Mengenal Mikoprotein Sebagai Alternatif Sumber Gizi Ramah Lingkungan

Salah satu alternatif sumber protein nabati yakni mikoprotein. Sumber protein alternatif ini berasal dari jamur fusarium venenatum yang tumbuh secara alami dari tanah.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 Agustus 2019  |  12:24 WIB
Mengenal Mikoprotein Sebagai Alternatif Sumber Gizi Ramah Lingkungan
Daging merah berprotein - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat Indonesia umumnya rajin mengonsumsi tahu dan tempe, sebagai makanan sumber protein nabati bebas daging.

Selain murah, tahu dan tempe juga tersedia mulai dari pedadagang sayur eceran hingga supermarket. Selain itu, protein nabati juga banyak dilirik seiring dengan gerakan peduli lingkungan yang merebak belakangan ini.

Fakta lain, konsumsi daging dunia diproyeksi akan meningkat hingga dua kali lipat antara 2000 dan 2050.

Hal ini disebabkan oleh peningkatan populasi dunia dan peningkatan pendapatan domestik bruto di negara-negara berkembang yang sangat pesat, serta kebiasaan buruk masyarakat mengkonsumsi daging yang tidak ramah lingkungan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah menyuarakan bahwa daging merah dapat menjadi salah satu penyebab kanker.

Selain itu, berbagai penelitian juga menegaskan bahwa konsumsi makanan nabati dapat membantu mengurangi dampak buruk terhadap perubahan iklim dan memberikan berbagai manfaat kesehatan.

Industri makanan nabati diperkirakan akan meningkat secara global karena semakin banyaknya orang yang mulai memahami dampak negatif dari konsumsi daging.

Tren ini juga diamati di Indonesia, dengan laporan dari badan intelijen Mintel yang mengungkapkan bahwa 39% penduduk Indonesia mengkonsumsi lebih banyak sumber protein non-hewani pada 2017.

Bahkan, 24% penduduk Indonesia bersedia untuk menjalani pola makan nabati atau diet vegetarian.

Salah satu alternatif sumber protein nabati yakni mikoprotein.Sumber protein alternatif ini berasal dari jamur fusarium venenatum yang tumbuh secara alami dari tanah.

Di Amerika Serikat dan Eropa, produk mikoprotein hasil fermentasi F. venenatum ditumbuhkan pada kultur sistem continuous flow.

Dibandingkan dengan produksi protein hewani, mikoprotein menggunakan 90% lebih sedikit lahan dan air, sehingga dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

Pada acara Asian Congress of Nutrition 2019 di Bali, diungkapkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa mikoprotein dapat membantu pertumbuhan massa otot setelah berolahraga, jauh lebih baik dibandingkan protein susu.

Selain itu, mikoprotein juga dapat membantu para manula untuk mempunyai kehidupan yang lebih sehat pada masa tuanya. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa kandungan gizi mikoprotein tinggi serat, tetapi rendah lemak jenuh.

Penemuan ini didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Exeter di Inggris, yang melibatkan 20 orang pria berusia muda dengan kondisi fisik yang sehat dan bugar, dengan menyimulasikan kegiatan latihan angkat beban menggunakan otot kaki.

Masing-masing peserta simulasi ini pun mengonsumsi satu dari dua jenis protein, kemudian perkembangan otot mereka dicatat.

Hasil membuktikan bahwa mereka yang meminum suplemen mikoprotein mengalami pertumbuhan otot 120% lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi asupan protein.

Pada waktu yang sama, terlihat bahwa mereka yang mengkonsumsi protein susu hanya mengalami pertumbuhan otot 60% lebih cepat.

Benjamin Wall, Associate Professor Nutritional Physiology, University of Exeter mengatakan, hasil riset tersebut sangat memuaskan, terutama ketika para peneliti melihat beberapa individu yang lebih memilih sumber protein non-hewani untuk menunjang pemeliharaan dan adaptasi massa otot mereka dalam berolahraga.

"Kami sangat antusias untuk melihat temuan ini dapat dilanjutkan menjadi studi pelatihan jangka panjang pada populasi yang lebih luas," ujarnya.

Di Indonesia, kebiasaan mengonsumsi makanan pengganti daging dari jamur alami seperti tempe dan oncom sudah sangat tidak asing lagi.

Mikoprotein dapat menjadi alternatif pilihan protein bernutrisi ramah lingkungan yang tepat untuk membantu kelanjutan pertumbuhan industri pangan, di tengah-tengah populasi Indonesia yang terus meningkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, daging sapi

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top