Orangtua, Cegah Stunting Sebelum Berencana Punya Anak

Upaya membangun sumber daya manusia unggul perlu dipersiapkan para orangtua sejak berkeinginan memiliki anak.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 14 September 2019  |  07:16 WIB
Orangtua, Cegah Stunting Sebelum Berencana Punya Anak
Ilustrasi anak 'stunting' atau kerdil yang antara lain disebabkan kurang gizi. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya membangun sumber daya manusia unggul perlu dipersiapkan para orangtua sejak berkeinginan memiliki anak.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan pencegahan stunting perlu dilakukan jauh sebelum suami dan istri berencana memiliki anak dan mempersiapkan kesehatan dari keduanya.

“Kesehatan suami yang perokok, misalnya, dapat berpengaruh pada kualitas sperma. Bibit sperma yang tidak bagus bisa memengaruhi kualitas janin yang akan dihasilkan,” kata Hasto dalam Musyawarah Nasional IV Koalisi Kependudukan Indonesia, Kamis (12/9/2019).

Dia melanjutkan, bayi terbentuk dalam plasenta hanya dalam 16 minggu. Plasenta ini akan menentukan bayi unggul atau tidak. Oleh karena itu, perempuan dan ibu juga memerlukan asupan vitamin, zat besi, dan asam folat sejak sebelum hamil.

Menurut United Nation Development Programs (UNDP), angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia dikategorikan tinggi yaitu 70,81 pada tahun 2017, pembangunan manusia masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia. 

Hasto menjelaskan menjaga jarak kehamilan juga penting. Anak yang lahir dengan jarak lebih dari 33 bulan atau 2 tahun 9 bulan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan anak yang lahir dengan jarak kehamilan kurang dari kurun waktu tersebut. 

"Saya sampaikan bahwa harus memperhatikan jarak satu kehamilan dengan kehamilan selanjutnya, karena ini menyebabkan risiko kematian ibu dan bayi akan naik apabila jarak kehamilan sangat dekat. Jarak kehamilan yang dekat juga dapat memengaruhi terjadinya stunting dan persoalan lain,” ujarnya.

Sementara, untuk mencegah stunting, tambahnya, perlu dilakukan sejak bayi belum lahir sampai dengan bayi yang sudah lahir, hingga saat 1000 hari pertama kehidupan. 

"Tentang stunting saya harap jangan ribut dampaknya dihilir, tetapi di era modern ini, kita bisa memikirkan yang di hulunya, jangan sampai kita akhirnya hanya berusaha mengobati data, padahal yang harus kita lakukan adalah mengobati penyebabnya," kata Hasto.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bkkbn, stunting

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top