Sembuh dari Virus Corona, Ini Kisah Elizabeth Schneider

Saat terserang batuk dan demam, Elizabeth Schneider hanya mengonsumsi obat penurunan panas dan batuk yang dijual bebas di toko obat.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  13:44 WIB
Sembuh dari Virus Corona, Ini Kisah Elizabeth Schneider
Elizabeth Schneider telah sembuh dari penyakit virus corona dan kini sudah melakukan aktivitas di rumah. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Virus corona baru atau Covid-19 memang telah dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) karena penyebarannya yang telah mewabah ke berbagai penjuru dunia.

Berdasarkan catatan Worldometer hingga hari ini, Selasa (17/3) jumlah kasus tercatat di seluruh dunia telah mencapai angka 182.603 kasus dengan 7.171 kematian. Sementara, jumlah kasus sembuh dari virus corona baru ini mencapai angka 79.881.

Salah satu pasien yang telah dinyatakan pulih setelah terjangkit Covid-19 adalah Elizabeth Schneider (37 tahun). Dia memiliki pengalaman yang menarik terkait virus corona jenis baru ini, di mana dia merawat dirinya sendiri di rumahnya di Seattle, Washington.

Dilansir dari Agence France Press (AFP), Schneider yang memiliki gelar doktor di bidang bioengineering mengungkapkan bahwa dia pertama kali mengalami gejala mirip flu pada 25 Februari lalu. Gejala tersebut muncul tiga hari setelah dia menghadiri pesta yang kemudian diidentifikasi sebagai tempat suspect dari lima orang yang positif Covid-19.

“Saya bangun dan merasa lelah, tetapi itu tidak lebih dari apa yang biasanya Anda rasakan ketika harus bagun dan pergi kerja, dan saya sangat sibuk akhir pekan sebelumnya,” katanya.

Setelahnya, dia mengalami demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 39 derajat Celcius (103 derajat Fahrenheit) dan akhirnya mengonsumsi obat biasa yang dijual bebas. Tak lama demamnya mereda dalam beberapa hari.

Dia mulai curiga terkait virus corona baru ini ketika seorang temannya di Facebook memposting bahwa beberapa orang dari pesta yang didatanginya mengalami gejala serupa. Dengan cerdas, Schneider mendaftarkan diri dalam sebuah program penelitian yang disebut Seattle Flu Study.

Akhirnya, pada 7 Maret lalu dia mendapat kabar buruk karena dinyatakan positif Covid-19. Akan tetapi, dia mengaku merasa lega mendengar kabar tersebut, “Saya sedikit terkejut karena saya pikir itu agak keren. Dari perspektif keingintahuan ilmiah itu sangat menarik,” katanya kepada AFP.

Ketika didiagnosis positif corona, gejalanya sudah mereda. Otoritas kesehatan setempat memintanya untuk tinggal di rumah setidaknya selama 7 hari setelah timbulnya gejala. Dia menjalaninya dengan baik. Alhasil, dalam seminggu terakhir dia telah merasa baik dan gejalanya sudah sangat mereda.

Apa yang dilakukannya di rumah adalah kebiasaan rutin sehari-hari. Dia hanya menerapkan apa yang dikatakan banyak media untuk mencuci tangan dengan benar dan menghindari kontak fisik dan jarak tertentu dengan orang lain.

Saat ini, dia mulai beraktivitas di luar rumah tetapi masih menghindari pertemuan besar di tempat umum dan masih tetap bekerja dari rumah, “Jika gejala Anda tidak mengancam jiwa, cukup tinggal di rumah, berobat dengan obat-obatan yang ada, minum banyak air, banyak istirahat, dan menonton acara yang ingin Anda tonton,” katanya.

Meski begitu, dia memperingatkan bahwa penting untuk tetap mempertimbangkan individu dengan tingkat risiko tinggi agar tetap tinggal di rumah dan tidak beraktivitas di luar itu.

“Jelas itu bukan sesuatu yang sama sekali tidak dipedulikan, karena banyak orang yang berusia lanjut atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Ini berarti bahwa kita harus ekstra waspada tentang tinggal di rumah dan mengasingkan diri dari orang lain,” ujarnya.

Pada akhirnya, Schneider meminta agar masyarakat tidak panik terkait kasus Covid-19 yang sedang terjadi. Dia juga mengimbau bagi warga yang merasa memiliki gejala penyakit ini untuk segera memeriksakan diri ke dokter dan rumah sakit.

Saat ini, dia bahkan membantu United Way of King Country sebuah organisasi nonprofit dalam mengumpulkan dana untuk membantu keluarga yang terkena dampak penutupan akses karena penyebaran virus corona yang cepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
obat, Virus Corona

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top