Budaya Kalimantan Bakal Unjuk Gigi di Indonesia Fashion Week 2020

Untuk kedua kalinya, kekayaan budaya Kalimantan akan mewarnai ajang Indonesia Fashion Week 2020 yang digelar oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  13:24 WIB
Budaya Kalimantan Bakal Unjuk Gigi di Indonesia Fashion Week 2020
Peragaan Busana Indonesia Fashion Week 2019 menampilkan busana khas budaya Kalimantan - Indonesia Fashion Week

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk kedua kalinya, kekayaan budaya Kalimantan akan mewarnai ajang Indonesia Fashion Week 2020 yang digelar oleh Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).

Pada pergelaran yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 5 April 2020 mendatang, APPMI akan memperkenalkan budaya Kalimantan, seperti budaya suku Dayak, Kutai, dan Banjar ke mata dunia melalui rancangan fesyen bertema Tales of the Equator atau Treasure of the Magnificent Borneo. 

Budaya Borneo akan ditransformasikan dalam karya-karya desainer ternama melalui sejumlah kategori fesyen, antara lain ready to wear, konvensional, kontemporer hingga modest fashion. Keragaman budaya daerah itu akan berkembang selama dipadukan dengan identitas modern, sehingga mampu melahirkan karya yang indah dan mengagumkan.

Presiden Indonesia Fashion Week (IFW), Poppy Dharsono, mengungkapkan bahwa pemilihan tema budaya Kalimantan merupakan komitmen APPMI untuk memajukan sekaligus mengembangkan promosi budaya Indonesia. Hal itu dinilai karena Kalimantan memiliki beragam budaya yang menginspirasi industri dunia fesyen.

"Pada penyelenggaraan IFW lalu, banyak budaya di daerah Borneo yang belum terjangkau. Oleh karena itu, kami kembali menjadikan Kalimantan sebagai sumber inspirasi untuk IFW 2020 di mana beragam karya fesyen akan ditampilkan baik ready to wear, kontemporer, maupun modest wear," kata Poppy dalam keterangan resminya pada Rabu (9/10/2019).

Adapun, pada IFW 2019 yang mengangkat tema budaya Kalimantan berhasil mencatatkan 126.000 pengunjung dan mengantongi nilai transaksi hingga Rp89,1 miliar dengan 480 peserta pameran.

"Hal ini menunjukkan bahwa budaya Kalimantan sangat beragam dan seolah tak pernah habis untuk menjadi inspirasi di industri fesyen," tutur Poppy. 

Poppy melanjutkan bahwa pergelaran IFW didesain sebagai arena pengembangan kualitas dan kuantitas dari sumber daya pelaku industri fesyen. Dengan kualitas dan kuantitas yang baik, industri fesyen diharapkan tumbuh secara berkelanjutan dan mampu terserap di pasar lokal dan internasional karena promosi budaya pada era ekonomi global kian tak terbatas. 

Di sisi lain, kata Poppy, fesyen menjadi industri kedua terbesar yang paling banyak mengonsumsi air dalam proses produksi. Untuk itu, dibutuhkan dukungan untuk mempromosikan industri fesyen ramah lingkungan yang berkelanjutan.

"Oleh sebab itu, APPMI juga mengadakan kerjasama dengan Indonesia Global Compact Network (IGCN). Kerja sama ini bertujuan agar industri fesyen ramah lingkungan sehingga semakin merebak di Indonesia," ujar Poppy. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top