Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tanpa Lockdown, Virus Corona Bisa Jangkiti 500 Juta Orang

Jurnal Nature menunjukkan bahwa jumlah korban virus mematikan tersebut akan jauh lebih banyak tanpa penerapan lockdown, social distancing, pembatasan perjalanan, dan intervensi lainnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 09 Juni 2020  |  09:12 WIB
Tanpa Lockdown, Virus Corona Bisa Jangkiti 500 Juta Orang
Pasien virus corona - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Lockdown dan langkah-langkah lain untuk menjaga kesehatan publik kemungkinan telah mencegah terjadinya sekitar setengah miliar kasus infeksi virus Corona (Covid-19) di enam negara, termasuk China dan Amerika Serikat.

Hingga Selasa (9/6/2020), jumlah kasus Covid-19 telah melampaui 7 juta di seluruh dunia, dengan lebih dari 400.000 di antaranya meninggal dunia.

Analisis dari dampak kebijakan-kebijakan kesehatan yang dipublikasikan Senin (8/6/2020) di jurnal Nature menunjukkan bahwa jumlah korban virus mematikan tersebut akan jauh lebih banyak tanpa penerapan lockdown, jaga jarak sosial (social distancing), pembatasan perjalanan, dan intervensi lainnya.

“Tampaknya, sedikit penundaan dalam penerapan kebijakan kemungkinan membuahkan hasil kesehatan yang berbeda secara dramatis di berbagai negara,” ujar penulis utama makalah tersebut dari University of California, Berkeley, Solomon Hsiang.

Di dalam penelitian mereka, para penulis membuat perbedaan antara terhindarnya jumlah kasus yang mungkin telah dilaporkan dan jumlah kasus yang tidak pernah didiagnosis.

Menurut riset tersebut, banyak kasus infeksi Corona relatif ringan dan sebagian besar dari sekitar 500 juta kasus yang terhindari akan tidak terdeteksi.

Berikut ini perincian perkiraan kasus yang mungkin telah dihindari oleh negara-negara:

- China: 37 juta kasus dikonfirmasi, total 285 juta kasus

- Korea Selatan: 11,5 juta dikonfirmasi, total 38 juta

- Italia: 2,1 juta dikonfirmasi, total 49 juta

- Iran: 5 juta dikonfirmasi, total 54 juta

- Prancis: 1,4 juta dikonfirmasi, total 45 juta

- Amerika Serikat: 4,8 juta dikonfirmasi, total 60 juta

Studi ini menemukan bahwa isolasi di rumah, penutupan bisnis, dan lockdown menghasilkan manfaat yang paling jelas. Sementara itu, pembatasan perjalanan dan larangan berkumpul memberi hasil yang baik di Italia dan Iran, meskipun dampaknya kurang jelas di AS.

Tidak ada bukti kuat bahwa penutupan sekolah berpengaruh di negara mana pun, dan tim peneliti mengatakan bahwa harus dilakukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui dampak keputusan membuka ataupun menutup sekolah.

“Kebanyakan langkah intervensi membutuhkan tiga pekan untuk mencapai dampak penuhnya. Kini, dengan sejumlah negara sedang melonggarkan kebijakannya, mungkin beralasan bagi kami untuk memperkirakan sinyal dari munculnya persebaran baru dengan kerangka waktu dua hingga tiga pekan,” jelas Hsiang.

Sebuah laporan terpisah di Nature memaparkan bahwa lockdown, penutupan sekolah dan tindakan lainnya yang bersifat nonfarmasi mungkin telah menyelamatkan 3,1 juta jiwa di Eropa saja.

Studi dari Imperial College London memperkirakan pengurangan transmisi virus meningkat hingga 4 Mei berdasarkan data gabungan dari 11 negara Eropa, termasuk Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, dan Belgia.

“Data ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi apapun, seperti lockdown dan penutupan sekolah, kemungkinan akan ada lebih banyak kematian akibat Covid-19,” tutur Samir Bhatt, salah satu penulis studi itu, dalam sebuah pernyataan.

“Pertimbangan yang hati-hati sekarang harus diberikan pada langkah-langkah lanjutan yang diperlukan untuk menjaga transmisi virus Corona jenis baru itu tetap terkendali,” tambahnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

covid-19 Lockdown

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top