Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Jadi Era Kejayaan Tren Tie-Dye

Baru-baru ini popularitas tie-dye melonjak pesat karena tren telah bergeser dari pola woodsy dan folksy menjadi tren yang lebih berwarna dan cerah.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 22 September 2020  |  17:07 WIB
Tren Tye Die
Tren Tye Die

Bisnis.com, JAKARTA -- Saat Anda melihat tie-dye, Anda mungkin berpikir tren di tahun 60-an. Pola pada pakaian yang trippy dan warna-warni dengan vibe hippie, tren tie-dye cukup abadi. Siapa yang tidak menyukai percikan warna dalam hidup mereka?

Baru-baru ini popularitas tie-dye melonjak pesat karena tren telah bergeser dari pola woodsy dan folksy menjadi tren yang lebih berwarna dan cerah. Dan sekarang kita berada pada titik di mana hal-hal yang populer di akhir tahun 90-an dan tahun 00-an kembali populer, tas pinggang, bucket hat, oversize sweats, dan lain lain.

Jadi apa yang memicu kelahiran kembali tie-dye sampai sejauh ini? Satu hal yang mungkin membuat tie-dye populer adalah prosesnya yang menyenangkan untuk menghabiskan hari.

"Semua orang mencari hobi baru selama masa karantina, dan kami tidak selamanya dapat memanggang roti atau kue. Keluarga dengan anak-anak membutuhkan cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu, dan tie-dies adalah cara yang bagus untuk melakukannya," seperti dikutip melalui Promo Marketing, Selasa (22/9).

Pada bulan Juli, Majalah Oprah bahkan menyebut tie-dye sebagai "seragam tidak resmi pandemi".

Minat pada "loungewear tie dye" naik 5.000 persen sejak tahun lalu. Volume pencarian mulai melonjak pada bulan Maret, sekitar waktu tindakan karantina nasional diberlakukan dan pekerja non-garis depan mulai menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru tinggal di rumah.

Di Pinterest, minat pada istilah "tie dye crafts" telah tumbuh 13 kali lipat sejak Juni lalu. Dan, penelusuran untuk "tie dye at home” telah meningkat lebih dari 462 persen sejak kali ini tahun lalu, menurut Larkin Brown, Pinterest Experience Researcher dan In House Stylist.

Tren pakaian dengan motif tie dye juga berkembang pesat di Indonesia. Setiap kali kita membuka media sosial atau platform e-commerce setidaknya ada lebih dari tiga brand yang menawarkan fashion item ini.

"Meskipun tie-dye adalah salah satu bentuk kain dekorasi paling kuno — dengan akar di India, Jepang, Indonesia, dan Afrika Barat, inkarnasi saat ini mengingatkan pada style yang sering kita lihat di tahun 60-an," menurut Amber Butchart, sejarawan mode dan pencipta A Stich in Time, dikutip melalui Oprah Magazine.

Direktur Gaya Majalah Oprah, Adam Glassman mengatakan bahwa pola tie-dye memberi kita kenyamanan dan mengingatkan mereka yang hidup pada di akhir tahun 60-an dan awal 70-an tentang waktu yang lebih menyenangkan.

“Generasi muda selalu tertarik pada gaya 'vintage atau throwback', tetapi kali ini warnanya lebih modern dan segar — banyak yang dicampur dengan warna putih, dan warna pastel atau permen," ujarnya.

Dengan begitu banyak kemeja tie-dye yang ditambahkan ke lemari, baik dari proyek eksperimen di rumah atau produk desainer kelas atas, tren warna mencolok ini benar-benar kembali ke zeitgeist mode.

Tentu saja, mengenakan pakaian tie dye bukanlah rahasia untuk membuat kita tetap kuat selama periode ketidakpastian besar ini.

Tetapi aktivitas apa pun yang memicu sedikit kebahagiaan — baik itu meneteskan pewarna ke kaus lama, atau menghabiskan waktu berbelanja kemeja obral adalah upaya yang layak dicoba.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fashion tren fashion
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top