Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Cara Antisipasi Keterlambatan Motorik Kasar Pada Anak

Para orang tua bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan memenuhi nutrisi anak yang bisa didapatkan dari ASI atau susu pendamping, serta makanan padat.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 07 Juli 2020  |  18:23 WIB
Kemampuan anak akan meningkat seiring adanya pemunuhan gizi dalam kehidupan sehari-hari - ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Kemampuan anak akan meningkat seiring adanya pemunuhan gizi dalam kehidupan sehari-hari - ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA - Keterlambatan motorik kasar anak pastinya membuat para orang tua cemas. Apalagi jika hal ini dibandingkan dengan anak-anak di usianya.

Keterampilan motorik kasar adalah gerakan besar yang dilakukan oleh anak dengan menggunakan otot besar, seperti lengan, kaki atau badan. Gerakan tersebut seperti merangkak, berjalan, berlari, dan melompat.

Ahli Gizi KalCare, Mela Dwi Kusuma, mengatakan ada beberapa penyebab keterlambatan perkembangan motorik kasar pada anak. Pertama adalah faktor perinatal, bayi lahir prematur. Kedua, faktor postnatal atau problem makan sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi secara optimal. Terakhir yakni faktor dalam keluarga atau perkembangan terlambat dan kurangnya stimulasi pada Si Kecil.

Untuk mengetahui penyebab pasti keterlambatan motorik kasar, sebagai langkah awal Mela menganjurkan agar para orang tua melakukan skrining atau pemeriksaan singkat untuk mengetahui adanya penyimpangan dari perkembangan normal.

"Diharapkan gangguan perkembangan pada anak dapat terdeteksi secara dini dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan perkembangan yang lebih teliti. Uji skrining yang paling luas dikenal adalah DDST (Denver Development Screening Test)," tuturnya dalam diskusi beberapa waktu lalu.

Sementara itu, ada baiknya para orang tua bisa mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil dengan memenuhi nutrisi anak yang bisa didapatkan dari ASI atau susu pendamping, serta makanan padat.

ASI, kata Mela tetap bisa diberikan kepada i Kecil sampai usia 2 tahun. Berikan juga pola makan sehat dan seimbang yang mengandung zat gizi makro dan mikronutrien serta jumlahnya  disesuaikan dengan kalori yang dibutuhkan sesuai dengan usia anak.

"Kebutuhan kalori setiap anak pun berbeda-beda, Mom dapat berkonsultasi dengan Ahli Gizi untuk dapat memberikan nutrisi yang tepat bagi Si Kecil," tuturnya.

Selain itu, Mela menyebut jangan pernah mengabaikan makronutrien. Beberapa penelitian menyebutkan bila pemberian kalsium, besi, dan vitamin A bila dikombinasikan dengan protein dapat bermanfaat bagi pertumbuhan Si Kecil. Cara  mudah untuk memenuhi mikronutrien pada anak, bisa dengan memberikan susu yang telah difortifikasi dengan vitamin serta mineral yang dibutuhkan anak.

Kemudian, lakukan aktivitas fisik. Bermain bersama antar orang tua dengan anak dapat meningkatkan kedekatan dan menjadi sarana stimulasi untuk Si Kecil.

Selanjutnya lakukan pemeriksaan berkala agar orang tua dapat mendeteksi lebih dini apakah terdapat keterlambatan atau  gangguan pada tumbuh kembang Si Kecil. Pemeriksaan yang dapat dilakukan berupa pemantauan status gizi dan skrining tumbuh kembang anak.

Terakhir, stimulasi yang dapat diberikan kapanpun dan dimanapun. "Berikanlah stimulasi yang sesuai dengan usia Si Kecil. Bunda dapat melakukan identifikasi kecerdasan Si Kecil agar pemberian stimulasinya tepat sesuai dengan kecerdasan yang ingin diasah," tukas Mela.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak orang tua kesehatan anak
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top