Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hati-hati Gangguan Psikosomatik Saat Pandemi Corona

Gangguan psikosomatik bisa saja muncul selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tengah pandemi virus Corona.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  21:33 WIB
Kesepian - boldsky.com
Kesepian - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pembatasan sosial yang berlaku karena adanya virus corona berpengaruh pada kondisi psikologis masyarakat dan berujung pada psikosomatik.

Psikosomatik adalah suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik.

Psikolog Gisella Tani Pratiwi mengatakan tak sedikit kliennya mengaku mengalami gangguan tidur, makan, hingga merasa sedih terus menerus, seiring imbauan untuk tetap di rumah untuk mengantisipasi infeksi Covid-19.

"Ada gangguan di badan, lebih cepat capek pegel, itu dampak lanjutan yang masih tidak normal," ujarnya beberapa waktu lalu.

Gangguan tersebut tergantung pada kondisi setiap orang. Apabila memandang situasi ini dengan tetap berpikiran positif, misalnya mengembangkan hobi pada waktu di rumah saja, diyakini keluhan tersebut tidak akan terjadi. Walaupun di dalam hati dan pikiran sedikit ada rasa cemas.

Sementara bagi mereka yang mengalami gangguan psikosomatik, mudah melihat sesuatu dari sisi sulit. Hal ini juga dipicu pengalaman masa lalu.

"Kerentanan traumatis. Sehingga ketika ada situasi saat ini, memicu masalah yang tadinya potensial, jadi beneran muncul," sebut Gisella.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk tetap tenang? Dia menerangkan para individu harus mengenali rasa cemasnya. Biasanya rasa cemas muncul diiringi dengan keringat dingin dan berpikiran yang berlebihan. Terkadang disertai emosi yang memicu jantung tiba-tiba berdegup kencang.

"Biasanya emosi datang sebagai mekanisme bertahan dan mencari cara lebih efektif," imbuhnya.

Pada tahap ini, Gisella menyarankan bila terjadi hal tersebut, bisa melakukan teknik stabilisasi. "Bisa tarik nafas, minum air putih, cari tempat, untuk menetralisir," tuturnya.

Sementara itu, Gisella mengingatkan terkadang gejala tersebut mirip dengan cabin fever. Adapun cabin fever adalah istilah yang menggambarkan berbagai perasaan negatif akibat terlalu lama terisolasi di dalam rumah atau tempat tertentu. Misalnya pada masa karantina ini sering merasa cepat lelah, sulit tidur, kebanyakan tidur, kebanyakan makan, kekurangan makan, atau cemas.

Namun cabin fever belum termasuk gangguan psikologis. Jika mengalami perubahan mood seperti tiba-tiba sedih, marah, dan menyebabkan pekerjaan terbengkalai, Gisella mengatakan mereka harus segera berkonsultasi dengan profesional self care.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top