta yang biayanya jauh lebih mahal sehingga tanpa adanya alokasi khusus Dana Pendidikan, justru akan membenani cashflow bulanan.

“Terkadang orang baru memiliki rasa urgensi ketika menjelang anak sekolah. Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya atau bahkan sejak anak lahir, persiapan dana pendidikan ini sudah harus dibuat tabungan khusus, mungkin sekitar Rp300.000 atau Rp500.000 per bulan sehingga ketika anak masuk sekolah, cashflow tidak terganggu,” jelasnya.

Selain menunda, kesalahan lain yang dilakukan orang tua dalam mempersiapkan dana pendidikan adalah menggabungkannya dengan dana darurat sehingga tidak terukur perkembangannya. Selain itu, juga dikhawatirkan dana yang seharusnya untuk pendidikan, justru dipergunakan sebagai dana darurat.

Setelah muncul kesadaran membuat dana pendidikan sedini mungkin, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan instrument investasi atau tabungan. Untuk hal ini, perlu mempertimbangkan parameter kondisi keuangan dan profil risiko dari pihak yang akan melakukan investasi.

“Kalau kondisi keuangannya pas-pasan, harus buat rencana pendidikan dengan dana yang cukup juga, jangan terlalu berlebihan. Dari profil risiko, kalau orangnya konservatif maka produk investasinya harus yang konservatif juga, kalau beri instrument yang agresif, bisa-bisa akan stress liat fluktuasinya,” jelasnya.

Hal lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah jangka waktu pemilihan investasi. Misalnya saja untuk mempersiapkan pendidikan Playgroup, TK atau SD yang mungkin hanya butuh 4 atau 5 tahun ke depan, instrument investasi atau tabunganya mungkin akan berbeda dengan Dana Pendidikan untuk di jenjang Perguruan Tinggi.

“Kalau bicara inflasi, biaya pendidikan di sekolah swasta itu bisa 2 sampai 3 kali inflasi, maka kita perlu instrument investasi atau tabungan yang tepat agar uang yang ditanamkan atau dipupuk tidak tergerus inflasi. Semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memupuk dana, pilihan instrumennya bisa yang lebih agresif,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top