Manakala Perempuan Masa Kini Berada dalam Tantangan

Beberapa tahun lalu, saat terik cakrawala memanggang tepi barat India, para perempuan bertelanjang kaki berdiri di atas ladang sambil mengayunkan sabit ke arah tanamam gandum yang mulai menguning pada musim semi. Namun, kini, pemandangan itu nyaris tak terlihat.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  14:19 WIB
Manakala Perempuan Masa Kini Berada dalam Tantangan
Ratu Mirah Afifah, Raisa Andriana, Ira Noviarti, dan Isyana Sarasvati dalam diskusi untuk kampanye TakTerhentikan

Beberapa tahun lalu, saat terik cakrawala memanggang tepi barat India, para perempuan bertelanjang kaki berdiri di atas ladang sambil mengayunkan sabit ke arah tanamam gandum yang mulai menguning pada musim semi. Namun, kini, pemandangan itu nyaris tak terlihat.

Hal itu disebabkan karena keberadaan perempuan India yang bekerja pada sektor pertanian telah tergantikan oleh mesin-mesin yang merambah gandum, tebu dan ladang bawang di sekitar Chincholi, sebuah desa yang berjarak 190 kilometer dari pusat keuangan India di Mumbai.

Perempuan-perempuan itu berada di ujung situasi yang disebut oleh para ekonom sebagai krisis pekerjaan di India. Menurut laporan Center for Monitoring Indian Economy (CMIE), 90 persen dari sekitar 10 juta pekerjaan yang hilang di India pada 2018 dialami oleh perempuan.

Kondisi itu pun tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik pada Februari 2018, jumlah angkatan tenaga kerja perempuan hanya 55,44 persen dibandingkan dengan angkatan pekerja lelaki yang berjumlah 83,01 persen.

Meskipun jumlah angkatan kerja perempuan Indonesia meningkat 0,4 persen dari tahun sebelumnya, kondisi itu belum mencerminkan kesetaraan antara perempuan dan pria. Hasilnya, mayoritas perempuan tidak berpenghasilan karena keterbatasan akses yang diterima.

Berdasarkan studi dari PT Unilever Indonesia Tbk. melalui brand Sunsilk yang bekerja sama dengan International Centre for Research on Women (ICRW), terdapat 28 persen perempuan muda Indonesia berisiko tidak memiliki akses terhadap edukasi, pekerjaan, dan pelatihan.

Keterbatasan akses itu mengakibatkan mereka belum mampu mengembangkan potensi diri karena terhalang sejumlah tantangan. Masih berdasarkan riset yang sama, tantangan itu meliputi pembatasan internal diri sendiri, lingkungan rumah, lingkungan sekitar, serta masyarakat secara luas.

Pengamat sosial, budaya, dan komunikasi dari Universitas Indonesia, Devie Rachmawati, mengatakan bahwa selain tantangan tersebut, perempuan muda Indonesia juga lebih rentan stress ketimbang pria.

“Bagaimana mau menggali potensi diri jika stres?” ujar Devie. Menurutnya, terdapat tiga faktor yang melingkungi kondisi perempuan muda Indonesia. Pertama, karena faktor biologis yang berkaitan dengan dinamika hormon perempuan.

Kedua, faktor psikologis yang disebabkan oleh perkembangan media sosial, sehingga perempuan cenderung terobsesi terhadap pengakuan publik. Ketiga, faktor sosiologis yang mengutamakan penampilan fisik daripada kompetensi diri.

"Merujuk pada risiko terbatasnya akses edukasi, pekerjaan, dan pelatihan perempuan muda Indonesia, masih perlu adanya dorongan dan imbauan pentingnya melangkah melampaui batas untuk menghadapi stigma sosial maupun risiko itu sendiri," tutur Devie.

Tak Terhentikan

Menyikapi kondisi tersebut, Sunsilk mengajak perempuan muda Indonesia untuk menggali potensi diri dan membuka kesempatan bagi mereka untuk meraih mimpi melalui kampanye #TakTerhentikan. Kampanye ini sekaligus untuk memperingati Hari Internasional Anak Perempuan pada 11 Oktober 2019.

Director of Personal Care PT Unilever Indonesia Ira Noviarti mengatakan, perempuan muda Indonesia dalam rentang usia 13 – 18 tahun cenderung belum memiliki kesadaran akan potensi diri. Adapun, kesadaran tersebut penting untuk menggali potensi dan bakat dari tiap perempuan.

“Oleh sebab itu, Sunsilk memberikan serangkain pendekatan mulai dari inspire, encourage, dan equip yang diwujudkan melalui program Kilaukan Mimpimu. Kami berharap dapat membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengeksplorasi diri, menggali potensi dan akhirnya meraih mimpinya,” ujar Ira.

Ira menambahkan, program tersebut menargetkan pelatihan bagi 10.000 perempuan muda di seluruh Indonesia hingga 2020. Para peserta yang kelak mengikuti pelatihan ini juga diharapkan mampu menularkan inspirasi tersebut kepada perempuan muda lainnya.

Sementara itu, Ratu Mirah Afifah, Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, menjelaskan, Sunsilk secara khusus merancang materi untuk mendukung para fasilitator untuk memberikan pembekalan bagi para peserta.

Pembekalan itu, ujar Ratu, terbagi ke dalam tiga modul yang akan mempelajari kekuatan mimpi, memetakan langkah dalam meraih mimpi atau tujuan, dan membangun lingkungan yang suportif. Pendekatan ini melibatkan empat faktor yang disebut Positive Youth Development (PYD).

Raisa Andriana, penyanyi solo Indonesia yang juga Brand Ambassador Sunsilk, menyampaikan bawah dirinya terus memaksimalkan potensi diri dengan tidak hanya berkarier di dunia tarik suara melainkan juga berwiraswasta, serta menjalankan peran sebagai ibu.

"Aku yakin bahwa sebenarnya perempuan itu hanya butuh keyakinan untuk menjadi tak terhentikan. Aku berharap dengan inisiatif dari Sunsilk, perempuan muda Indonesia tidak hanya terinspirasi namun juga terberdaya melalui program pembekalan diri untuk terus berkarya di setiap langkahnya meraih mimpi."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perempuan

Editor : Pamuji Tri Nastiti
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top