Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tren Bunuh Diri Remaja, Begini Cara Orang Tua Mencegahnya

Baru saja kita mendengar satu lagi bintang Korea Selatan, Oh In-hye meninggal setelah melakukan aksi percobaan bunuh diri.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 15 September 2020  |  17:38 WIB
Ilustrasi bunuh diri
Ilustrasi bunuh diri

Bisnis.com, JAKARTA - Bagi orang tua mana pun, mimpi buruk terbesar adalah menyaksikan kematian anak mereka, lebih buruk lagi jika itu dilakukan sendiri. 

Baru saja kita mendengar satu lagi bintang Korea Selatan, Oh In-hye meninggal setelah melakukan aksi percobaan bunuh diri. Sebelumnya ada nama Idol Kpop terkenal seperti Go Hara dan Sulli yang melakukan hal serupa. 

Tetapi berdasarkan statistik resmi, tingkat bunuh diri remaja melonjak dan ada banyak orang tua yang putus asa mencari jawaban atas apa yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya. 

Berbicara tentang bunuh diri remaja, penting untuk terlebih dahulu memahami pikiran mereka. Ini adalah keluhan umum dari kebanyakan orang tua remaja bagaimana anak mereka yang tenang dan mudah ditebak berubah menjadi remaja yang pemberontak dan agresif. Itu terjadi karena otak anak mengalami perubahan dramatis selama masa remaja, yang membuat pikiran mereka kacau balau. Sederhananya, otak remaja bukanlah otak orang dewasa yang berkembang sepenuhnya.

Koneksi otak seorang remaja berkembang pesat dan dapat memiliki efek samping tertentu dan itulah alasan sejumlah besar gangguan mental seperti kecemasan, gangguan makan, dan gangguan lainnya muncul selama masa remaja.

Dr Gauri Karkhanis, konsultan psikolog klinis dan sosial, Nanavati Super Speciality Hospital, menjelaskan, remaja mengalami krisis identitas karena pikiran dan tubuh berubah. Mereka bingung dan mencoba memahami siapa mereka secara mental dan juga fisik. "Dan remaja yang tidak memiliki sistem pendukung yang sehat dan keterampilan mengatasi sering menyerah pada pikiran untuk bunuh diri," ujarnya seperti dilansir dari Times of India, Selasa (15/9/2020).

Dokter Konsultan dari Rumah Sakit Global BGS Gleneagles, Bengaluru,  Dr Siri Kamath, menambahkan bahwa anak-anak selama masa remaja mengembangkan rasa identitas baru, ide-ide baru mengenai apa yang ingin mereka capai dalam hidup mereka. Pada saat anak mencapai usia remaja, orang tua telah membentuk gagasan yang kuat tentang bagaimana seharusnya perilaku anak sehari-hari dan apa yang harus dicapai anak dalam hidupnya. Tak jarang para orang tua membandingkan mereka pada remaja lain. "Di sinilah kekecewaan muncul," imbuhnya

Banyak ahli kesehatan mental merasa bahwa masalah kesehatan mental yang mendasarinya sering kali dikesampingkan ketika penyebab kematian sedang dinilai. Prakriti Poddar, Ahli Kesehatan Mental dan MD di Poddar Foundation mengatakan salah satu penyebab utama bunuh diri sering disebut sebagai kegagalan dalam pemeriksaan. 

Orang tua dan otoritas investigasi biasanya tidak melihat lebih jauh. “Namun, sudah saatnya kita membahas fakta bahwa banyak remaja yang bunuh diri memiliki masalah kesehatan mental yang mendasarinya. Remaja sering kali mengalami kesulitan menghadapi stres, yang disebabkan oleh kegagalan, penolakan, dan kekacauan keluarga," jelasnya.

Poddar menambahkan remaja seringkali tidak dapat melihat bahwa mereka dapat mengubah hidup dan bunuh diri tampaknya menjadi solusi permanen untuk masalah yang sebenarnya bersifat sementara. 

Lantas bagaimana orang tua mengatasinya?

Dr Kamath menyebut kemampuan dan kelayakan seorang anak dinilai hanya berdasarkan prestasi akademis dan masyarakat secara umum tidak cukup berpikiran terbuka untuk menghormati prestasi non-skolastik. Pendapat menghakimi yang sangat terpolarisasi dalam keluarga dapat menyebabkan kekecewaan dan situasinya mungkin tampak tidak dapat diatasi bagi beberapa anak, menyebabkan mereka mengambil langkah ekstrem untuk bunuh diri. 

Beberapa faktor risiko yang paling umum termasuk depresi, menjadi korban pelecehan seksual, pelecehan fisik, kecanduan, penindasan, marginalisasi karena orientasi seksual, dan riwayat bunuh diri dalam keluarga. Orang tua perlu mewaspadai tanda-tanda yang jelas dari kecenderungan bunuh diri, termasuk pembicaraan tentang bunuh diri, penarikan diri dari pergaulan, perubahan suasana hati, penggunaan narkoba, perubahan dalam rutinitas, perilaku merusak diri sendiri, kecemasan parah, dan perubahan kepribadian.

Dr Gauri menambahkan, sebagai orang tua, selalu penting untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka harus memiliki sikap tidak menghakimi sehingga anak dapat berbicara dengan mereka tentang suatu masalah dengan bebas. "Sadarilah perubahan mereka dan miliki empati. Bimbing mereka dan beri tahu mereka bahwa tidak apa-apa menjadi tidak ok," tegasnya.

Menurut Gauri tidak apa-apa untuk merasa sedih. Beri mereka ruang yang cukup untuk menangani masalah mereka, sambil terus memberikan dukungan. Ada kalanya anak mungkin tidak bisa curhat kepada orang tua, jadi bawalah mereka ke ahlinya. Tujuannya adalah untuk membantu mereka melewati situasi dan waktu yang sulit. 

Orang tua memiliki dorongan terus-menerus untuk melindungi anak-anak mereka dari rasa sakit atau kegagalan apa pun, tetapi ini idealnya harus dilihat sebagai kesempatan untuk belajar. Peran orang tua harus dibatasi untuk memberikan dukungan dan cinta, dan remaja harus diizinkan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bom bunuh diri parenting
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top