Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

HARI ARSITEKTUR INDONESIA: Menjaga Daya Saing Arsitek Anak Bangsa

Industri dan ekosistem arsitektur di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi untuk menciptakan industri arsitektur yang mapan.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  16:00 WIB
Arsitek sedang bekerja - Istimewa
Arsitek sedang bekerja - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – 18 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Arsitektur Nasional. Peringatan hari ini ditujukan untuk mengenang jasa para arsitek yang telah berperan dan turut serta dalam pembangunan Indonesia.

Arsitektur memiliki peranan penting dalam berbagai bidang. Dari sisi pembangunan, arsitektur berperan besar dalam perencanaan dasar sebuah bangunan hingga wilayah tertentu. Tak hanya itu, dalam hal budaya, arsitektur juga menunjukkan karakter bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman.

Kendati begitu, industri dan ekosistem arsitektur di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Berbagai pihak, mulai dari pelaku industri, swasta, asosiasi, dan pemerintah harus bersinergi mendorong perkembangan arsitektur Indonesia yang lebih mapan.

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara mengatakan bahwa persaingan pasar pengguna jasa arsitek di Indonesia kian kompetitif di era seperti sekarang ini, tak hanya melibatkan para pelaku lokal tetapi juga dari luar negeri atau arsitek asing.

Djuhara mengungkapkan dalam hal ini, arsitek Indonesia memiliki kelebihan terkait pemahaman budaya lokal. Hal tersebut, lanjutnya, merupakan faktor penting dalam dunia arsitektur secara umum. “[Pemahaman budaya setempat] itu tidak tergantikan dalam arsitektur,” katanya kepada Bisnis.

Adapun, dia menyebut kekurangan arsitek lokal dibandingkan dengan arsitek luar negeri terletak pada cara kerja yang berbeda. Menurutnya, arsitek luar negeri menerapkan pola kerja yang rigid sementara arsitek lokal lebih santai dan kasual.

Namun demikian, hal tersebut bukan berarti arsitek lokal tidak memiliki profesionalisme. Hanya saja, memang ada banyak toleransi yang dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan, “Bukannya tidak profesional, tapi caranya berbeda antara kita [arsitek lokal] dengan mereka [arsitek luar negeri],” (Seri selanjutnya: Arsitek Lokal Dilirik)

1 dari 3 halaman

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

arsitektur ikatan arsitek indonesia
Editor : Novita Sari Simamora

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top