Climate-Smart Diet : Sehat di Badan, Baik untuk Bumi

Apa hubungannya makanan yang dikonsumsi sehari-hari dengan perubahan iklim bumi? Ternyata, pola makan seseorang menghasilkan jejak karbon yang berbeda-beda.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  09:40 WIB
Climate-Smart Diet : Sehat di Badan, Baik untuk Bumi
Ilustrasi - Eatdietfood

Bisnis.com, JAKARTA--Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Albert Einsten diketahui mengadopsi gaya hidup vegetarian.

Dalam suratnya kepada Hans Muhsam, seorang fisikawan berkebangsaan Jerman tanggal 30 Maret 1954, Einsten mengungkapkan sudah beberapa waktu hidup tanpa lemak, daging dan ikan.

Menurutnya, manusia tidak terlahir sebagai karnivora, dan karenanya dia mengaku baik-baik saja meski tidak makan daging dan ikan.

Puluhan tahun kemudian, ketika isu perubahan iklim banyak dibicarakan sebagai ancaman nyata di depan mata, orang-orang mulai mengubah perilaku dan pola hidup. Hal itu termasuk apa yang diletakkan di atas piring dan bagaimana mendapatkannya.

Anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungannya makanan yang dikonsumsi sehari-hari dengan perubahan iklim bumi. Co-Founder dan Managing Director Burgreens, Helga Angelina menjelaskan, pola makan seseorang menghasilkan jejak karbon yang berbeda-beda.

Menurut riset Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), pemakan daging akan menghasilkan 3,3 CO2 per 2.600 kilo kalori dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Jumlahnya sangat berbeda dibandingkan pola makan vegan yang hanya menghasilkan 1,5 CO2 per jumlah kalori yang sama.

Dari segi emisi, daging mengeluarkan 14,1 gram CO2 per kilo kalori. Sedangkan gandum dan sereal hanya 1,3 gram CO2 per kilo kalori.

Di lain sisi, konsumsi ikan dalam jumlah yang sangat masif, diikuti perilaku industri yang tidak bertanggungjawab, juga mengancam ekosistem laut.

Konsumsi ikan penduduk bumi saat ini diperkirakan sebesar 2,7 triliun ekor per tahun. Jika jumlah tersebut tetap bertahan, diprediksi laut akan kehilangan semua spesies ikan pada 2048. 

Helga mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan 7,5 miliar manusia akan protein hewani, alam telah banyak dikorbankan dalam proses produksi dan rantai suplai.

Pertama, penggunaan lahan. Diperkirakan sebanyak 91% lahan di Hutan Amazon yang luasnya tercatat 7 juta kilometer persegi, ditebang untuk peternakan.

"Kalau jumlah makanan yang diberikan ke hewan kita kasih ke manusia, kita bisa memberi makan untuk 4 ilira penduduk bumi yang memakan protein nabati," kata Helga.

Kedua, emisi gas. Sebuah riset menyatakan, gas metana yang dihasilkan sektor agrikultur berkontribusi lebih besar sebanyak 51% terhadap gas efek rumah kaca bumi, dibandingkan dengan total emisi kendaraan umum yang hanya 13%.

Ketiga, konsumsi minyak sawit. Helga mengatakan, sebenarnya tidak ada yang salah dengan tanaman sawit, tetapi perilaku industri yang megabaikan etika lingkunganlah yang membahayakan.

"Kalau kita tidak mengurangi konsumsi minyak, kita akan kehilangan sebagian besar hutan hujan pada 2022, dan itu 3 tahun lagi," ujarnya.

Namun, Helga menekankan, mengurangi konsumsi daging dan ikan bukan berarti kehilangan sumber protein sama sekali. Faktanya, sumber protein nabati sangat melimpah. Selain sehat di tubuh, protein nabati juga memungkinkan manusia meninggalkan jejak karbon yang lebih sedikit.

Michael Bucki, Konselor Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia menambahkan, mengubah pola konsumsi untuk kelangsungan bumi adalah salah satu kunci melawan perubahan iklim.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB tahun lalu menyatakan, bumi akan mengalami kenaikan suhu global melewati ambang minimum 1,5 derajat Celcius pada 2030. Pemanasan global melewati angka tersebut akan mengakibatkan kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, banjir, dan kekurangan makan untuk raturan juta orang.

Saat ini, bumi sudah hampir pada dua pertiga mendekati target itu, dengan suhu global telah menghangat sekitar 1 derajat Celcius.

"Kita tidak selalu harus melakukan hal-hal besar, hal-hal kecl juga diperhitungkan. Semua dimulai dari diri kita sendiri," ujarnya.

Perpanjang Usia Bumi dan Manusia

Pola makan yang mengesampingkan sumber protein hewani tidak hanya baik untuk bumi, tetapi juga berpeluang memperpanjang usia manusia. Sebuah riset bertajuk Blue Zones Study mengeluarkan sejumlah nama tempat di dunia dimana penduduknya berumur paling panjang, bahagia, dan sehat.

Diantaranya, Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), Nicoya (Costa Rica), Icaria (Yunani) dan Loma Linda, California (AS). Sebanyak 10% dari penduduk di daerah tersebut berusia di atas 100 tahun dengan tingkat produktifitas tinggi sampai akhir hayat.

Co-Founder dan Executive Chef Burgreens Max Mandias mengatakan, untuk mencapai hal tersebut, ada benang merah yang dilakukan penduduk di beberapa daerah itu. Pada prinsipnya, konsumsi makanan yang dominan berbasis nabati, diolah dengan proses masa minimum, mengurangi minyak sawit dan beralih ke minyak kelapa.

Selain itu juga disarakan untuk menggunakan bahan baku yang ditanam dari sumber lokal, sedapat mungkin bersifat organik dan hidroponik, serta minim sampah.

"Jangan lupa juga, jadikan air putih sebagai pilihan minuman, karena cairan bisa diperoleh dari jenis dan sumber-sumber lainnya," ujar Max.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim, diet, pola makan

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top