Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengapa Film Saduran Buku Laris Manis?

Jelang Hari Film Nasional pada 30 Maret mendatang, data dari Film Indonesia menunjukkan film 'Milea: Suara dari Dilan' karya Pidi Baiq masih menduduki peringkat pertama pada perolehan penonton terbanyak tahun ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  10:38 WIB
Ilustrasi film -
Ilustrasi film -

Bisnis.com, JAKARTA – Jelang Hari Film Nasional pada 30 Maret mendatang, data dari Film Indonesia menunjukkan film ‘Milea: Suara dari Dilan’ karya Pidi Baiq masih menduduki peringkat pertama pada perolehan penonton terbanyak tahun ini.

Posisi film ini disusul dengan film ‘Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini’ yang juga merupakan salah satu film hasil saduran novel yang ditulis oleh Marchella Febritrisia Putri. Dua peringkat raihan penonton terbanyak sepanjang tahun ini seolah memberi sinyal masa depan film buatan anak Indonesia sangat bergantung dari kepopuleran buku atau novel. Benarkah demikian?

Berdasarkan buku ‘Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia’ yang ditulis Eric Sasono dan tim, tujuan film dibuat tentu untuk ditonton oleh sebanyak mungkin penonton guna mendulang keuntungan. Oleh sebab itu, kepuasan penonton adalah kunci meraih keuntungan.

Masih dalam buku yang sama, Finola Kerringan, salah satu Professor Marketing and Consumption sekaligus Head of Department of Marketing University of Birmingham menjelaskan, kepuasan penonton atau konsumen tidak bisa didapat dengan bertanya tentang apa yang mereka mau lantas membuatnya. Sebaliknya, produsen film harus membuat film yang mengandung teknik dan/atau nilai artistik yang tinggi dan memposisikan film-film ini sepatutnya untuk menatik pasar yang ditargetkan.

Artinya, film marketer harus punya pemahaman jenis penonton yang berbeda-beda dan bagaimana mengikat mereka. Hal ini membutuhkan sebuah kemampuan segmentasi penonton, sehingga para sineas bisa memperkirakan ekspektasi mereka terkait genre, gaya, dan sebagainya dalam film yang akan diproduksi (Kerrigan: 2010, halaman 6).

Kondisi ini membuat para sineas harus mampu bertahan dalam bisnis film yang kerap berubah. Beberapa cara yang bisa dilakukan pembuat film dalam mengembangkan produk terbarunya adalah skema New Product Development (NPD).   

Finola Kerringan pun lantas mengadopsi kategori NPD dari Hall untuk menganalisa pemasaran film. Dia membagi lima jenis pendekatan untuk pengembangan film dengan skema NPD di Indonesia. Salah satunya adalah film dari buku yang tengah laris manis. Berikut 5 jenis film dengan pendekatan NPD.

1 dari 6 halaman

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film
Editor : Mia Chitra Dinisari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top