Riset: Kurang Tidur Tingkatkan Stres 30 Persen

Sebuah studi menyatakan menderita kekurangan tidur dapat meningkatkan tingkat stres emosional seseorang hingga sepertiga kali lipat atau sekitar 30 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 07 November 2019  |  10:01 WIB
Riset: Kurang Tidur Tingkatkan Stres 30 Persen
Sumber: Independent.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi menyatakan menderita kekurangan tidur dapat meningkatkan tingkat stres emosional seseorang hingga sepertiga kali lipat atau sekitar 30 persen.

Para peneliti dari University of California, Berkeley baru-baru ini melakukan penelitian untuk mengeksplorasi bagaimana tidur yang buruk dapat memengaruhi keadaan mental seseorang.

Hampir 330 orang berusia antara 18 dan 50 tahun diobservasi untuk penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Human Behavior.

Dalam bagian pertama penelitian, para peneliti menggunakan MRI dan polisomnografi atau studi tidur untuk mengukur gelombang otak dari 18 orang dewasa ketika mereka menonton klip video emosional, sekali setelah tidur nyenyak dan lain waktu setelah tidur tanpa tidur. Setelah menonton klip video, para peserta diminta untuk mengisi kuesioner untuk menilai tingkat stres mereka.

Para peneliti menemukan bahwa setelah tidur malam yang gelisah, medial prefrontal cortex, bagian di otak yang membantu mengurangi kecemasan, tidak berfungsi seperti biasa. Sementara itu, pusat emosi yang lebih dalam di otak ternyata terlalu aktif.

Hasil ini direplikasi dalam studi lain dari 30 orang di usia dua puluhan, tiga puluhan dan empat puluhan.

Selain itu, sebuah studi online yang mengukur tingkat tidur dan kecemasan 280 orang muda dan setengah baya dilakukan selama empat hari.

Tim menemukan bahwa jumlah dan kualitas tidur para peserta memungkinkan mereka untuk memperkirakan tingkat stres mereka pada hari berikutnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa tidur yang buruk dapat meningkatkan tingkat stres emosional seseorang hingga 30%.

Profesor Matthew Walker, penulis senior studi ini, mengatakan para peneliti mampu mengidentifikasi fungsi baru tidur nyenyak, yang mengurangi kecemasan semalam dengan mengatur kembali koneksi di otak.

"Tanpa tidur, otak seolah-olah terlalu berat di pedal akselerator emosional, tanpa rem yang cukup," katanya, dilansir Independent, Kamis (7/11/2019).

Eti Ben Simon, dari Centre for Human Sleep Science dan penulis utama studi ini menyatakan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa kurang tidur memperkuat tingkat kecemasan dan, sebaliknya, tidur nyenyak membantu mengurangi stres semacam itu.

"Orang dengan gangguan kecemasan secara rutin melaporkan mengalami gangguan tidur, tetapi jarang perbaikan tidur dianggap sebagai rekomendasi klinis untuk menurunkan kecemasan," tambah Simon.

"Studi kami tidak hanya membangun hubungan kausal antara tidur dan kecemasan, tetapi juga mengidentifikasi jenis tidur NREM [non-rapid eye movement] yang kita butuhkan untuk menenangkan otak yang terlalu cemas," jelasnya.

Menurut Sleep Council, remaja berusia antara 12 dan 18 tahun membutuhkan 8 hingga 9 jam tidur malam, sedangkan orang dewasa yang berusia antara 18 dan 65 tahun harus tidur antara 7 hingga 9 jam semalam.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Pennsylvania State College of Medicine menemukan bahwa tidur kurang dari 6 jam semalam dapat menggandakan risiko kematian dini bagi orang yang menderita penyakit kronis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top