Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cegah Virus Corona, Efektif Masker Biasa atau N95?

Wakil Ketua Tim Infeksi Khusus di Rumah Sakit Umum Pendidikan dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Anggraeni, bicara cara menghindari wabah virus corona dari Wuhan, China.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 01 Februari 2020  |  15:28 WIB
Seorang penumpang mengenakan masker saat tiba di Bandara Pearson, tak lama setelah Toronto Public Health menerima pemberitahuan kasus dugaan pertama virus corona di Kanada, di Toronto, Ontario, Kanada 26 Januari 2020.  - Reuters
Seorang penumpang mengenakan masker saat tiba di Bandara Pearson, tak lama setelah Toronto Public Health menerima pemberitahuan kasus dugaan pertama virus corona di Kanada, di Toronto, Ontario, Kanada 26 Januari 2020. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Ketua Tim Infeksi Khusus di Rumah Sakit Umum Pendidikan dr Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Anggraeni, bicara cara menghindari wabah virus corona dari Wuhan, China.

Menurutnya, penggunaan masker bedah biasa cukup untuk menekan risiko tertular virus mematikan itu.

“Cukup pakai masker (bedah) biasa, asal cara pakainya betul,” kata dia, di Bandung, Jumat  (31/1/2020).

Anggraeni mengatakan penggunaan masker disarankan jika tengah berada di kerumunan banyak orang di ruangan tertutup. Penggunaan masker juga disarankan bagi mereka yang sedang sakit.

Jenis masker bedah biasa disebutnya cukup ampuh menekan risiko penularan virus corona.

“Asal betul-betul rapat di hidung, diikat atau pakai karet boleh, yang loop juga boleh. Asalkan semua tertutup, hidung dan mulut,” kata dia menerangkan.

Dijelaskannya, masker bedah biasa, untuk penggunaan sekali pakai, bisa dibeli bebas. Bagian luar biasanya berwarna hijau, dan bagian dalam putih.

“Bagian dalam yang putih itu mengabsorbsi kalau ada cairan-cairan, dan bagian luarnya, yang hijau, tahan air. Kalau dibalik, gak ada gunanya itu,” katanya. Anggraeni merujuk satu disinformasi soal pemakaian masker terbalik.

Dia juga menerangkan jenis masker lainnya yakni masker N95. Masker ini memiliki daya saring partikel yang jauh lebih baik. Namun, masker ini biasanya dipergunakan oleh petugas layanan kesehatan.  

“Sudah pernah pakai belum? Pengapnya bukan main. Dan itu memang paling bagus, tapi itu kalau kita berhadapan dengan pasien seperti kami ini. Pakai (masker) N95 karena berhadapan dengan kasus,” kata Anggraeni panjang lebar.

Anggareni mengatakan, masker N95 relatif lebih tertutup sehingga kerap tidak nyaman jika dipakai terlalu lama.

“Sepuluh menit saja belum tentu kuat pakai itu,” kata dia.

Menurut Anggraeni, ruang terbuka dengan pergerakan angin yang bebas, relatif lebih aman untuk potensi penularan virus corona. Indonesia juga relatif diuntungkan dengan paparan sinar matahari yang lebih banyak sehingga mengurangi potensi penyebaran virus.

Keterangannya itu sejalan dengan yang pernah disampaikan Erlina Burhan dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI dalam sebuah diskusi untuk awam dan media di FKUI, Salemba, Jakarta Pusat. Menurut pakar paru itu, ada beberapa faktor yang bisa melegakan masyarakat di Indonesia terkait wabah virus corona Wuhan.

Erlina mengatakan Indonesia memiliki iklim tropis dengan sinar matahari sangat menyengat. 

“Virus akan mati dalam kondisi panas. Kalau virus corona berada di udara dan kena panas, harusnya mati. Itulah sebabnya risiko di Indonesia lebih rendah,” katanya

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china industri masker wajah virus corona

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top