Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Untouchables, Kolaborasi Lintas Generasi Nunung WS dan Natisa Jones

Tidak hanya merentangkan karya dari dua generasi yang berbeda, pameran ini juga menyatukan Natisa yang ekspresionis dan Nunung sang seniman abstrak.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 24 November 2019  |  12:27 WIB
lukisan Natisa Jones "I Wish You Would" (kiri)  dan lukisan Nunung WS "Keindahan Kaligrafi"
lukisan Natisa Jones "I Wish You Would" (kiri) dan lukisan Nunung WS "Keindahan Kaligrafi"

Bisnis.com, JAKARTA - Pelukis senior Nunung WS memulai kariernya sekitar awal 1970-an, jauh sebelum juniornya beda generasi, Natisa Jones, lahir pada 1989. Kini keduanya disatukan dalam sebuah pameran bertajuk Untouchables yang merupakan perhelatan program seni Ciptadana ke-9, yang digelar 21 November-13 Desember 2019.

Tidak hanya merentangkan karya dari dua generasi yang berbeda, pameran ini juga menyatukan Natisa yang ekspresionis dan Nunung sang seniman abstrak. Meski demikian, keduanya tetap berakar pada penglihatan pribadi terhadap dunia di sekitarnya.

Kurator pameran Emmo Italiaander bercerita, awalnya dia mendapuk Nunung untuk menggelar pameran tunggal dalam program seni ini, tetapi yang bersangkutan menghendaki ditemani oleh seniman lain. Emmo mengatakan, sebagai pelukis muda, Natisa memiliki kedalaman dan kejujuran dalam berkarya, sesuatu yang juga dilihatnya ada pada karya-karya Nunung.

"Saya rasa Nunung adalah salah satu seniman terpenting Indonesia. Karyanya sangat medidatif dan mendalam. Demikian juga Natisa, dia harus menyampaikan sesuatu yang dia anggap penting," katanya.

Dia mengatakan, tema untouchable atau dalam bahasa Indonesia berarti tidak tersentuh merupakan sebuah kritik terhadap dunia yang terpusat dari wujud nyata segala sesuatu. Nyatanya, seni rupa tak bisa hanya dilihat sebagai barang dua dimensi, tetapi wadah seorang seniman memproses kreatifitas yang akhirnya menyajikan cermin bagi dunia sekitarnya.

Esensi dari proses kreatif itu akan membawa penikmat seni berpikiran terbuka ke tingkatan yang lain dari pemahaman dan penemuan diri yang bebas dan tak lekang oleh waktu.

"Saya lihat [dari karya-karya ini] banyak sekali hal yang bicara, atau tidak bicara, memberi kita cermin, dan bertemu dengan emosi," lanjutnya. 

Dia melanjutkan, baik Nunung maupun Natisa adalah pencari pemahaman dan kebenaran yang kemudian terhubung dengan dunia batin mereka. Meski terpisah generasi, keduanya digerakkan oleh energi kreatif yang sama dan kemampuan untuk mengartikulasikan penglihatan pribadi mereka.

Ekspresi Diri

Berbicara tentang karyanya, Natisa mengatakan, baginya seni adalah platform yang memungkinkannya menuangkan hal-hal yang dalam keseharian tidak memiliki wadah. Hal-hal tersebut susah dimengerti oleh kebanyakan orang dan hanya bisa hidup dalam seni rupa.

Karya-karya Natisa yang ekspresionis dan juga figuratif adalah caranya memilah pemikiran juga jalan untuk mencari solusi sebuah permasalahan.

"Pesan yang paling penting tentang kejujuran kepada diri sendiri. Itu sesuatu yang susah karena ada ekpektasi dari keluarga dan masyarakat jadi banyak dari kita tidak mau jujur terhadap diri kita sendiri," ujarnya.

Lukisan berjudul "I Wish You Would" (acrylic, charcoal ink, pastel on canvas 165x135 cm, 2019) misalnya, merupakan ekspresi keramaian dunia yang tidak bisa mengobati pilu hati seseorang. Figur wajah dalam lukisan tersebut menggambarkan ekspresi itu.

Dia melanjutkan, tak hanya soal perasaan dan ekspresi diri, Natisa juga menuangkan pemikirannya tentang budaya, kelamin, usia, dan lain-lain.

Di sisi yang berseberangan, Nunung menumpahkan ekspresi dalam bentuk yang berbeda. Karya-karya yang sederhana baik dalam warna maupun bentuk mengajak audiens untuk memikirkan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.

Karya berjudul "Keindahan Kaligrafi" (collage, acrylic on canvas 190x120 cm, 2014) memang tidak menyertakan satu huruf hijaiyah pun. Hanya terpampang warna-warna yang saling menumpuk, yakni hitam, jingga, putih, dan biru. Nunung mengatakan, dalam lukisan ini dia tidak melihat kaligrafi sebagai kumpulan huruf Arab.  Hal itu juga berlaku untuk karya-karyanya yang lain.

"Tetapi saya melihat kaligrafi itu sendiri, geraknya, bentuknya, ritmenya, sehingga saya menemukan kalau kaligrafi itu tarikan-tarikan yang seperti ini," jelasnya.

Ada sekitar 75 karya dari dua seniman yang dipamerkan selama 3 minggu mulai 21 November 2019 di Ruang Seni Ciptadana Lantai 5, Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lukisan
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top