Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cerita di Balik Uji Klinis Herbal Immunomodulator: Semua Subjek Sembuh

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania menyebut subjek yang diuji coba mendapatkan hasil positif.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  11:33 WIB
Herbal - johntsagaris.co.uk
Herbal - johntsagaris.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA - Uji klinis herbal immunomodulator yang dilakukan tim peneliti dari Indonesia memang menunggu 1-2 bulan lagi untuk mendapatkan hasil yang valid. Namun dalam proses uji coba itu, kabar baik diterima para ahli.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania menyebut subjek yang diuji coba mendapatkan hasil positif.

"Yang paling membahagiakan subjek penelitian kita sembuh. Hasil sementara bisa kita katakan subjeknya sembuh," ungkapnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, pihaknya perlu membuktikan atau memverifikasi faktor terbesar apa yang membuat para pasien sembuh. "Apakah herbal immunomodulatornya cukup berikan kontribusi yang signifikan nggak," imbuhnya.

Adapun dalam fase uji klinis, pasien atau subjek diberikan dosis herbal immunomodulator 3 kali sehari selama 14 hari. Dari proses itu, ada subjek yang sembuh cepat yakni dalam waktu 5 hari, dan terlama 13 hari.

Subjek berusia dewasa yakni 18-50 tahun. Mereka memiliki Covid-19 dengan gejala ringan dan tidak disertai penyakit lain maupun bawaan. "Kriteria inklusi ya tidak boleh dalam kondisi hamil dan menyusui, tidak ada penyakit lain seperti diabetes, jantung, tipes, DBD. Karena kita benar-benar mau meneliti Covid-19 saja," jelas Inggrid.

Terdapat ada 2 kandidat immunomodulator yang diuji klinis. Kandidat pertama yakni jamur cordyceps militaris yang berasal dari Tibet namun sudah dibudidayakan di Indonesia dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Jamur ini bisa meningkatkan kekebalan, stamina, dan megurangi gejala gangguan pernapasan.

Produk kedua yakni kombinasi ekstrak jahe merah, mengiran, sambiloto, dan daun sembung. Keempat herbal ini sebelumnya sudah memiliki izin edar dari BPOM.

Mengiran dipercaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh, anti peradangan, dan mengurangi gejala pernapasan. Herbal ini juga memiliki sifat antivirus walaupun belum diuji spesifik terhadap virus SARS-CoV-2.

Jahe merah, lanjut Inggrid, bisa meningkatkan imunitas. Sementara sambiloto juga bersifat antivirus, sedangkan daun sembung dengan pengalaman nenek moyang, bisa mengurangi keluhan di saluran pernapasan, batuk, demam, serta pilek.

Penelitian ini dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, dan tim dokter Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran dengan pendampingan regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat tradisional obat herbal
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top