Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Risiko Rokok Elektrik lebih Rendah dari Konvensional ?

Peneliti WHO mengakui bahwa produk rokok elektronik lebih tidak berbahaya dibanding rokok konvensional. Meski demikian rokok elektrik memiliki juga memiliki risiko yang membahayakan.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  10:20 WIB
NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar.  - FOTO REUTERS
NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar. - FOTO REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti WHO mengakui bahwa produk rokok elektronik lebih tidak berbahaya dibanding rokok konvensional. Meski demikian rokok elektrik memiliki juga memiliki risiko yang membahayakan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh perwakilan WHO sekaligus peneliti dari National Capacity-Tobacco Control Prevention of Noncommunicable Diseases, Dr. Ranti Fayokun pada sesi dengar pendapat yang diadakan oleh House of Representatives Filipina pada Desember 2019 lalu.

Pernyataan Dr. Fayokun didukung oleh hasil penelitian Public Health England, yang merupakan bagian dari Department of Health and Social Care United Kingdom. Duncan Selbie selaku Chief Executive Public Health England menyatakan rokok elektronik 95% lebih tidak berbahaya bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa, serta berpotensi membantu perokok untuk berhenti.

Lebih lanjutnya, ia menyatakan bahwa memang vape tidak 100% aman, namun kebanyakan zat yang menyebabkan penyakit karena merokok tidak ditemukan pada vape, serta bahan kimia yang ada menimbulkan bahaya yang terbatas.

“APPNINDO menyambut baik hasil penelitian mengenai rokok elektrik. Pada kenyataannya, rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional karena risiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih rendah. Hal tersebut menjadikan rokok elektrik sebagai alternatif bagi rokok konvensional,” ujar Syaiful Hayat, Ketua Umum Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) dalam siaran persnya.

“Kami terbuka untuk diskusi agar peraturan terkait rokok elektrik di Indonesia dapat menunjukkan dampak positif untuk produktivitas & kesehatan masyarakat,” lanjutnya.

Pernyataan dari Dr. Fayokun dinilai akan berpengaruh bagi pengguna vape dan rokok elektrik di Indonesia. Di Indonesia sendiri, hingga Desember 2019 pengguna vape di Indonesia mencapai satu juta orang.

Data tersebut diperoleh dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI). Pengguna vape di Indonesia berasal dari berbagai kalangan profesi, termasuk dokter dan ilmuwan. Berdasarkan berbagai penelitian, produk alternatif ini memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kanker, serangan jantung, diabetes dan lainnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rokok elektrik
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top