Anggaran Tinggi, Kesehatan Meningkat?

Data World Health Organization pada tahun 2010 menunjuk fakta bahwa investasi yang tinggi di bidang kesehatan tak lantas memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan masyarakat.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  15:54 WIB
Anggaran Tinggi, Kesehatan Meningkat?
Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui penyakit karena kelainan darah. - Dok. Kementerian Kesehatan

Bisnis.com, JAKARTA – Data World Health Organization pada tahun 2010 menunjuk fakta bahwa investasi yang tinggi di bidang kesehatan tak lantas memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan masyarakat.

Berbicara dalam Diskusi Panel Bisnis Indonesia di Graha CIMB Niaga, Senayan, Jakarta, pada Selasa (8/10/2019), Auliya A. Suwantika, akademisi dari Universitas Padjajaran menuturkan sekitar 20 hingga 40 persen dana yang dikeluarkan untuk biaya kesehatan sebenarnya terbuang sia-sia karena angka harapan hidup tak lantas meningkat seiring dengan bertambahnya pengeluaran per kapita.

“Hal yang membuat hal ini terjadi adalah, yang pertama pasien tidak mendapat perawatan yang tepat, dikarenakan pelayanan kesehatan yang programnya tumpang tindih, pengobatan yang tidak sesuai dan pengobatan yang tidak sesuai dengan pembiayaan,” ujarnya.

Selain itu, Auliyah juga menitikberatkan pada pilihan menggunakan opsi pengobatan yang lebih mahal dan mengabaikan obat-obatan generik yang sebenarnya bisa lebih efisien tergantung dari jenis penyakitnya.

“Ketiga ada hal-hal administratif diluar dari bidang kesehatan seperti penipuan dan korupsi, contohnya,” ujarnya.

Hasbullah Thabrany, Ketua Indonesian Health Economist Association juga menyebutkan dari total 5 persen alokasi anggaran pemerintah terhadap kesehatan, Indonesia masih berada di bawah Sri Lanka dan Bangladesh dalam perbandingan cakupan vaksinasi DPT3.

“Bukannya kemampuan kita tidak ada untuk membiayai masalah kesehatan, tapi mindset yang belum mencapai kesamaan pandang tujuan bersama. Sebagian besar rakyat maupun pemerintah tidak paham berapa biaya kebutuhan obat yang mencukupi,” pungkas Hasbullah.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top