Thirty Days of Lunch: Podcast Literasi Finansial, Karir dan Lifestyle Kekinian

Konsep podcast yang menggabungkan obrolan santai dengan berbagai topik mulai dari finansial, karir hingga lifestyle bersama para pakarnya setelah makan siang ini berhasil menarik pasar pendengar millenial di usia 20-an hingga 30-an ke atas.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 25 Agustus 2019  |  10:11 WIB
Thirty Days of Lunch: Podcast Literasi Finansial, Karir dan Lifestyle Kekinian
Ario Pratomo dan Fellexandro Ruby pengisi konten Thirty Days of Lunch dalam acara Playfest 2019 di Parkir Selatan Gelora Bung Karno Sabtu (24/8 - 2019)

Bisnis.com, JAKARTA - Nama Ario Pratomo dan Fellexandro Ruby dalam setahun terakhir menjadi populer lewat podcastnya di platform Spotify, Thirty Days of Lunch. 

Konsep podcast yang menggabungkan obrolan santai dengan berbagai topik mulai dari finansial, karir hingga lifestyle bersama para pakarnya setelah jamuan makan siang ini berhasil menarik pasar pendengar millenial di usia 20-an hingga 30-an ke atas. 
 
Berbicara kepada Bisnis, dalam acara Playfest 2019 di Parkir Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Ruby menyebut pertemuannya dengan Ario diawali sebagai kolega di perusahaan yang sama. Hingga pada tahun 2018, tercetus ide untuk membuat konten Thirty Days of Lunch. 
 
"Kita kan dari company yang ada public speaking-nya juga. Mungkin saya sudah pernah bikin podcast tapi belum pernah yang seserius ini. Bahkan ini lebih serius dari curhat Babu (podcast tentang parenting) research-nya," ujar Ario. 
 
Ario bercerita, podcast dipilih sebagai media untuk kontennya karena fasilitas keleluasaan dalam menyajikan ide dan opini yang ditawarkan dalam bentuk audio. Berbeda dengan platform youtube yang lebih menonjolkan sisi audio dan visual. 
 
"Awalnya ide membuat Thirty Days of Lunch berangkat dari Things I Wish I Knew When I was Twenty. Saya berharap ada orang yang ngajarin sesuatu ke saya. Akhirnya saya sama Ario di Agustus nambah platform yaitu podcast. Kita ngobrolin finance, basic banget dan long-lasting," jelas Ruby. 
 
Selama setahun podcast ini berjalan, keduanya berhasil mengundang beberapa content creator ternama dalam 30 judul podcastnya seperti Aakar Abyasa dari perencana keuangan Jouska, jurnalis senior Najwa Shihab, founder Bukalapak Achmad Zaky, hingga pengusaha dan internet personality, Gary Vee. 
 
Topik literasi finansial juga dipilih keduanya sebagai topik umum di podcast Thirty Days of Lunch karena banyak millenial di usia 20-an hingga 30-an yang belum melek tentang personal finance. 
 
"Saya sudah membaca buku tentang keuangan di umur 20-an yang membuat cara hidup saya berubah, cara saya mengambil keputusan juga lebih future minded. Menurut saya, saya bisa menikmati apa yang saya punya sekarang, punya hidup yang saya impikan sekarang karena itu. Saya pengen share supaya orang bisa mencapai mimpinya secara finansial," jelas Ruby. 
 
"Personally, topik-topik finance mengubah saya tahun ini. Ada dari Stockgasm, Aakar, Blockchain, entah itu dari nabung saham, financial planning personal, keluarga, itu semua saya tahunya dari podcast, makanya sampai sekarang saya masih mau ngedengerin ulang lagi," sambung Ario. 
 
Ruby sendiri menyebut podcast yang ia sajikan bukan sarana mengambil keuntungan secara materil, meskipun ia dan Ario tetap harus menggelontorkan modal untuk proses produksi podcast. 
 
"Kita mungkin nggak menyebut ini sebagai cuan, pada ujungnya kita mau bikin karya yang positif dan berkualitas. Saya dan Ario juga tidak mencari mata pencaharian dari sini, ini bagian dari investment aja untuk menularkan sesuatu yang baik. Cuma kalau ada brand yang merasa mereka sejalan dengan visi dan akhirnya mau support, kita terbuka," tutupnya.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
finansial

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top