Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

117 Dokter dan Tenaga Kesehatan Gugur Lawan Covid-19

Indonesia belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama pandemi virus corona (Covid-19) dikarenakan ketidakdisiplinan protokol kesehatan yang masif.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 18 September 2020  |  15:46 WIB
Dokter di rumah sakit darurat COVID-19 RS Pertamina Jaya Jakarta menggunakan alat pelindung diri (APD). - Antara/M. Risyal Hidayat
Dokter di rumah sakit darurat COVID-19 RS Pertamina Jaya Jakarta menggunakan alat pelindung diri (APD). - Antara/M. Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah kematian dokter dan tenaga kesehatan Indonesia akibat virus corona (Covid-19) telah mencapai 117 dokter.

Mengutip data dari Ikatan Dokter Indonesia hingga Jumat (18/9/2020), Ketua Tim Mitigasi PB IDI, Adib Khumaidi mengatakan angka kematian dokter yang semakin cepat dan tajam ini menunjukkan masyarakat masih  abai terhadap protokol kesehatan yang diserukan oleh para tenaga kesehatan dan pemerintah.

"Kami mewakili seluruh tenaga kesehatan di Indonesia memahami bahwa ada kebutuhan ekonomi yang juga perlu diperhatikan," tulisnya dalam keterangan resmi.

Adib meminta masyarakat agar masyarakat lebih peduli untuk menjaga protokol kesehatan. Dia menyarankan agar dokter sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19 ini agar disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam setiap aktifitas kesehariannya.

"Hal ini bukan hanya untuk keselamatan para tenaga kesehatan, tetapi juga keselamatan diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar. Pandemi ini tidak akan pernah berakhir apabila tidak disertai peran serta semua elemen masyarakat," ungkapnya.

Adib menyebutkan 117 dokter yang berguguran menjadi pekerjaan besar untuk tetap bisa memberikan layanan proporsional dalam pelayanan kesehatan.

"Indonesia bahkan belum mencapai puncak pandemi gelombang pertama pandemi ini dikarenakan ketidakdisiplinan protokol kesehatan yang masif. Apabila hal ini terus berlanjut, maka Indonesia akan menjadi episentrum Covid dunia - yang mana akan berdampak semakin buruk pada ekonomi dan kesehatan negara kita," tuturnya.

Eka Ginanjar, selaku Ketua Tim Protokol Tim Mitigasi PB IDI mengatakan bahwa jumlah kematian masyarakat dan tenaga kesehatan di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia.

Dia menyarankan kepada masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan dan perilaku 3M yaitu selalu Mengenakan Masker, Menjaga Jarak, dan rajin Mencuci Tangan dengan benar, maka tingkat penularan dan kematian di semua lapisan dapat ditekan sebagaimana halnya di negara lain.

Studi ilmiah yang dipublikasikan di The Lancet menyebutkan bahwa penggunaan alat pelindung diri dalam protokol kesehatan sangat membantu mencegah penularan. Dengan Menjaga Jarak selama sekurangnya 1 (satu) meter, dapat mencegah penularan hingga 82 persen. Penggunaan masker sesuai standar dapat mencegah penularan hingga 85 persen.

Sementara itu, penggunaan face shield saja hanya mencegah hingga 78 persen. Namun akan lebih baik lagi apabila selain menggunakan masker juga sekaligus  face shield.

"Kasus penularan yang terkontrol di masyarakat akan mengakibatkan kolapsnya sistem kesehatan yang ditandai dengan tingginya tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 dan sulitnya mencari tempat perawatan," ungkap Eka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indonesia dokter Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top